Belajar Menjadi Seorang Travel Writer dari Teguh Sudarisman

Assalamualaikum Sahabats ….

Semenjak mantab menjadi seorang travel blogger (ala-ala), aku terus semangat mengasah kemampuan menulis kisah perjalanan. Aku pengen banget suatu saat nanti bisa juga menjadi travel writer yang tulisannya dibukukan, nampang di berbagai inflight magazine, dan majalah traveling. Yes … it is my dream to be a travel writer, the best job in the world.

Selain menulis di blog pribadi aku ini, aku nggak pernah menyia-nyiakan kesempatan menulis cerita perjalanan di berbagai media. Aku mulai memperbanyak bacaan tentang traveling, dari mulai buku panduan, cerita perjalanan, sampai beli majalah traveling. Semua demi mempelajari bentuk tulisan perjalanan yang asyik dibaca. Dari sanalah aku mulai belajar menulis cerita perjalanan. Alhamdhulilah meskipun belum banyak si tulisanku yang nampang di media, tapi ada beberapa lah yang cukup membanggakan. Aku mulai menjadi kontributor di beberapa website jalan-jalan. Ada yang gratisan, ada pula yang berbayar. Salah satu yang bikin happy adalah bisa menjadi kontributor tetap di Majalah CANDI, majalah Pariwisata milik Disporapar Jateng.

Setiap penulis pasti punya dong penulis panutan, apalagi penulis pemula macam aku gini. Dari semua buku bergenre traveling yang aku punya, ada satu penulis yang sejak dulu aku jadikan panutan. Tulisannya sudah terpampang dimana-mana, pun wajahnya yang pasti udah nggak asing terutama bagi para blogger. Dia rajin memberi pelatihan travel writing dan vlog. Pengalaman menulisnya sudah nggak ada yang meragukan, dan entah berapa banyak negara yang sudah pernah dijelajahinya berkat kemampuan menulisnya yang juara. Yes, you know him, Teguh Sudarisman. Aku yakin mbak Irfa Hudaya, sang penulis kondang dan mbak Dani Ristyawati juga udah kenal banget sama beliau. πŸ™‚

with him πŸ™‚

LOW PROFILE AND EASY GOING, THAT IS HIM

Aku inget banget berkat Travel Writer Diaries 1.0 yang merupakan karyanya sudah pernah aku ulas di sini, aku yang tadinya cuma secret admirer, bisa mengenal beliau secara langsung. Mas Teguh, begitu aku sekarang biasa menyapa beliau, membaca postinganku dan langsung memfollow aku twitterku. Gimana nggak bungah hati ini coba, di follow penulis favorit. Semangat menulis cerita perjalanan jadi makin membara akhirnya. Sejak saat itu aku janji pada diri sendiri akan mewujudkan mimpi menjadi travel writing dan suatu saat nanti bukuku bakalan nangkring di Gramedia. Alhamdhulilah sudah tercapai. πŸ™‚

baik panitia, tempat, pemateri, dan pesertanya semua gokiil πŸ™‚

Honestly, awalnya aku meniru gaya penulisan mas Teguh dalam membuat catatan perjalanan. Tulisan mas Teguh itu menurutku unik dan personal banget. Pilihan diksinya beragam dan asyiknya lagi beliau bisa memasukkan beberapa data tentang objek tulisannya dan kita sebagai pembaca sama sekali nggak merasa bosan membacanya. Ada pengalaman pribadi yang selalu disisipkan dalam tulisannya sehingga membuat kita bisa merasakan langsung apa yang dituliskan dalam cerita.

 

“Tak seperti rafting biasa yang memakai perahu karet, yang akan kami lakukan adalah mengambang mengikuti arus sungai. Start-nya dari bagian hulu ini, dan tujuan akhirnya sekitar enam kilometer ke hilir, ke lokasi yang biasa digunakan para turis untuk menikmati keindahan Green Canyon. Jadi, berbeda dengan turis biasa yang berkunjung ke Green Canyon melalui pintu depan, kami akan melakukannya lewat pintu belakang.” (hal : 95)

Begitu memasuki tenda spa dan disambut sang terapis, suasana nyaman langsung menyapa. Tendanya sama besar dengan tempat saya menginap, tetapi tempat tidurnya diganti dengan tempat tidur kecil untuk massage. Masing-masing dilapisi batik Sumbawa yang terasa sejuk.” (hal: 251)

 

Mas Teguh yang ternyata kakak satu almamater dari Undip ini sering mengadakan pelatihan menulis. Dan setiap kali tempatnya terjangkau olehku, pasti aku sempatkan datang. Pengen dong menggali ilmu penulisan langsung dari sumbernya. Pelatihan di Mesastila Spa and Resort, Magelang, adalah pertama kalinya aku bertemu beliau secara langsung. Langsung dong foto bareng, plus menghadiahkan mas Teguh buku Jelajah Banda Aceh – Sabang ku yang waktu itu baru saja release. Setelah pertemuan itu, beliau bahkan mempercayakan aku untuk menulis sebuah artikel di Infligh Kalstar Aviation, yang dikelola langsung oleh beliau. Pengen banget nih, kapan-kapan urun artikel lagi disana mas. #kodekeras

Pernah sekali beliau ke Semarang dan langsung mengabari aku. Hari itu kelas aku bubarkan lebih awal demi bisa ketemu mas Teguh. Apalagi beliau ngajakin aku mengeksplor Studio Batik 16, yang memproduksi Batik Khas Semarang yang sempat punah. Asyik banget bisa menjelajah Batik 16 ditemani seorang Master Travel Writing. Semoga next time ada kesempatan bisa jalan bareng dan menimba ilmu dari mas Teguh lagi.

You become a better writer by writing. You become a better travel writer by writing about travel.Doakan bisa selalu istiqamah belajar menulis catatan perjalanan ya sahabats. Aku pengen bisa mengikuti jejak mas Teguh Sudarisman, travel writer yang jadi panutanku. Kalau sahabats siapa sih penulis favoritnya?? Share dong. πŸ™‚

Teguh Sudarisman aja punya buku aku, kamu juga dong πŸ™‚
Be Sociable, Share!

7 Replies to “Belajar Menjadi Seorang Travel Writer dari Teguh Sudarisman”

  1. Wah asyik banget ya mbak bisa kenal secara personal dengan penulis favorit..selain memperluas koneksi juga bisa menimba ilmu secara langsung πŸ˜€

  2. Ketika kita belum/tidak pernah mengalami pendidikan kepenulisan/jurnalistik, maka ketika ada kesempatan belajar langsung dengan pakarnya, itu adalah kesempatan emas. Saat itu saya sudah mau daftar, sayang waktunya kurang pas, bentrokan dengan agenda lain yang tak kalah penting πŸ™

  3. Wah, senangnya bisa kopdar sama penulis favorit ya 😊

  4. Duuh..mudah2an aku juga bs nulis keren seperti kalian berdua! Aamiin…

  5. wah pantas mbak muna jad pinter nulisnya belajarnya sama yg keren

  6. Asik bisa belajar dengan yg udh senior,,,
    Kunbal y

  7. Aku juga suka traveling. Tp berhubung jarang, jd blm bs jadi travel writer hehehe

Leave a Reply