Family Backpacking (3): Assalamualaikum Kuala Lumpur

Assalamualaikum sahabats …
Meskipun sedih karena sempet ketinggalan kereta Singapore – Malaysia, sore itu akhirnya kami meninggalkan Johor Baru juga. Kalau dipikir-pikir sayang juga si udah nyampe JB tapi cuma terkapar di hotel karena kecapean, pengen ke Legoland si abang nggak rela bayar segitu mahal cuma untuk masuk theme park. Nevermind … manusia bisanya bikin itinerary, yang menentukan berhasil atau enggaknya tetap Allah. Semua kita ambil hikmahnya aja deh. πŸ™‚


Nggak perlu meratapi kegagalan terlalu lama toh masih ada Kuala Lumpur yang menanti kedatangan kami. Setelah menggali informasi dari mak Olenka, aku udah siap nih booking hotel di seputaran KL center, ternyata aku berhasil menghubungi saudara yang tinggal di KL. Sejak menikah Lia pindah ke KL karena suaminya memang orang Malaysia. Lia minta kami cari hotel di kawasan Bukit Bintang yang nggak jauh dari kantor suaminya, selain itu Bukit Bintang juga cukup dekat dengan pusatnya Kuala Lumpur bahkan deket banget dari KLCC.

singapore-malay-238

Alhamdhulilah setelah 6 jam duduk di kereta api Malaysia yang ternyata nggak sebagus kereta api di Indonesia kami pun sukses mendarat di KL Sentral. Rupanya Lia sudah menunggu kami di pintu gerbang bersama 2 anaknya. Perjalanan kami lanjutkan dengan monorail menuju Bukit Bintang karena suami Lia masih ada urusan di kantor dan akan menemui kami di hotel. Sayang banget aku nggak foto suasana di dalam monorail. Aku pikir masih ada hari esok untuk kami foto-foto, ternyata Lia dan keluarga sudah berencana mengantar kami jalan-jalan keliling KL. Seneng sih karena lumayan ngurangi biaya transport πŸ˜› tapi sedih juga karena nggak bisa nyicipin transportasi umum di KL.

Setelah makan malam dan jalan-jalan di seputaran Bukit Bintang sambil cari hotel akhirnya kami check in di T hotel. Lumayan juga nih T hotel, bisa dijadikan referensi para backpacker, tarifnya murah dan kamarnya juga bersih. Cuma karena Bukit Bintang memang kawasan yang cukup hidup di malam hari, jadi banyak β€œmbak-mbak nggak jelas” yang berkeliaran disitu, tapi nggak ada kejadian yang nggak senonoh kok. Masih oke lah bawa anak-anak ke kawasan ini asal jangan sampe malam banget yah. πŸ˜‰

Besoknya setelah sarapan kami menunggu Lia dan keluarga kecilnya di lobby. Seandainya kemarin kami nggak nyasar di JB, harusnya agenda kami ke Melaka. Hiks… ya wes lah belum rejeki sepertinya. πŸ™

Begitu mereka sampai kami langsung menyusuri KL. β€œNak singgah kemane ni?” sapa Hakim, suami Lia dengan logat Melayu yang kental.

taman di KLCC yang ijo royo-royo
taman di KLCC yang ijo royo-royo

Hari itu pesen kami cuma 1, terserah mau diajakin kemana aja yang penting tempatnya asyik dan kalau bisa yang tiket masuknya murah. Syukur-syukur gretong. #gakmodalbanget πŸ˜› Eh tapi ini bisa jadi salah satu tips liburan keluar negeri lho. Bukan berarti yang gratis itu nggak oke. Banyak taman kota atau tempat asyik yang gratis dan itulah yang harus didahulukan, yang harus bayar bisa hari berikutnya hahaha. πŸ˜›

So pagi itu dimulai dengan kunjungan singkat ke Menara Petronas di KLCC untuk main-main sebentar di tamannya yang cantik, lanjut ngadem di Suria mall. Nggak perlu lah naik ke KLCC towernya, toh dari luar lebih oke. #ngeles.com πŸ˜› Rencananya nanti malam kami akan balik kesini lagi untuk menikmati suasana KLCC di malam hari. KLCC beres kami mampir ke Masjid Jamek untuk shalat. Awalnya kami pengen ke Taman Burung, tapi lagi-lagi batal karena kalau kami kesana bisa abis deh waktu. Tempatnya kan cukup luas. Oke deh balik ke tempat wisata gratisan aja dulu lah. πŸ˜‰

Museum Negare Malaysia
Museum Negare Malaysia

 

inside the museum
inside the museum

Dari Masjid kami berhenti di Museum Negare Kuala Lumpur. Sebetulnya tarif untuk turis asing 5RM tapi Hakim menyarankan kami berbicara dengan logat Melayu supaya disangka turis lokal. Nadia aja udah langsung fasih gitu ngomongnya. Maklumlah fans berat Upin Ipin sih. Bahkan pertama kali sampai KL yang ditanya Nadia adalah dimana letak Kampung Durian Runtuh?? πŸ˜›

Sedikit tipu daya tadi berhasil dan kami masuk cukup dengan 2RM. Cukup murah ya untuk mempelajari secara singkat sejarah Malaysia sejak zaman Purba sampai sekarang ini. Ada kisah tentang pendudukan Portugis di Malaka, perjuangan meraih kemerdekaan, juga cerita tentang konflik dengan Indonesia yang kalau di Indonesia kita sangat kenali dengan β€œGanyang Malaysia” itu lho. Buat yang hobby wisata sejarah seperti aku pasti suka main kesini karena museumnya lengkap dan bagus.

Oke lanjuuuuttt ……

Next destination adalah Batu Cave. Tempat ibadah Hindu Tamil terbesar di Malaysia. Memang sih tempatnya keren, tapi harus melewati entah berapa ratus anak tangga. Lumayan lah buat mangkas sedikit lemak di badan. πŸ˜› Mungkin akibat dari naik turun ratusan tangga di Batu Cave, acara makan siang hari itu jadi sedkit heboh. Laper boo …. dan lemak yang sudah terpangkas pun kembali lagi. πŸ™

20150325_145147

pintu masuk gua di Batu Cave
pintu masuk gua di Batu Cave

Alhamdhulilah ketemu menu yang mirip banget sama Masam Keueung nya Aceh punya, sejenis masakan berbahan ikan yang dimasak dengan bumbu kari. Maknyuuss deh pokoknya. Syukurlah untuk urusan makan menu Melayu nggak jauh beda sama menu masakan Sumatra pada umumnya. Ya iya laahh… kan masih satu Pulau dan serumpun pula. πŸ˜›

suasana Bukit Bintang di malam hari. makin malem makin rame...
suasana Bukit Bintang di malam hari. makin malem makin rame…

 

Petaling street, tempat belanja barang murah ;)
Petaling street, tempat belanja barang murah πŸ˜‰

Perut udah tenang, saatnya belanja. πŸ™‚ Perjalanan lanjut ke Petaling street di Chinatown, tempat shopping yang menjual segala macam barang murah, termasuk souvenir. Jalan-jalan di Chinatown selesai, Lia mengajak kami ke sebuah mall yang ramee banget, letaknya di kawasan Masjid India. Mall ini adalah milik orang Malaysia keturunan India yang menjual segala macam barang dengan harga murah. Dari mulai coklat sampai kain saree ada disini. Ada juga Milo yang rasanya jauh lebih enak dibanding Milo di Indonesia, juga kopi. #ngiler

Harganya memang murah banget sih, tapi kami cuma bawa 2 ransel yang nggak mungkin diisi banyak barang. Kami juga beli bagasi 1 aja jadi nggak mungkin belanja banyak. πŸ˜› Tips jalan-jalan hemat keluar negeri yang berikutnya: gunakan ransel jangan koper. Selain lebih praktis, ransel juga bisa mengerem keinginan belanja kita karena ruangnya yang terbatas. πŸ˜›

Keasyikan belanja harus diakhiri, anak-anak mulai lapar. Kami langsung cuzz ke nasi kandar Pelita yang menurut mak Olenka enak, tapi ngantrinya panjang bingiiiitsss. Restoran Pelita malam itu penuh pengunjung dan kita kehabisan tempat hiks.  Akhirnya untuk ganjel perut kami beli roti dan camilan di 7 Seven Eleven untuk bekal nonton pertunjukan air mancur di KLCC dan menikmati Petronas di malam hari. πŸ™‚

baru pertama x ketemu tapi udah langsung klop
baru pertama x ketemu tapi udah langsung klop

 

Petronas tower di malam hari
Petronas tower di malam hari

 

mendadak beranak tiga :P
mendadak beranak tiga πŸ˜›

Sebelum balik ke hotel kami diajak ke sebuah bukit jauh diatas kota KL. Menurut Hakim sih belum banyak turis asing yang tahu lokasi ini. Dari bukit ini seluruh kota KL nampak. Lampu-lampu gemerlapan menghiasi langit malam yang gelap, perpaduan yang pas banget. Udara sejuk ditemani secangkir teh tarik hangat dan makan malam. Aiiihhh …. sip tenan deh. πŸ™‚ Turun dari Bukit anak-anak sudah tepar dengan suksesnya, begitu pula kami setelah kembali ke hotel.

view KL dari atas bukit :)
view KL dari atas bukit πŸ™‚

Saking capeknya kami pun bablas ketiduran sampe jam 10 (tapi untung udah shalat subuh lho) πŸ˜‰ Hari itu kami nggak mau lagi merepotkan Lia dan keluarga jadi kami putuskan jalan sendiri aja. Toh kami cuma punya waktu terbatas karena sore itu juga kami akan balik ke Indonesia. Hari terakhir kami habiskan untuk jalan-jalan di mall yang ada di kawasan Bukit Bintang dan wisata kuliner di jalan Alor yang deket banget dari Bukit Bintang. Meksipun bukan nasi kandarnya Pelita, masih sempet juga nyicipi nasi kandar. Aseeeekkk….. πŸ™‚

nasi kandarnya maknyuus lho..
nasi kandarnya maknyuus lho..

Kami check out jam 14.00. Alhamdhulilah boleh molor dikit karena kebetulan resepsionisnya orang Jambi hehehe. Sesama orang Indonesia saling membantu dong.

Dan akhirnya sampailah kami di KLIA2 untuk segera kembali kembali ke tanah air tercinta. Ternyata bener ya kata orang, cobalah keluar negeri dulu, barulah kita mengerti arti cinta tanah air yang sesungguhnya. Ternyata Malaysia tak semegah bayanganku. Banyak pengendara yang nggak disiplin lalu lintas (ini mah sama ya ama kita), taxi nya pun jauh dibandingkan dengan taxi Indonesia, dan ternyata pembangunan di Malaysia juga nggak merata. Selama perjalanan JB – KL kami banyak melewati kota-kota kecil yang sepi dan masih sangat tertinggal. Suasananya nggak jauh dengan desa di Indonesia.

Jadi pengen segera pulang ke tanah air dimana banyak makanan enak yang murah dan keindahan alamnya tiada duanya deh. πŸ™‚

Be Sociable, Share!

16 Replies to “Family Backpacking (3): Assalamualaikum Kuala Lumpur”

  1. akhirnya bisa jalan2 puas ya mak,setelah kesasar dan bikin esmosi hahahaha…..ngakak baca kampung durian runtuh,nadia nadia…..^^

  2. Subhanallah indah banget…kapan ya aku bisa kesana mak…mau banget foto di menara kembarnya itu…wah..Nadia nih pasti seneng diajak jalan2 ama ortunya πŸ™‚

  3. Kalau ke Kuala Lumpur jangan sampe kelewatan tuh kulineran di Jalan alor πŸ˜€

  4. hihihi lucu ya Museum jadi Mizium πŸ˜€

  5. Lanjut ke postingan selanjutnya ah…

  6. Seneng bacanya, jadi pingin bekpek an berdua sama si kecil, mklum Mak, Shah jahan nek diajak jalan jalan kakean alasan, intine cuman siji ‘Sibuk’. eh kok dadi curcol πŸ™‚ lanjut πŸ™‚

  7. Hahaa kok podo ya, wkt pertama ke Sin-KL aku jg kemaleman dan gagal ke Malaka. Tp besoknya ttp penasaran, habis dr genting, nekay ke Malaka meskipun di malaka cuma sejam dua jam trus balik lg ke KL. Btw, enak bgt dikau ada tmn yg mau ngeguide lesana kemari, sampe nemuin bukit dg panorama KL malam hr seindah itu. πŸ˜‰

  8. ini berarti cuma seharian ya mak…cukup ya seharian??sapu jagat dung yaa

  9. wuikk keren…trully traveler deh… πŸ™‚

  10. puas menikmati KL ya mak :)…seru jalan-jalannya…saya ke sana tahun berapa ya terakhir? hmm…2013? kayaknya…

  11. Kampung durian runtuh :)))) *ciwelin nadia*

  12. Kapan2 aku mau ke Batu Cave, ah. Keliatannya bagus banget. Waktu ke KL dan Melaka nggak sempat ke Batu Cave, udah kehabisan waktu πŸ˜€

  13. Subhanallah, foto-foto city landmarknya keren!

  14. Iya, Mak. Waktu saya ke JB juga kayaknya kok biasa aja, ya. Langsung mendadak kangen Indonesia setelahnya hehehe

  15. Emang butuh ke luar negeri untuk menambah kecintaan atas tanah air. *catet

    Thanks tulisannya ya Mba Muna.

  16. Sewaan kereta beserta driver di malaysia..bisa kemana sahaja..kuala lumpur dan semua daerah di malaysia.juga bisa jemput dan hantar di airport..

    Nissan almera 4penumpang
    Toyota innova 6penumpang
    Kia pregio 10penumpang
    Toyota hiace 14penumpang
    Toyota estima 7penumpang
    Toyota alphard 7penumpang

    azran
    Whatsapp/call
    0179402240

Leave a Reply