Mempelajari Sejarah Medan dari Seklumit Kisah Kehidupan Tjong A Fie

Assalamualaikum Sahabats …

Sebagai kota dengan latar belakang sejarah yang kental dan kota terbesar ketiga di Indonesia, Medan memang punya banyak daya tarik tersendiri. Apalagi untuk pecinta wisata sejarah seperti aku. Bangunan tua dengan desain khas yang pastinya menyimpan banyak cerita jadi magnet tersendiri buatku. Tak terkecuali Rumah Tjong A Fie atau Tjong A Fie mansion yang ada di bilangan Ahmad Yani no 105, kota Medan.

Seperti biasa Medan cuma jadi tempat  “menclok” sementara sebelun kaki menginjak kampung halaman, Nangroe Aceh Darussalam  tercinta. Tapi kali ini mumpung ada waktu  sehari di Medan, aku sempatkan meet up sama travel  blogger keceh idolaku, Mollyta Mochtar. Rasanya pengen menyerap semua ilmu dari kak Molly meskipun cuma bisa ketemu sebentar. Anyway, setelah meet up selesai aku langsung meluncur ke sebuah rumah tua yang jadi  daya tarik wisata di Medan. Rumah pribadi Tong A Fie, sang taipan kaya asal Medan yang rumahnya masih berdiri kokoh di  tengah hiruk-pikuk kota Medan.

Rumah Tjong A Fie
Pintu gerbang

 

FYI, dimasanya Tjong A Fie adalah orang terkaya di Medan, bahkan mungkin salah satu orang terkaya di Indonesia. Merantau dari Provinsi Guandong, Tiongkok sekitar tahun 1860-an tanpa bekal memadai, menikah dengan pribumi, dan berakhir di Medan sebagai bankir dan pengusaha sukses yang konon asetnya mencapai Trilyunan. Woowww … Can you imagine? Trilyunan di jaman segitu?

Menurutku kesuksesan beliau mungkin adalah gabungan antara skill bisnis yang mumpuni dan keluwesan beliau dalam menjalin koneksi dengan banyak kalangan. Dari mulai orang pemerintahaan Hindia Belanda, keluarga Kesultanan Deli, dan pengusaha lain. Kedekatan hubungan dengan banyak pihak itu terlihat jelas di bagian dalam rumah beliau yang menyediakan ruang khusus untuk tamu dari berbagai kalangan.  Jadi terbukti ya untuk meraih sukses itu bukan hanya skill yang kita butuhkan tapi juga networking yang baik, Tjong A Fie adalah contoh yang nyatanya.

Rumah Tjong A Fie
Tampak depan rumah

Oke sampai disitu dulu ya Sahabats sekilas tentang kehidupan Tjong A Fie, sambil menjelajahi rumah beliau yang luas, aku pun belajar banyak mengenai kehidupan sang taipan ini. Kata orang rumah itu memancarkan kepribadian pemiliknya, kalau aku sih setuju banget sama ungkapan ini. Setiap tata letak dan detail rumah pasti menggambarkan pemiliknya, begitu pun dengan rumah Tjong A Fie ini.

Tjong A Fie

Inside The Mansion

Dilihat dari tampak depan dan pintu gerbang beratap kecil khas rumah milik etnis Tionghoa. Begitu melangkah masuk, kita akan disuguhi dengan pemandangan halaman depan yang cukup luas, sederhana tapi manis. Setelah membayar tiket masuk Rp. 35.000, seorang guide lokal akan memandu kita untuk mengenal sosok orang terkaya di Medan sembari menjelajah rumah pribadinya.

Rumah Tjong A Fie
Ruang tamu

 

Rumah Tjong A Fie
Ruang tamu

Sambil berjalan memasuki Rumah Tjong A Fie, Desi sang local guide membuka penjelajahan kami dengan cerita singkat mengenai kehidupan sang Taipan. Rumah Tjong A Fie adalah milik pribadinya beserta istri ketiganya. Dua istri sebelumnya sudah meninggal ketika Beliau menikah ketiga kalinya dengan Lim Koei Yap, perempuan asal Binjai, Sumatra Utara dan memiliki 7 anak. Tjong A Fie memulai bisnisnya dari bawah hingga akhirnya memiliki perkebunan yang sangat luas (semuanya kini sudah dinasionalisasi). Hubungannya dengan para petinggi pun sangat mesra, bahkan Tjong A Fie membagi ruang tamunya menjadi tiga, satu untuk tamu dari Kesultanan Deli, satu untuk pejabat Kolonial Hindia Belanda, dan

Rumah Tjong A Fie dibagi menjadi tiga bagian, dua bagian yaitu sayap kiri dan bagian tengah terbuka untuk umum,s edangkan sayap kanan tidak dibuka untuk umum karena masih dihuni oleh kerabat Tjong A Fie. Total secara keseluruhan ada 35 ruangan yang bisa dengan bebas kita eksplore.

Rumah Tjong A Fie
Bagian tengah

Rumah Pribadi dan Cinta Tjong A Fie pada Keluarganya

Rumah Tjong A Fie yang ditata dengan sangat apik ini dihadiahkan kepada istri tercintanya. Memasuki bagian dalam, di sebelah kiri foto Tjong A Fie dan satu set kursi kayu yang cukup besar langsung menarik perhatianku. Sambil mengambil beberapa foto aku mendengarkan cerita Desi mengenai kehidupan Tjong A Fie dan keluarganya. Di bagian tengah yang cukup luas ada tempat ibadah dimana di bagian atasnya ada beberapa jendela besar yang di desain khas Melayu. Dari bagian ini saja, sudah kelihatan bagaimana akulturasi budaya China, Melayu, dan Eropa berpadu apik.

Ruang tamunya disekat menjadi tiga bagian dengan menggunakan ukiran khas China. Ada ruangan yang digunakan untuk menerima tamu umum, tamu etnis Tionghoa, dan tamu dari Kesultanan Deli. Uniknya semua detail ruangan bahkan dekorasinya disusun sesuai dengan tamu yang datang. Ruangan untuk tamu etnis Tionghoa dipenuhi dengan pernik Tionghoa, ruangan tamu umum bertemakan Melayu, dan begitu pun dengan ruangan untuk tamu Kesultanan Deli. Hebat ya, hingga sedetail itu lho cara beliau menghormati tamu. Kalau menurut aku ini pasti andil dan kelihaian sang nyonya rumah dalam menata ruangan sesuai fungsi tapi tetap tidak meninggalkan unsur estetika. Keren.

Rumah Tjong A Fie
Ruang tamu

 

Rumah Tjong A Fie
Ruang tamu

 

Masuk ke ruang tidur utama, ada ranjang kayu yang besar dan kokoh dengan kelambu putih. Kamar ini juga dilengkapi dengan lemari dan lemari hias sang istri tercinta. Semua perabotannya kelas satu. Ya iya lah, secara beliau adalah orang terkaya ya. Semua perabotnya, baik yang buatan dalam negeri ataupun yang khusus di impor dari luar, masih terjaga baik hingga hari ini. Selain kamar utama ada juga kamar anak-anak Tjong A Fie.

Rumah Tjong A Fie
Kamar utama

 

Oya Sahabats dari semua ruangan, aku sangat suka banget sama ruang makannya yang ada di bagian belakang rumah. Ruangan makannya nggak terlalu luas tapi memanjang, karena itu juga mungkin digunakan meja makan kayu yang panjang untuk menjamu keluarga dan para tamu. Di meja makan sengaja ditata beberapa alat makan dari keramik China yang warnanya cerah dan sangat cantik. Lucu-lucu banget deh heheh. Nah supaya dindingya nggak terkesan kosong, dipasanglah foto silsilah keluarga beliau secara lengkap. Disini kita juga akan melihat foto saat prosesi pemakaman beliau. Jalanan kota Medan tumpah ruah dengan para pelayat dari berbagai daerah. Rupanya meskipun jumlah kekayaan beliau yang aduhai itu, tak pernah absen beliau untuk berbagi. Ada dana khusus untuk pendidikan, membangun fasilitas umum, gereja, vihara, dan masjid. Pantes hartanya banyak ya. The more you give, the more you get. 🙂

Rumah Tjong A Fie
Peralatan makan yg terbuat dr keramik China

Rumah Tjong A Fie

Kita lanjut ke bagian atas ya Sahabats, dimana ada sebuah ruangan yang luas dengan jendela besar yang menghadap halaman depan. Ruangan ini dullunya digunakan Tjong A Fie untuk mengadakan pesta dansa. Di sebelah ruang pesta, ada altar yang cukup luas untuk seluruh keluarga berdoa. Di bagian belakang lantai dua ada beberapa ruangan kecil milik keluarga tapi sayang aku lupa detailnya milik siapa, cukup banyak sih soalnya. Termasuk salah satu cucu beliau yang menikah dengan orang Belanda dan sampai sekarang menetap disana.

Cerita kehidupan Tjong A Fie berakhir saat kami kembali menginjakkan kaki di bagian belakang rumah di lantai 1. Rombongan kami pun dipersilakan keluar lewat pintu belakang karena jam berkunjung memang sudah berakhir. Dari kunjungan singkatku ini aku belajar banyak banget dari sosok manusia terjaya di Medan dimasanya. Alhamdhulilah masih ada kesempatan menjelajahi rumah Tjong A Fie meskipun saat datang memang jamnya udah mepet banget. Rumah ini dibuka mulai jam 09.00 – 17.00 setiap hari ya Sahabats, kecuali hari libur nasional.

Rumah Tjong A Fie

Kesuksesan yang diraih Tjong A Fie bukan warisan, bukan pula keberuntungan. Dimulai dari titik nol dengan kerja keras tanpa kenal lelah. Selain etos kerja Tjong A Fie yang keren, aku juga belajar satu hal penting Sahabats. Untuk bisa sukses dan dihormati orang lain kita juga harus menghormati orang lain. Menjalin hubungan baik dengan dengan semua kalangan tanpa pandang status maupun etnis. Dan yang paling penting adalah berbagi pada sesama. Tuh ya, ketika kita berbuat baik pada orang lain sesungguhnya kita berbuat baik pada diri sendiri lho Sahabats. Janji Allah, bahwa setiap kebaikan, sekecil apapun pasti ada balasannya. Jadi jangan takut dan ragu berbuat baik ya.

Kehidupan Tjong A Fie jadi bukti nyata adanya keragaman etnis dan budaya di Indonesia. Beliau jadi orang sukses karena pandai berbaur dan menghormati budaya setempat. Allah sudah menciptakan manusia dengan berbagai bangsa dan suku supaya saling mengenal. (Al Hujurat, 13) Jadi jangan saling menghujat dan merasa paling benar bahkan sempurna. Perbedaan ada untuk dinikmati keindahannya. Betul kan?? 🙂

Rumah Tjong A Fie

Rumah Tjong A Fie

 

“The beauty of the worlds lies in the diversity of its people.”

 

Rumah Tjong A Fie

jl. Ahmad Yani no. 105

Kesawan, Medan

Be Sociable, Share!

9 Replies to “Mempelajari Sejarah Medan dari Seklumit Kisah Kehidupan Tjong A Fie”

  1. Wow! Inspiratif sekali 😍
    Btw aku malah jd ingat iklan TV tentang sedekah yang menyentuh banget

  2. Wow, cantik bgt rmhnya ya..

  3. menarik nih, kapan2 moga bisa ke medan lagiii

  4. Tooss mba, aku juga suka sama wisata sejarah.. 🙂 Aku udah tau soal rumah ini dari lama tapi belum ada kesempatan ke Medan.. Pingin banget bisa ke sana, deh.. 😀 Rumahnya gedenya banget banget yaaa.. Haha gak kebayang ngurus rumahnya gimana.. 😀

  5. Rumahnya kaya adeeem gitu ya mak. Jadi kangen medan. Terakhir ke sana 2006, wis sui bingiiit.

  6. Cakep banget dan terawat ya, warisan berharga untuk kebudayaan Medan. Jadi ingat raja gula Semarang ya..

  7. Wah jadi berasa ikut jalan-jalan keliling rumah juga nih, makasii banyak mba 😘

  8. wah asyik mbak muna jalan2nya ke thong a fie ini…baru tahu

  9. Pantas aja kalo beliau sukses. Ada sikap luhur yang pantas untuk ditiru ya. Seperti menghormati tamu dengan menyiapkan ruangan khusus. Juga senang berbagi, keren ih pengen bisa wisata kesana

Leave a Reply