My First Journey: Merantau

Sebenernya sih perjalananku ini bukanlah perjalanan pertamaaa banget yang pernah kulakukan. Sejak kecil papaku seringkali membawa kami liburan ke beberapa kota dan kebiasaan itu yang membuatku punya kaki gatal dan jiwa petualang hingga detik ini. Tapi untuk mas Eru Vierda sang sohibul hajat aku ingin menceritakan perjalanan sekaligus petualang yang paling tak terlupakan dalam hidupku. Merantau. πŸ™‚

Eits..meskipun yang merantau adalah aku yang masih berusia 8 tahun tapi ceritanya dijamin nggak kalah seru sama film Merantau yang dibintangi si ganteng Iko Uwais nan keren ituhh. πŸ˜‰ Sejak bayi aku sudah terbiasa hidup nomaden alias berpindah-pindah karena papaku adalah seorang dokter. Sejak pendidikan dokternya selesai papa berpindah dari satu Puskesmas ke Puskesmas lain untuk pengabdian terhadap masyarakat. Setelah kelahiranku di kota Cirebon, aku pernah merasakan hidup di Kuningan, Subang, Cilimus, dan beberapa kota kecil di Jawa Barat.

Setelah menyelesaikan pendidikan dokter spesialis di Semarang, papa diharuskan mengabdi diluar Jawa. Ini adalah program pemerintah Orde Baru dalam rangka pemerataan dokter di seluruh Indonesia. Program yang bagus ya, sayangnya sekarang sudah nggak ada lagi. Akibatnya dokter menumpuk saja di Jawa, dan pulau lain kekurangan tenaga medis.Β 

Oke.. back to the story…program inilah yang kemudian membawa kami merantau hingga ke Kalimantan Barat. Bukan di kota besarnya, melainkan di pedalaman Kalimantan Barat, tepatnya kota Ketapang. Saat itu umurkuΒ  bahkan belum genap 8 tahun dan harus pindah ke hutan rimba yang entah berada dimana. Sebel ..kesel tapi mau gimana lagi? Akhirnya berangkatlah kami menuju Kalimantan Barat dan itu adalah perjalanan terjauh pertamaku bersama kelurga.

hayoo..coba cari dimana posisi Ketapang di peta Kalimantan ini :)
hayoo..coba cari dimana posisi Ketapang di peta Kalimantan ini πŸ™‚

Dari kota Semarang kami naik pesawat terbang hingga kota ibukota Kalimantan Barat, Pontianak. Kami sempat menginap beberapa hari di Pontianak, tepatnya di rumah seorang dokter yang juga kawan papa sambil menunggu kapal yang akan membawa kami ke Ketapang. Kami sempat mengunjungi beberapa objek wisata di Pontianak, salah satunya adalah Tugu Kathulistiwa. Bentangan garis Kathulistiwa memang melewati kota Pontianak. Apabila kita berdiri tepat di bawah Tugu Kathulistiwa pada pukul 12.00 WIB bayangan kita akan menghilang, keren ya. πŸ˜‰ Sebagai anak kecil aku terpesona sekali melihat fenomena ini, bahkan sempat lupa kejengkelanku karena harus pindah meninggalkan kota Semarang tercinta.

kapalnya mirip seperti ini
kapalnya mirip seperti ini

Dua hari kemudian kapal kami pun bersandar di Pelabuhan Pontianak. Kaget betul aku melihat wujud kapal yang akan kami tumpangi, terbuat dari kayu dan sangat kecil. Hati langsung ketak ketir membayangkan dua jam terombang ambing di samudra luas dengan kapal yang tidak manusiawi itu. πŸ™ Dua jam perjalanan menuju Ketapang terasa lamaaa banget. Ombak tinggi seringkali mengguncang kapal kami. Syukurlah aku nggak mabuk, hanya meringkuk dalam pelukan papa hingga akhirnya kapal merapat di Ketapang. Fyuuiiihhh… alhamdhulilah. πŸ™‚

Sesampainya di Ketapang, seorang dokter menjemput kami dengan Ambulance. Bayangkan semua orang di Pelabuhan menatap kami dengan pandangan bingung. Mungkin mereka mengira salah seorang dari kami sakit keras sehingga harus di jemput dengan Ambulance. πŸ˜› Ternyata hubunganku dengan mobil Ambulance ini akan berjalan lama karena selama di Ketapang, mobil inilah yang setiap harinya mengantarkan aku ke sekolah, hiks. Kami seringkali menjadi bahan ejekan siswa lain gara-gara Ambulance ini. πŸ™

Makan dimulailah kehidupan baru kami di sebuah kota kecil di Pedalaman Kalimantan Barat. Kota yang sangat kecil dengan sebagian besar wilayah berupa hutan dan sungai, tak ada fasilitas apapun kecuali Pasar Ikan yang menjadi tempat hiburan utama warga setempat. Kami tinggal di rumah dinas milik Rumah Sakit Dr. Agoesdjam yang letaknya tepat di depan RS. Rumahnya berbentuk Rumah Panggung, seperti kebanyakan rumah di Kalimantan. Di bawah rumah adalah rawa-rawa dan di belakang rumah adalah tanah kosong dengan pepohonan besar. Jika malam hari ular dan binatang melata lainnya berkeliaran di bawah rumah kami, hhiiiii. Jarak antara satu rumah dengan yang lainnya bisa beberapa kilometer. πŸ™

Untuk pergi ke SD terdekat, perjalanan kurang lebih 7 km, itupun kalau tak hujan. Saat hujan tiba, sekolahku yang terbuat dari kayu itu akan menghilang di telan banjir. Pernah suatu hari, Ambulance yang seharusnya menjemputku dan beberapa anak dokter datang terlambat, akhirnya kami pun jalan kaki menerjang banjir yang kedalamannya mencapai lututku. Kami menyusuri sawah ladang, dan rawa-rawa. Kami berjalan sambil mengobrol dan bermain dengan sapi milik warga yang sedang asik minum air banjir heheh.

Pusat Kota Ketapang, foto diambil dari Wikipedia
Pusat Kota Ketapang, foto diambil dari Wikipedia

Fasilitas yang minim disini kadang cukup menyulitkan kami. Tayangan TV hanya TVRI, kamipun menyambung Parabola ke sebuah warung Mie yang letaknya tak jauh dari Rumah Sakit. Si pemilik warung Mie ini hobby banget nonton drama China yang tak kami pahami bahasanya sama sekali. Aku ingat banget, di hari Minggu, saatnya nonton Doraemon, aku harus bersepeda ke warung dan minta pemiliknya menyetel RCTI, hehehe. Perjuangan berat untuk menonton Doraemon. πŸ˜›

Sebagai dokter papa sering di bayar dengan berbagai macam barang. Sebagaian besar warga tak punya uang, jadilah mereka membayar dengan pisang, ubi, ikan,dan banyak lagi. Seorang pasien pernah memberi kami sepanci besar Rajungan yang meskipun sudah kami bagikan ke tetangga tetap masih banyak. Wajah kami mungkin berubah mirip Rajungan saking banyaknya makan Rajungan hihii. πŸ˜›

Oya..ada kisah menyedihkan yang pernah kualami disini. Terjangkit kutu hiks… Rupanya kawan sebangkuku itu rambutnya penuh kutu dan menularlah padaku. Hiks…aku dan mama heboh luar biasa. Rambutku yang panjang dan lebat langsung dipotong. Setiap pulang sekolah aku harus pake obat pembunuh kutu dan berburu kutu, sedih banget deh pokoknya. L dan yang paling menyedihkan aku harus pindah tempat duduk dan bilang pada temanku ini kalau rambutnya adalah sarang kutu..hhiii….. Untung dia nggak marah. πŸ˜›

Dua tahun yang penuh kenangan di kota Ketapang akhirnya harus berakhir. beberapa minggu sebelum kami pindah, beberapa orang perawat RS mengajak kami ke sebuah Pulau, katanya sih tak jauh dari Ketapang. Pulau Datuk ini rupanya merupakan salah satu Pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Pulau ini sempat akan di klaim Malaysia juga saat kasus Sipadan dan Ligitan dulu.

Untuk ke Pulau Datuk kami melalui jalan darat selama dua jam. Medannya adalah hutan lebat dengan jalanan yang hancur lebur. Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan kapal kayu selama kurang lebih satu jam. Perjalanan melelahkan itu terbayar lunas saat kami mendarat di Pulau Datuk yang tak berpenghuni. Pantainya yang biru jernih dengan butiran pasir putih yang lembut membuatku jatuh cinta. Dikelilingi hutan yang rimbun dan hijau dengan kicauan burung-burung hutan, rasanya seperti berada di Pulau pribadi. Pantai inilah yang membuatku jatuh cinta pada alam Indonesia hingga detik ini. πŸ˜‰ Sayang sekali foto-foto perjalanan kami ini entah hilang kemana. πŸ™

foto diambil dari sini
foto diambil dari sini
foto diambil dari sini
foto diambil dari sini

Overall, perjalanan merantau ku ini sungguh tak terlupakan. Wilayah baru, bahasa baru, suasana baru, teman baru, dan sejuta kenangan indah yang tak terlupakan. Sayangnya aku sudah kehilangan kontak dengan teman-temanku disana. Semoga mereka juga nggak melupakanku walaupun aku hanya hadir sesaat dalam hidup mereka. Kapan-kapan kalau ada rezeki kami ingin sekali mengunjungi Ketapang yang kini pasti sudah jauh berkembang. Sekedar berlibur dan bernostalgia, siapa tahu bisa bertemu kawan lama disana. πŸ˜‰

my-first-journey

Tulisan ini disertakan dalam GA My First Journey Wanderer Silles

Be Sociable, Share!

34 Replies to “My First Journey: Merantau”

  1. Asyik ya bisa merantau. Huhuhu… aku mah gak pernah ke mana-mana. Paling jauh pun cuma Jawa. Itu pun cuma piknik atau menyambangi sodara aja. Hehehe…

    1. aku doain bisa traveling yg jauh2 deh mak πŸ™‚

  2. petualangan yang keren mak,,sampai di rimba2 segala ya,,,sukses GA nya mak πŸ™‚

    1. amiiinn.. thanks mak πŸ™‚

  3. lahir di cirebon, pernah menetap di semarang dan kalimantan… eh mbak muna skrg tinggal di sidoarjo…. bener2 momtraveler daaaahhh :p sukses GAnya mbak πŸ˜€

    1. amiiinn…makasih ya mak πŸ™‚

  4. Ketapang itu kota kecil ya mak… sukses ngontesnya ya… πŸ™‚

    1. dulu sih kecil dan sepiii banget mak, entahlah sekarang..mungkin udah mulai rame juga πŸ™‚

  5. seruuuu banget yo mbk merantau,dulu nggak kepikiran sampai nginjek ini hutan Siak hehehe….btw,smpe sekarang masih inget g itu teman yg kutuan hahahaha…lucu πŸ˜€

    1. hahahaha…itu yg paling nggak terlupakan πŸ˜›

  6. Wih, seru banget ya pengalaman merantaunya. Dari kecil saya selalu berkhayal bisa merantau, eh tapi apa daya, hidupnya ngga jauh dari Depok-Jakarta-Bekasi.

    1. ga bisa merantau, smeoga bisa traveling deh πŸ™‚

  7. Wih, Umur 8 tahun sudah belusukan ke rimba di pedalaman Kalimantan? Heba! ngalahin Jokowi, he-he-he…

    1. hehehe… aku jamin Jokowi aja belum pernah tuh ke Ketapang mas πŸ˜›

  8. aku juga termaasuk nomaden mom, tapi sekitar jawa aja hhe…
    makanya aku pengen banget ikut indonesia mengajar, biar bisa ditempatin di luar pulau jawa, tai sayangnya ga diijinin ortu (lah, malah curcol hhe)
    yo wis lah, pokoknya tetap cinta indonesia πŸ™‚

    1. moga2 someday bisa merambah luar jawa juga ya πŸ™‚

  9. Rantaunya indah sekali Mbak Muna. Merantau itu selain view, budaya dan ikatan pertemanan di sana, tentunya jadi menambah pengalaman bagi batin kita ya..

    1. pasti mbak..jadi banyak kenangan juga πŸ™‚

  10. […] 18.Β nama : Muna Sungkarkota : SidoarjoURL :Β http://momtraveler.com/traveling/my-first-journey-merantau […]

  11. cerita yang menarik, dengan tulisan yang juga sangat mengalir…good luck…

    1. terima kasih πŸ™‚

  12. Duh… duh… jadi saya kepengen jalan-jelan banget neh… mbak….

    1. ayo pak ustadz..jalan2 kan harus jauh lho πŸ™‚

  13. Pantesan gedenya suka jalan2 ya mak.. dari kecilnya diajakin berkelana….

    Saya dulu waktu kecil juga penuh perjuangan hanya untuk menonton Satria Baja Hitam dan Power Rangers.. harus pergi ke Kampung sebelah bersama gerombolan saya….

    makasih mak kisahnya indah πŸ˜€

    1. hahaha..iya aku juga suka tuh Satria Baja Hitam ..Kotaro Minami.. guanteng πŸ˜›

  14. menyenangkan ya bisa menjelajah ke mana-mana.., sekarang jadi pengalaman tak terlupakan..

    1. alhamdhulilah..salah satu keuntungan jadi suku nomaden kak heheheh πŸ˜›

  15. Emaaakkkk itu rajungan sepanci gedeeee aku maaauuuuuuuu :’))))
    Aku juga dulu pindah-pindah, Mak. Dari Jakarta, ke P. Berandan-Medan. Di P. Berandan itu aku 2x pindah rumah malah. Abis itu aku ke Bandung, sementara Papa pindah lagi ke Palembang. Hihihi.
    Ada enaknya juga sih ya pindah-pindah. Kita jadi tau beberapa tempat di Indo, nggak kayak katak dalam tempurung. πŸ™‚ Kita juga punya temen-temen banyak. Dan yang pastinya punya kenangan yg buanyak. :))))

    1. emang enak nggak enak ya mak pindah2 terus.. enaknya dapate suasana baru dan pengalaman baru tapi kadang sedih juga ninggalin temen2 πŸ™‚

  16. Haaahah kutu itu penyakit kecilku juga. Kayaknya setiap anak kecil di desa pasti kutuan. Soalnya males keramas. Dalam bayanganku dulu shampo itu pedih dan aku gak bisa napas kalo disiram dari kepala. Jadilah keramas seminggu sekali. Tiap hari petan… Metani kutu rambut.. Hehehe

    1. wkwkwkwk… mari kita tooss mbak.. sedih banget kalo inget kisah kutuan ini… memalukan πŸ™

  17. Kalau tiap pasien ngasihnya sak Kwintal, oke juga tuh, Mba. Hihihihi
    Merantau tuh selalu banyak pengalaman ya, Mba.

  18. Ternyata Mbak Muna sudah dari kecil travelling kemana-mana πŸ™‚
    Pulau Datuk bersih banget ya Mbak. Semoga sampai sekarang keadaannya terus seperti itu. Terima kasih atas partisipasinya πŸ™‚

  19. Aku dulu sering mbolang soalnya sering diajak sama Ayah kelayapan sana sini.
    Karena pekerjaan juga sih. Akhirnya hingga saat ini suka mencari travelmate yang seperti ayah. tetep senyum dalam kondisi apapun. tersesat malah ketawa. Hiks, jadi curhat.

Leave a Reply