Reuni di Kampung Kopi Banaran

Reuni di Kampung Kopi Banaran

Salah satu berkah ngeblog yang sangat aku syukuri adalah bisa nambah temen dan mempererat tali silaturahmi. Teman yang sudah bertahun-tahun nggak ketemu ternyata bisa nyambung lagi di blog, bahkan dari hobby menulis inilah hubungan kami berkembang nggak hanya sebatas teman, tapi juga partner kerja bahkan saudara. πŸ™‚

Yup .. kali ada cerita reuni antara aku dan pemilik Penerbit Sixmidad alias Belalang Cerewet yang juga seniorku waktu kuliah di Fakultas Sastra, Undip. Nama mas Rudi sering sekali disebut-sebut para dosen karena memang beliau salah satu mahasiswa yang pinter. Aku juga termasuk orang yang kagum sama beliau ini (tapi bukan karena gantengnya lho. Catet!!) karena memang mas Rudi ini pinter. Aku ingat skripsinya dulu seringkali dipuji banyak dosen, nilainya pun perfect A. Aku jadi termotivasi dan pengen banget mengikuti jejak si kangmas ini. Long story short, setelah lulus kuliah kami sempat lost contact dan blog inilah yang mempertemukan kami. Kangmas Rudi lah yang menceburkanku ke dunia blog dan lewat Sixmidad lah buku pertamaku lahir. Jadi jasa beliau cukup besar juga ya dalam kehidupan tulis menulisku. πŸ˜›

Waktu aku masih di Sidoarjo, kami pernah ketemu di launching buku triloginya Pakdhe Cholik, dan alhamdhulilah kami ketemu lagi di Semarang dua minggu lalu. Rupanya kangmas lagi pengen nostalgila masa mudanya dulu dan pengen banget bawa anak-anaknya ke Banaran, caffe yang ada kebun kopinya itu lho. Ya wes, apa sih yang enggak buat kangmasku ini, lagipula Banaran jaraknya Ccuma selemparan batu dari Semarang. Apalagi mas Rudi udah jauh-jauh datang dari Bogor bersama istri tercita dan duo pipi tembem. Nadia pun nggak kalah hebohnya mau kedatangan dua adik-adik tersayangnya. Baeklah … cuzz kami ke Banaran. πŸ™‚

20150104_101417
welcome to Kampung Kopi Banaran

Jadi .. buat yang belum tau, Kampung Kopi Banaran adalah salah satu agrowisata milik PT. Perkebunan Nusantara IX (Persero), yang terletak di Areal Perkebunan Kopi Kebun Getas Afdeling Assinan tepatnya Jl. Raya Semarang – Solo Km. 35. Kalau kita berangkat dari kota Semarang, langsung aja masuk pintu tol ke arah Ungaran, lokasi Kampung Kopi Banaran ini jaraknya sangat dekat dari exit tol Ungaran.
Oya dalam reuni kali ini kami juga memboyong, sahabat mas Rudi yang menikah dengan sahabatku juga. Mereka sekarang tinggal di Ungaran. Mas Rudi dan Mas Bahtiar ini udah soulmate banget lah, jadi kasian banget kan kalau mereka nggak dipertemukan sekalian. Mumpung udah nyampe Semarang kan? πŸ˜‰

Rupanya sejak terakhir kali aku kemari, Kampung Kopi Banaran sudah sudah mengalami peremajaan. Hasilnya pun cukup asyik. Taman bermainnya makin luas, fasilitas makin lengkap. Selain taman bermain, ada camping ground, flying fox, water park, dan banyak lagi. Udara hari itu pun juga sangat mendukung untuk reuni kami. Ngobrol seru-seruan sambil jagain anak-anak main di Playground. Anak-anak pun nggak butuh waktu lama untuk berteman. Kak Nadia udah jadi komandan aja nih, menggiring adik-adiknya main kesana kemari.Konsep kampung kopi Banaran ini memang di kemas untuk wisata keluarga dengan fasilitas yang bisa dinikmati seluruh anggota keluarga. Tempatnya pun luas dan sejuk, jadi anak-anak betah lah main disitu.

Banaran-2015-8

Banaran-2015-5

Puas main kami giring bocah-bocah untuk naik kereta wisata mengelilingi Perkebunan kopi yang luasnya mencapat 400 hektare ini. Nggak mungkin banget kan kalau kita kelilingnya jalan kaki? πŸ˜› setelah membayar Rp 50.000 untuk tiket kereta dan ngantri cukup lama (hari Minggu jadi lumayan rame) penjelajahan pun dimulai. Agrowisata Kampung Kopi Banaran ini hanya menanam jenis kopi Robusta. Sedangkan untuk jenis kopi Arabica justru harus di tanam di dataran yang lebih tinggi lagi. Seperti kopi Gayo atau kopi Aceh lainnya yang berjenis Arabica yang di dataran tinggi Gayo dan Bener Meriah. Seandainya di Pemda Takengon bikin agrowisata seperti Banaran ini, pasti seru deh. πŸ™‚

Sepanjang jalan kenangan, kita akan menemukan pemandangan yang cantik. Karena letaknya di atas bukit jadi kereta yang kami naiki harus naik turun di jalan yang sempit dan curam. Berasa naik ATV deh hehehe. Alhamdhulilah keretanya aman kok, kan sudah dikondisikan untuk kereta wisata, so no worries. πŸ˜‰ Cuma adek Bumi sempet rada panik dan nangis. Rupanya menurut si adek ini bentuk kereta yang dinaiki si ayah (ada di belakang kami) mirip Gajah. Bumi rada ngeri-ngeri gimana gitu liatnya, tapi syukurlah perhatiannya bisa dialihkan lagi. Dek Bumi pinter euy. πŸ™‚

ini nih ..tersangka gajah yang bikin Bumi ketakutan :P
ini nih ..tersangka gajah yang bikin Bumi ketakutan πŸ˜›
Banaran-2015-21
kereta wisata yg digunakan untuk keliling perkebunan kopi

Meskipun si kopi belum waktunya di panen, perbukitan yang hijau dan Rawa Pening terlihat jelas dari puncak perkebunan ini. sayang hari mendung, lensa kamera si abang juga kurang maksimal untuk bisa mengambil foto Rawa Pening karena memang jauh. ;(
Pas waktunya makan siang, hujan turun. Berhubung kami datang saat weekend jadi agak susah juga nyari tempat kosong untuk makan. Kami pengennya duduk di gazebo yang tersebar di sekitar area bermain tapi udah keisi semua. Jadilah kami melipir ke depan, yang penting bisa makan dengan tenang deh. Anak-anak udah mulai β€œberaksi” hehehe.

Main ke kebun kopi rasanya nggak seru dong kalo nggak ngopi, apalagi kami semua penggemar kopi. Kami memesan kopi Robusta spesial ditemani dengan snack dan menu makan siang. Sayang rasa kopinya kurang nendang. Ga se spesial yang kami bayangkan. Rasanya nggak ada bedanya sama kopi instant yang biasa kita buat sendiri. Padahal ekspektasi kita, ngopi di Banaran yang mana adalah penghasil kopi Robusta, pastinya akan jadi salah satu kopi terbaik yang pernah kami cicipi. Tapi ternyata spesialnya nggak nemu sama sekali. πŸ™ Kayanya para Barista di kampung Kopi Banaran harus cari inovasi racikan baru deh supaya rasa kopinya makin endang dan pastinya mendatangkan lebih banyak pecinta kopi kesini. πŸ˜‰

Banaran-2015-52

Hujan makin deras, hari pun sudah sore. Kami pun mengakhiri reuni singkat di Banaran. Mas Rudi dan keluarga di boyong ke Kudus. Kayanya rindu berat sama si soulmate deh dia. Besok juga mereka harus segera balik ke Lamogan. Alhamdhulilah meskipun singkat dan penuh dengan riuh rendah bocah-bocah, temu kangen di Banaran kali ini menyenangkan. Semoga lain waktu bisa reunian lagi di tempat yang lebih keren lagi.

Makasih ya mas Rudi, mbak Harni, Rumi, dan Bumi sudah menyempatkan diri main ke Semarang dan nginep di rumah Nadia. Lain kali mainnya harus lebih lama ya, supaya kita bisa jalan-jalan lagi. πŸ™‚

Banaran-2015-56

Be Sociable, Share!

20 thoughts on “Reuni di Kampung Kopi Banaran

  1. ternyata satu almamater sama pa Belalang cerewet ya mak…harusnya kampung kopi, pasti kopinya nikmat ya mak. Jadi masukan buat pengelola agar lebih berkreasi dengan kopinya. Jadi pengen ngopi nih. Ssst…nanti aja, belum beduk magrib ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *