Semarang Tempo Doeloe

Semarang Tempo Doeloe

Sahabats … gaya liburan seperti apa sih yang kalian suka? Duduk di tepi pantai mengenakan topi besar dan kacamata hitam sambil menikmati peran sebagai turis yang sesungguhnya? Atau kalian lebih suka menyusup dalam kehidupan masyarakat setempat? Melebur dalam kesibukan mereka, menikmati kearifan lokal yang ada dan mengambil banyak pelajaran dalam setiap langkah? Well ..kalau kalian memilih opsi kedua, berarti kita sama. πŸ™‚


Sejak kecil aku suka baca buku sejarah. Mempelajari perabadaban besar dunia dan menikmati kebudayaan setempat. Salah satu yang paling memikatku adalah gaya arsitektur, termasuk gedung-gedung tua yang menjadi saksi perkembangan suatu masyarakat. Bagi orang yang tidak tertarik sejarah, gedung-gedung tua itu tampak tidak menarik atau mungkin hanya cantik sebatas menjadi background foto, tapi buat penikmat sejarah sepertiku, setiap gedung pastilah menyimpan sebuah cerita yang menarik.
Wisata kota tua atau kota-kota lama selalu menyenangkan buatku dan entah kenapa nggak pernah bosan menikmati gedung-gedung tua itu. Beberapa waktu lalu, bersama komunitas pecinta sejarah di Semarang, aku sempat menyusuri jalur trem yang di bangun pemerintah Belanda di Semarang. Saat acara ini aku membeli sebuah buku karya Jongkie Tio, seorang peranakan China penulis buku Kota Semarang dalam Kenangan.
Buku beliau mengisahkan betapa Semarang dulu pernah menjadi salah satu kota pelabuhan terbesar dunia. Semarang dulu dikenal dengan little Amsterdam karena kemiripannya dengan Amsterdam. Semarang juga pernah menjadi tuan rumah salah satu festival terbesar dunia, tepatnya pada tahun 1914. Perayaan 100 tahun Koloniale Tentoosteling (pasar malam internasional) ini juga sempat aku datangi di tahun 2014 lalu di kota lama Semarang.

festival sentiling, diadakan di semarang 2014 lalu untuk mengenang 100 tahun festival Tentoosteling
festival sentiling, diadakan di semarang 2014 lalu untuk mengenang 100 tahun festival Tentoosteling

Sebutlah ini wisata sejarah atau apalah yang jelas kali ini aku mau membawa kalian mengunjungi beberapa gedung yang seringkali kita lewatkan begitu saja padahal mereka adalah saksi pekembangan sejarah kota Semarang tercinta.
Entah kenapa seminggu yang lalu sepulang dari mengajar, ada keinginan menyusuri tembok dan gedung tua di kota lama Semarang. Ketika kaki sudah mulai gatal tak terkira, maka Cuma ada satu obatnya. Perjalanan napak tilas pun dimulai.
β€œSalah satu tempat yang hingga kini dikunjungi banyak orang adalah Bukit Simongan. Tempat bersejarah yang mereka percaya sebagai tempat Laksamana Cheng Ho mendarat si tempat itu kini telah berdiri suatu tempat pemujaan yang dikenal dengan tempat pemujaan Gedung Batu atau Sam Po Kong.” (Tio, 2014: 12)

bukti pendaratan Laksamana Cheng Ho di Semarang
bukti pendaratan Laksamana Cheng Ho di Semarang

Kalian mungkin sudah familiar dengan klenteng bernuansa merah ini ya. Bangunan ini diperuntukkan bagi Laksamana Cheng Ho, seorang pelaut Muslim asal China yang sempat singgah ke Semarang untuk bedagang. Sampai saat ini klenteng Sam Po Kong ini masih berdiri kokoh dan menjadi tujuan wisata utama di Semarang, terutama wisatawan dari China. Kehadiran beliau di Semarang membuktikan satu hal, Semarang adalah kota pelabuhan yang besar dikala itu.
Beranjak beberapa meter, tak jauh dari Sam PO Kong, kalian akan menemukan sebuah gedung iconic peninggalan pemerintah kolonial. Wilhelminaplein, atau biasa disebut dengan Lawang Sewu, yang dahulu menjadi kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij ( NIS) berdiri kokoh sejak tahun 1907. Kecantikan dan keunikan desainnya seolah menegaskan betapa pentingnya gedung ini dahulu. Sejarah transportasi terbesar di Jawa Tengah pernah berlangsung disini. Lawang Sewu juga menjadi saksi pertempuran 5 hari di Semarang.
Jangan hanya berfoto saat kesini, coba dengarkan desiran angin yang melewati ribuan pintunya, dan mungkin saja kalian bisa mendengar gedung ini bercerita tentang kisah-kisah indah yang pernah disaksikannya. Kisah sedih penuh darah hingga kisah cinta dan persahabatan terjalin disini.

Lawang Sewu, saksi bisu perkembangan Semarang
Lawang Sewu, saksi bisu perkembangan Semarang
setiap pintunya mengisahkan sebuah cerita
setiap pintunya mengisahkan sebuah cerita

Perjalanan berlanjut hingga ke jantung kota Semarang di masa jayanya yang sekarang terkenal dengan sebutan Kota Lama. Gerusan rob dan banjir mengikis cerita kejayaan kota ini namun kecantikannya tak lekang oleh apapun. Cobalah kelilingi kota lama ini dari mulai titik nol kota Semarang, jembatan mberok, Kastil van Semarangh (benteng yang kini hanya tinggal reruntuhan), stasiun Tawang, Polder Tawang, pabrik rokok Praoe Lajar, gedung Marba, gereja Blenduk, beberapa gedung yang kini sudah beralih fungsi menjadi perkantoran, kafe, dan kompleks Gereja dan sekolah Katholik pertama di Semarang yang merupakan kantor dari Romo Soegijapranata. Gedung-gedung ini adalah jejak peradaban Eropa yang dibawa pemerintah kolonial ke bumi Indonesia. Sewalah becak dan cobalah mengelilingi kota lama, kalian akan banak menemukan spot-spot cantik yang layak untuk diabadikan.
Memasuki kota lama seolah kita diajak menjelajahi sudut-sudut kota di Eropa yang penuh dengan gedung cantik yang kokoh. Di kawasan Gedangan sebuah kompleks Gereja Katholik pertama di Indonesia. Pemerintah Belanda yang menganut Kristen awalnya menentang masuknya agama Katholik namun perlahan agama ini akhirnya diakui. Puluhan tahun lalu, di gedung dan gereja ini Romo Soegijapranata bekerja. Hingga detik ini Gereja di Gedangan ini masih aktif melakukan misa, ada pula susteran, dan sekolah Theologi tepat di depannya. Satu kesamaan dari kompleks gereja ini adalah bangunannya yang bernuansa merah bata, dengan lengkuk-lengkuk khas bangunan bergaya Eropa.

kompleks Gereja Katholik Gedangan
kompleks Gereja Katholik Gedangan

Ada pula gereja Blenduk, gereja Kristen terbesar di Jawa yang di bangun tahun 1753. Gereja berbentuk heksagonal ini pun masih beroperasi hingga detik ini. Sekarang taman di sampung Gereja Blenduk (Taman Srigunting) sudah bersolek. Banyak muda-mudi duduk asyik di taman ini, bercengkerama sambil menikmati kemolekan Gereja Blenduk. Kita juga bisa mencoba naik Semarjawi, bus wisata yang akan membawa kita keliling kota tua dengan biaya Rp. 10.000. Jadi nggak hanya pasang aksi bergaya di depan gedung-gedung iconic, kita juga bisa sedikit menambah ilmu tentang sejarah bangunan tua di seputaran kota lama Semarang. Di Malam hari digelar pasar seni yang menjual barang-barang antik dari mulai keramik kuno, kursi jati, hingga majalah terbitan tahun 1950an. Beberapa meter di belakang Taman Srigunting ada sebuah gedung tua yang kini berubah menjadi sebuah galeri seni, Galeri Semarang namanya. Karya-karya seni kontemporer bisa kita nikmati disini.

Gereja Blenduk yang cantik
Gereja Blenduk yang cantik
Galeri Semarang yg memanfaatkan salah satu gedung tua di kawasan kota lama Semarang
Galeri Semarang yg memanfaatkan salah satu gedung tua di kawasan kota lama Semarang

Menyusuri kota lama, aku menyadari satu hal. Banyak gedung-gedung tua yang awalnya terbengkalai bahkan hampir roboh kini mulai mendapat sentuhan kasih dari para pebisnis dan pecinta sejarah. Banyak gedung yang kini sudah mengalami peremajaan, dengan cat baru dan beberapa sentuhan disana-sini. Pemerintah daerah sudah mulai menangkap peluang wisata dari gedung-gedung tua ini. Sebuah kemajuan yang menyenangkan daripada melihat gedung ini mati merana tanpa sentuhan. Tapi ada satu kekhawatiran ketika melihat keramaian di kota lama. Akankah keindahan bangunan tua ini bertahan lama? Terjaga dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab dan sampah-sampah berserakan. Akankah gedung ini masih akan dapat menceritakan kisah kejayaannya di masa lalu pada anak cucuku nanti? Bisakah para pebisnis dan mereka yang ingin mengambil keuntungan dari tempat ini bisa menjaga cinta yang terselip dalam setiap sudut gedung-gedung cantik ini?

semoga setiap kali kau melewati kota lama, smeua memori indah ini akan terkenang ya nak :)
semoga setiap kali kau melewati kota lama, smeua memori indah ini akan terkenang ya nak πŸ™‚
keramaian pasar seni di kota lama semarang
keramaian pasar seni di kota lama semarang

Entahlah … siapa yang bisa menjamin hal itu. Satu hal yang pasti aku menuliskan kisah ini supaya suatu hari nanti Nadiaku mengingat memori yang sempat kami ukir disini. Menyusuri lorong-lorong kota tua sambil makan es krim, naik bus Semarjawi, menikmati pasar seni sembari menikmati lagu-lagu yang ngehits di tahun 50an, juga canda tawa kita di Taman Srigunting. Semoga kau mengingat kisah indah kita seperti gedung-gedung tua itu menyimpan begitu banyak kisah yang tak terlupakan. Smeoga gedung-gedung indah ini masih akan kokoh berdiri hingga kau besar nanti nak. Semoga

 

jatenggayeng

Be Sociable, Share!

18 thoughts on “Semarang Tempo Doeloe

  1. waoooo tulisan dan foto2nya bagus momtraveler (y)
    saya sama skali belum pernah ke semarang, paling cuman ke jogja dan skitarnya, mungkin lain waktu bisa trip ke jogja nih πŸ™‚

    salam kenal travel blogger

  2. Sudah ke Semarang, tapi gak tau kalo ada Lawang Sewu. yang dilihat malah yang lain. Sampai sekarang malah gak sempet aja ke Semarang.

    Kalo liburan saya lebih suka mengunjungi tempat baru yang bisa memenuhi rasa liburan dan juga hasrat hobi saya. jika memang harus ke pantai ya gak papa. atau ke sebuah desa dengan kearifan lokal penduduk setempat juga gak papa.

  3. Ini mengingatkan kunjungan pertama saya ke Semarang tempo hari. Tetap saya mengenangnya sbg kunjungan yang indah.
    Mungkin tahun depan akan berkunjung lagi ke Semarang, saat Loenpia Jazz. Saya akan berkunjung ke lokasi2 lain yg belum sempat saya kunjungi seperti Pasar Seni di Kota Lama Semarang itu…
    Sukses dgn lomba blog-nya ya Mbak…

    Salam,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *