Tips Mendaki Gunung Bersama si Kecil

Tips Mendaki Gunung Bersama si Kecil

Assalamualaikum Sahabats …

Pernah nggak terpikirkan membawa balita naik gunung? Buat sebagian orang mungkin ide ini terdengar nekad. Gila aja bawa anak kecil naik gunung? Udara di atas sana kan seringkali ekstrim, orang dewasa aja belum tentu bisa survive apalagi balita? Well … let me tell one thing about kids. They may be small but the truth is inside that tiny little body there is a huge spirit and energy that will surprise you.

2016-10-12_12-50-251

Jeff Alt, penulis buku Get Your Kids Hiking: How to Start Them Young and Keep It Fun, mengatakan bahwa sebaiknya para orangtua membawa anaknya berpetualang di alam terbuka sejak dini. Tak perlu pergi jauh dulu, cukup dengan mengenalkan mereka pada alam dan membiarkan mereka mengamati secara langsung. Kegiatan di alam terbuka inilah yang kelak akan membuat mereka lebih mudah bersosialisasi dan peka terhadap lingkungan.

Setuju banget dengan pendapat Jeff Alt di atas. Ini bukan sekedar omongan belaka. Sebagai seorang ibu yang sudah terbiasa memboyong si kecil untuk traveling sejak bayi, aku sudah membuktikan berkali-kali bahwa tubuh anak-anak yang kelihatannya ringkih itu ternyata jauh lebih kuat dari tubuh kita orang dewasa. Bahkan untuk kegiatan yang ekstrim seperti mendaki gunung, ternyata anak-anak sanggup  menjawab tantangan itu dengan baik.

Kapan Waktu yang Tepat??

Pertanyaan ini seringkali ditanyakan banyak orangtua. Aku sendiri sih merasa setiap orangtua punya standartnya masing-masing. Ada yang sudah berani membawa bayinya liburan ke pegunungan bahkan mendaki gunung atau bukit tapi ada yang masih “eman-eman” mengekspose buah hatinya di alam terbuka dengan berbagai alasan. Aku sendiri nggak berani terburu-buru juga, apalagi dengan kondisi Nadia yang punya asma. Awalnya di usia 2 tahunan kami membawa Nadia ke daerah pegunungan sekedar untuk mengenalkan lingkungan baru dan baru di usia 4 tahun kami mulai mendaki gunung.

Semua kembali lagi pada pertimbangan orangtua yang pastinya lebih tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Kalau sudah merasa siap untuk membawa si kecil berpetualang, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar petualangan kita menyenangkan dan bebas masalah. Penasaran dong??? Yuk sini aku bisikin bocorannya khusus untuk sahabats momtraveler.com. 😉

Nadia belum genap 4th saat kami ke Bromo
Nadia belum genap 4th saat kami ke Bromo

 

  1. One Step at a Time

Seperti banyak banyak hal dalam hidup, kita harus memulainya selangkah demi selangkah. Mulai dari hal yang kecil kemudin bertahap naik tingkat. Begitu juga ketika traveling terutama bersama anak. Mulai dari hal yang sederhana dulu yang bisa dipahami dan dinikmati anak. Takutnya kalau ngikutin ambisi orangtua, anak-anak malah jadi trauma dengan hal yang berbau alam dan kapok diajak berpetualang lagi.

Mulai dari mengenalkan anak pada alam pegunungan dengan mengunjungi tempat wisata di pegunungan seperti perkebunan teh, mendaki bukit, baru deh mendaki gunung yang sesungguhnya.

  1. Perhatikan Pilihan Waktu dan Cuaca Saat keberangkatan

Merencanakan liburan bersama anak itu seru sekaligus tricky karena banyak hal yang harus diperhatikan termasuk memilih waktu keberangkatan. Menurut para pendaki sih naik gunung itu paling enak pas musim kemarau. Selain lebih medannya lebih bersahabat (nggak licin karena hujan), pemandangan jauh lebih indah di musim kemarau. Tapi musim kemarau di gunung biasanya jauh lebih dingin. Pemilihan waktu ini nantinya bakalan berhubungan dengan berapa banyak perbekalan (baju dan makanan) yang harus disiapkan.

Penting juga untuk survey akomodasi menuju lokasi. Kendaraan apa yang akan kita gunakan untuk menuju lokasi. Apakah untuk mencapai titik pendakian pertama kita harus melewati perjalanan jauh dulu yang bisa jadi bikin semangat anak kita jadi menurun bahkan bosan. Sebaiknya sih cari lokasi yang mudah dijangkau dengan mobil dan nggak terlalu lama untuk menjaga mood anak. Dengan begini juga stamina anak nggak terkuras sebelum waktunya.

kami di Bromo :)
kami di Bromo 🙂
  1. Buat Checklist Barang Bawaanmu

Bawa bayi traveling itu emang ribet, belum lagi bawaannya yang seabreg. Itu memang fakta tapi bukan berarti nggak bisa disiasati kan? Jangan lupa juga mempertimbangkan seberapa dingin cuaca di tekape karena akan mempengaruhi berapa banyak bawaan kita

Catat semua keperluan. Misalnya untuk pakaian hangat untuk anak, baju hangat harus lengkap dari mulai topi, earmuff (tutup telinga), shawl, jaket, sweater, kaos kaki, jas hujan, dan payung. Bawa sleeping bag yang tebal dan kualitasnya baik buat si kecil supaya tidurnya nyenyak.

Persiapan toiletries juga nggak kalah penting lho terutama popok. Lupain dulu deh toilet training toh di gunung nggak ada toilet. Daripada anak-anak merasa ngeri-ngeri syedap buang air di semak-semak mending sediakan popok supaya mereka merasa lebih nyaman.

Selalu bawa persediaan kantong plastik untuk menyimpan popok bekas dan sampah lainnya untuk kemudian dibuang saat turun gunung nanti.

  1. Briefing Sebelum Berangkat

This is a must for me, terutama kalau anak kita sudah cukup besar, misalnya usia TK. Jauh hari sebelum keberangkatan aku biasanya ajak si kecil browsing untuk menunjukkan lokasi yang akan kami tuju. Tunjukan foto keindahan gunung dan ceritakan kegiatana seru apa aja yang akan kita lakukan disana supaya dia jadi semangat dan nggak sabar menanti hari H. Dengan bercerita mengenai lokasi anak-anak akan aware tentang kondisi cuaca sembari kita terus menyemangati dan meyakinkan kalau mereka pasti bisa menyelesaikan petualangan ini.

salah satu kegiatan seru saat mendaki gunung adalah camping :)
salah satu kegiatan seru saat mendaki gunung adalah camping 🙂
  1. Bawa Perbekalan yang Cukup

Naik gunung bukan berarti stop minum susu. Namanya juga bocah pastinya nggak bisa jauh dari susu. Aku sih menganjurkan bawa UHT kemasan kecil supaya lebih praktis. Tapi kalau si kecil lebih memilih susu bubuk, bawa aja yang kemasan sachet jadi nggak ribet nakarnya. Jangan lupa bawa termos kecil yang ringan dan mudah dibawa-bawa.

Untuk makanan bawalah jenis makanan yang kalorinya tinggi tapi disukai anak-anak. Yup apalagi kalau bukan biscuit dan coklat mak. Works all the time for Nadia. Eh tapi kalau ada kesempatan memasak tetep si kecil dikasih asupan makanan yang cukup karena bagaimanapun asupan makanan itu akan memberikan energi yang cukup untuk mereka beraktivitas dan melawan udara yang dingin.

  1. Ajaklah Orang yang Lebih Berpengalaman dan Menguasai Medan

Terutama bila ini adalah kali pertama kunjungan kita ke lokasi. Dengan mengajak orang yang berpengalaman rasanya hati jadi lebih tentram aja. Kan mereka lebih paham medan daripada kita dan tentunya sudah siap dengan segala situasi. Selain itu, mengajak orang lain ikut berpetualang bisa jadi kesempatan untuk mengajarkan bersosialisasi pada si kecil.

Dua kali pengalaman mendaki kami mengajak teman yang sudah lebih berpengalaman. Kebetulan teman ini juga memang terbiasa jadi pemandu para pendaki gunung, jadi bisa sekalian sewa tenda dan perlengkapan mendaki lainnya.

bersama teman saat camping di B29, Lumajang. Jatim
bersama teman saat camping di B29, Lumajang. Jatim
  1. Pertimbangkan menggunakan Jasa Porter

Jangan merasa sok kuat deh. Naik gunung dengan membawa beban tubuh sendiri aja bukan hal mudah apalagi kalau si kecil tiba-tiba ngadat dan minta gendong? Alhasil kita jadi ketinggalan jauh dari rombongan dan jadwal yang sudah disepakati.

Kalau ingin menggendong si kecil sendiri gunakan kid carrier yang nyaman dan aman untuk punggung dan tulang belakang kita. Kalau bisa malah sewa porter untuk membawa semua barang kita sehingga kita tinggal focus sama si kecil. Bergantian menggendong antara emak dan bapak itu wajib hukumnya. Syukur-syukur kalau si anak mau digendong sama mas porter sekalian. Teteup ya tapi, jangan sampai si kecil lepas dari pengawasan kita.

Nadia menjejak bukit Sikunir bersama om Ivan yg juga jadi pemandu kami
Nadia menjejak bukit Sikunir bersama om Ivan yg juga jadi pemandu kami
  1. Sadari Kemampuan Tubuh

Orang dewasa aja bisa tumbang saat naik gunung apalagi si kecil. So jangan pasang target terlalu tinggi. Nikmati aja setiap langkahnya. Jauh tertinggal di belakang rombongan nggak apa-apa selama si kecil merasa nyaman. Ajak si kecil ngobrol untuk mengalihkan rasa lelah dan bosan selama pendakian. Dan kalau memang dia merasa lelah dan pengen beristirahat, maka berikanlah haknya. Sembari beristirahat kita bisa ambil foto si bocah sebanyak mungkin dengan berbagai background. Mumpung ada pemandangan yang keren jangan sampai dilewatkan. Foto-foto inilah yang nantinya akan jadi kenangan sampai mereka dewasa nanti.

  1. P3K is a must
foto by:obatapasaja.com
foto by:obatapasaja.com

Jangan pernah menyepelekan hal-hal kecil, terutama saat liburan bersama si kecil. Apalagi di kondisi dan cuaca yang cukup ekstrim, perbekalan obat harus memadai. Nadia sendiri punya asma sejak bayi, jadi semua obat asma Nadia jadi prioritas utama kami.

Selain itu bawa juga obat diare, obat flu, obat batuk, minyak kayu putih, salep anti peradangan atau luka, krim anti nyamuk atau anti gatal, vitamin, sunblock, obat merah, plester, dsb. Nggak kalah penting juga adalah membawa obat turun panas karena perubahan cuaca bisa membuat pertahanan tubuh jadi berkurang dan menyebabkan demam.

Untuk pengobatan demam ini aku biasa pakai Tempra sejak dulu. Alasannya karena sejak aku kecil aku juga pakai Tempra dan memang cocok banget karena Tempra cepat menurunkan demam. Semua pastinya udah kenal dong sama Tempra. Obat penurun panas bagi anak ini berbentuk sirup, dengan kandungan paracetamol yang bekerja langsung di pusat panas. Kelebihan Tempra adalah tidak menyebabkan iritasi pada lambung serta tidak memengaruhi fungsi ginjal.

Bebas Alkohol dan Enak Rasa Buahnya

Alasan pribadi aku memilih memakai Tempra adalah rasa buahnya yang disukai anak-anak, jadi nggak pakai perang dulu kalau mau minum obat. Udah gitu ada gelas takarnya juga, jadi nggak bingung ngira-ngira dosis yang kita kasih itu udah sesuai belumTempra juga tersedia untuk berbagai jenjang umur anak lho, jadi pemakaiannya bisa disesuaikan dengan umur dan kebutuhan.

Tempra Drops untuk anak usia di bawah 2 tahun                               dengan rasa anggur

Tempra syrup untuk anak anak usia 2 – 5 tahun                                 dengan rasa anggur

Tempra Forte untuk anak usia 6 tahun keatas                                     dengan rasa jeruk

Dan alasan yang paaling penting buat aku selain Tempra itu bebas alcohol, Tempra juga cespleng kalau dipakai Nadia. Pernah sekali waktu nyobain obat panas merk lain yang mengandung Ibuprofen dan ternyata Nadia malah alergi saudara-saudara. Alih-alih sembuh genduk cantikku jadi bengkak dan seluruh badannya muncul bintik merah. Untung bu dokter langsung kasih Nadia obat anti alergi. Sejak itu jadi tau deh kalo Nadia ternyata alergi Ibuprofen dan akhirnya kembali lagi ke selera asal. Tempra selalu jadi pilihan nomer satu kami. 🙂

tempra-fl

Sekarang kak Nadia sudah 8 tahun, jadi aku sedia Tempra Forte di rumah dan tentu saja selalu dibawa setiap kami traveling. Pada setiap 5ml Tempra Forte ini mengandung 250 mg Paracetamol. FYI ya, Paracetamol ini bekerja sebagai antipiretika pada pusat pengaturan suhu di otak dan analgetika dengan meningkatkan ambang rasa sakit. Selain untuk pengobatan demam, Tempra juga dapat meredakan rasa sakit dan nyeri ringan, sakit kepala, dan sakit gigi. Buat dede bayi yang biasa demam abis imunisasi juga bisa dikasih Tempra lho.

 Eits … yang perlu diingat kalau anak-anak panas jangan langsung panic deh. Suruh mereka istirahat dan minum banyak cairan. Kalau suhu tubuh masih di atas 38°Celcius baru deh kita kasih Tempra untuk menurunkan panas tubuh. Untuk info lebih lanjut tentang Tempra, silakan sahabats langsung ngintip di FB @OneThousand Smile

Alhamdhulilah ya, sekarang nggak perlu panik lagi kalau mau liburan ke pegunungan atau muncak sama si kecil. Selalu sediakan Tempra di kotak P3K kita dan insyaallah liburan tetap ceria dan menyenangkan. Semoga tips mendaki gunung bersama si kecil bermanfaat baut para pembaca setia blog ini. Enjoy your adventure folks. 🙂

the Magnificent Bromo
the Magnificent Bromo

 

“Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho.”

 

Be Sociable, Share!

66 thoughts on “Tips Mendaki Gunung Bersama si Kecil

  1. Wah asyiknya kak Nadia udah sampai ke mana2.. Aku aja baru naik gunung Ungaran doang 🙂

    Dulu cita2 suami pengen ngajak anak istri camping di gunung, tapi anak udah mo dua belum kesampaian juga 😀

  2. Wuih seru. Pengen deh ngajak anak-anak naik gunung kayak Mak Muna. Tapi, emaknya aja terakhir naik gunung itu tahun 2000. Dan waktu badan masih kurus. Sekarang? Hehehhehe… Sehat-sehat selalu, ya. Jangan sampe demam menghambat aktivitas seru anak-anak. 🙂

    1. obat2an asmanya jangan sampe lupa kalo gitu, nadia juga asma soalnya tapi alhamdhulilah kalo naik gunung sehat2 aja

  3. Aku tuh sejak anak-anak bayi pengen ngajakin ke gunung. Tapi enggak pernah keturutan, hihii. Cuma aku yang hobi jalan ke gunung, bapaknya enggak. Tapi umur 5 bulan milzam udah kami ajak ke Bandungan sih, belanja sayuran, hahaha

  4. Halo kak Nadia, yg bentar lagi punya adik. Kapan2 ajak tante naik gunung bareng doong. 😉

    Oya, Ranu jg selalu bekal Tempra klo traveling lho

  5. Liburan emang seru ya bun kalau bisa bawa anak-anak, tapi kalau mereka demam jadi sedih deh 🙁
    Pintar-pintarnya kita sebagai ibu yang harus menyiapkan segala sesuatunya agar anak kembali sehat, seperti membawa Tempra yang cepat menurunkan demam anak 🙂

  6. Dulu ketika masih single sering mendaki, tapi tiba sdh berumah tangga semua kegiatan itu berhenti, sekarang anak anak sudah besar 8thn dan 3 thn, pingin rasanya mendaki lagi membawa anak anaku, tapi semua itu bertolak belakang dgn suami yg ga hobby ke gunung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *