Travel Writing Ala Yudasmoro

Travel Writing Ala Yudasmoro

Assalamualaikum sahabats ….

Akhir-akhir ini sepertinya semua orang lagi terjangkiti demam traveling. Nggak ada yang lebih keren selain memajang foto-foto traveling di laman sosial media. Semua orang bisa traveling. Pergi ke berbagai tempat indah, entah hanya untuk sekedar gengsi, mengikuti trend, atau memang memuaskan jiwa petualang yang kesehariannya terkungkung di balik meja kerja. Semua bisa traveling tapi tidak semua mampu menuangkan dan mengabadikan pengalamannya dalam sebuah catatan perjalanan.


Seiring dengan pesatnya trend traveling, travel writer atau penulis perjalanan menjadi pekerjaan idaman saat ini. National Geographic bahkan menyebut kalau travel writer is one of the best job in the world. Jalan –jalan keliling dunia, menikmati fasilitas bintang lima, mencoba bermacam makanan enak, dan dibayar. Duuuhhh … ini sih bukan kerja kali ya?? Surgaaaaa……

Sekilas enak banget ya kayanya hidup para travel writer dan bayangan inipun yang bikin aku pengen jadi travel writer. Tapi ternyata nggak gampang lho jadi travel writer. Berhasil menulis beberapa buku traveling menyadarkan aku kalau untuk menjadi seorang travel writer sukses itu bukan pekerjaan yang gampang. Travel writer adalah sosok profesional yang harus bekerja dengan standar kualitas tertentu, bukan sekedar sampingan dan foya-foya. (Yudasmoro, 2015)

Dalam bukunya yang berkudul Travel Writer, Yudasmoro, salah seorang travel writer kondang Indonesia, mengajak kita-kita yang pengen terjun dalam dunia travel writer untuk jangan selalu memikirkan travel for free and get paid. Jauh sebelum itu ada kredibilitas dan profesionalitas yang harus kita bangun terlebih dahulu. Jika kita hanya sesekali atau bahkan iseng menulis artikel perjalanan di sela-sela kesibukan kantor dan hanya menganggap menulis sebagai selingan, bisa dipastikan nggak akan ada media atau pihak yang juga β€œiseng” ngajakin kita famtrip atau ngongkosin kita liburan gratis.Tuh terjawab kan kenapa sampai hari ini belum ada yang ngajakin aku famtrip??? Sampai hari ini masih belum mampu membaktikan jiwa dan raga untuk dunia travel writing sih. πŸ™

Menulis artikel perjalanan untuk media pun bukan soal gampang. Ada yang harus berkali-kali mengirim tanpa jawaban (tunjuk diri sendiri), ada yang dibayar cukup dengan kata terima kasih atau dengan honor yang mepet atau bahkan nggak dibayar sama sekali (tunjuk diri sendiri lagi). Kesulitan inilah yang harus kita jalani dulu. Membaca buku Yudasmoro ini menyadarkanku kalau ternyata dunia travel writing itu bukan melulu tentang having fun but all about dedication.

“Travel writer tak ubahnya seperti pemilik warung. Ia membeli barang dagangan dengan harga borongan untuk dijual di warung, menyetok barang, menjualnya kepada pelanggan dengan ditambah ongkos transport dan lain-lain, dan mendapatkan untung dari margin harga jual barang. Travel writer pun sama persis konsepnya. Ia β€œmembeli barang” untuk dijual (traveling untuk membuat liputan), menyetoknya (nenyusun liputan dan mengedit foto), untuk kemudian dijual kepada pelanggan (ditawarkan pada editor berbagai media), dan mendapatkan keuntungan dari margin harga jual. (Yudasmoro, 2015: 15)”

yudasmoro

Jadi tetapkan dulu visi dan misi awal kita. seorang penulis juga harus punya misi, dan misi kita sebagai travel writer adalah untuk menulis liputan yang berkualitas, disertai dengan foto-foto pendukung yang tak kalah berkualitas, dan pandai menjual diri dalam arrtian pandai menangkap peluang. Jangan lupa juga untuk memberi personal touch. Saat ini banyak lho travel writer, jadi kita harus datapunya ciri khas tersendiri. Alhamdhulilah selama ini sudah membangun ciri dan branding sebagai Momtraveler, emak yang hoby nenteng anaknya traveling. Memang mungkin saat ini bukanlah tema yang mainstream dan banyak dicari tapi aku sih insyaallah tetep aja istiqamah dijalur ini. πŸ™‚

Ketika memutuskan terjun di dunia menulis maka ingatlah, travel writing juga harus mengikuti kaidah jurnalistik yang ada. Menguasai EYD dan tata bahasa itu penting, sedangkan untuk memilih gaya penulisan tentunya sesuai selera kita aja. Kita bisa menulis dengan gaya jurnalisme sastra yang memadukan data dan olah kata yang kuat; jurnalisme naratif yang lebih menyentuh alur cerita dan plot yang dinamis; feature atau cerita sederhana; bahkan melakukan wawancara yang bisa diselipkan dalam artikel kita nantinya.

Satu lagi pesan penting dari Yudasmoro bagi para travel writer agar juga menekuni dunia fotografi. Keduanya seperti dua sisi mata uang, saling melengkapi. Artikel travel membutuhkan semacam panduan dalam bentuk gambar untuk meyakinkan pembaca dan membawanya ke dalam suasana petualangan yang ada dalam artikel. (Yudasmoro, 2015: 63)

Kalau artikel travel kita pengen dilirik media ya harus bisa bikin foto yang menjual dan nggak bikin malu media dong. Bukan berarti kita harus beli kamera tercanggih lengkap dengan lensanya yang segede gaban karena foto yang bagus belum tentu dihasikan oleh kamera yang mahal. The man behind the gun, that’s the most important thing. Ketika situasi tidak memungkinkan kita menggunakan SLR maka manfaatkan pocket kamera. Kuncinya satu, pandai-pandailah menangkap moment.

Nah kalau sudah yakin mau jadi travel writer kita harus punya dong style menulis sendiri. Dulu sempat bingung juga harus menulis seperti apa. Baca bukunya Trinity pengen nulis dengan gaya kocak tapi kok jadinya wagu, mo nulis dengan gaya mendayu-dayu macam Windy Ariestanty atau mak Nurul Noe kok makin wagu, dan semakin banyak baca semakin bingung hehehe. Untungnya aku nggak mau kelamaan bingung. Sepeerti kata Yudasmoro, Di saat awal kamu akan merasa sulit menemukan gaya menulis karena terlalu banyak dipengaruhi gaya tulisan penulis lain. Akan tetapi, biarkan waktu yang akan menjawab. Semakin lama, gaya tulisanmu akan terbentuk dengan sendirinya. (Yudasmoro, 2015: 111)

Membaca buku ini menyadarkan kalau komitmenku di dunia ini masih sebelum sebanding dengan cintaku pada dunia traveling. Langkah awalnya mungkin berat; membangun citra diri, menguasai dunia fotografi, menjalin relasi dengan media, dan banyak PR penting lainnya termasuk stop merasa nggak pede. Berbekal istiqamah untuk terus semangat belajar, I will get there someday.

2015120809514724(1)

Be Sociable, Share!

39 thoughts on “Travel Writing Ala Yudasmoro

  1. ah setuju mbaaaa… skrg banyaaak banget blogger yg nulis cerita perjalanan sekali aja, maunya dianggap travel writer.. kan prosesnya gak semudah ituu… *trus ditoyor masal*

    1. aku juga belum pede mengakui diri travel blogger yg penting semangat nulis aja deh. biar waktu yg membuktikan tsaaahhhh πŸ˜›

  2. Pencerahan banget ini mba… jadi travel writter juga harus berdedikasi tinggi dan komit. Kalau daku mah belum berani mengklaim diri sebagai blogger ini dan ono… secara postingan juga gak melulu soal traveling.. hihihi ;).

  3. Dapat semangat lagi nih agar bisa survive di dunia TW (Travel Writing). Saya juga suka baca artikel2 Yudasmoro di blognya. Makasih sharenya Kak dan tetap pada niche-mu sebagai Momtraveler. πŸ˜€

  4. kalo aku lebih milih jd lifestyle blogger aja deh soale postingan ku masih suka geje, foto juga masih belum nemu angle yg baik sewaktu adventure sekalipun mbak

  5. Cakep. Aku termasuk dua gaya bahasa. Di blog aku lebih casual gaya bahadanys Dan lebih kucluk, dalam artian banyak cerita Dan pengalaman ‘aneh’. Klo media, beneran memeras otak untu mengolah kata. So far, bahagia melewat segala semak belukar travel writer.

  6. Sudah membaca bukunya Om Yudas. Memang bener. Travel writer sekilas enak dilihat, tapi melakukannya tidak mudah karena harus menetapkan standar kepenulisan dan profesionalisme yang baik. Setiap orang memang punya gaya berbeda, namun beliau sudah meletakkan dasar-dasar menulis (prinsip jurnalisme) yang bisa diterapkan dalam tulisan kita.

    Travel writer itu gak jauh-jauh dari traveling, traveling berarti bicara pariwisata, pariwisata berarti bicara bisnis/industri. Jadi, travel writer memang harus pandai mem-branding diri πŸ™‚

  7. Ah,,, setuju banget deh mbak. Sekarang nggak berharap dapat gratisan dan semacamnya,,,, yang penting menulis dan terus menulis. Maklum newbie dalam dunia ini,,, aku sendiri pun belum nemu lifestyle tulisan aku πŸ™‚ semoga cepat disadarkan nieh mom.

  8. Zaman sudah berubah ya Mak. Zaman pas saya mulai “keluyuran” dulu di awal tahun 2009 kayaknya nggak ada bayangan klo “traveling” itu bakal populer. Apalagi kemudian memunculkan profesi “travel writer” yang mana sering dipandang orang sebagai “kerja sambil jalan-jalan”.

    Kadang-kadang jadi merasa jengkel, kalau bertemu orang yang kalau bepergian selalu disangkut-pautkan dengan “traveling yang menghasilkan uang”. Padahal sejatinya traveling kan rekreasi. Nah kalau sudah begitu, rekreasinya para travel writer itu apa dong ya?

  9. Setuju pakai banget nih, tidak ada sesuatu yang gratis yang dicapai dengan pencapaian yang asal-asalan πŸ™‚
    Pencerahan banget buat aku, yang nulis kΓ₯dΓ€ng masih suka asal-asalan tapi berharap banyak πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *