Wharton Dean’s Medal Untuk Sukanto Tanoto yang Peduli Masyarakat

Assalamualaikum Sahabats ….

Sahabats pernah mendengar pepatah, ‘Apa yang kamu tabur, itulah yang akan kamu tuai?’ Jika kamu banyak menanamkan kebaikan, niscaya banyak hal bagus yang akan kamu peroleh dalam hidup. Hal itu berlaku sebaliknya. Kalau tidak percaya, lihat saja kisah perjalanan hidup Sukanto Tanoto dalam mengembangkan bisnisnya.

Lahir di Belawan pada 25 Desember 1949, Sukanto Tanoto adalah sosok bereputasi besar dalam dunia usaha. Namanya dalam percaturan bisnis tak hanya harum di dalam negeri. Ia juga dikenal sebagai pengusaha andal oleh kalangan internasional.

Hal itu terbukti dari penghargaan dari sekolah bisnis terkemuka di dunia, The Wharton School of the University of Pennsylvania berupa Wharton Dean’s Medal pada Oktober 2012. Tidak sembarang orang yang bisa mendapatkannya. Hanya sosok-sosok entrepreneur terbaik yang memperolehnya. Ada beberapa aspek yang membuat aspek yang membuat The Wharton School of the University of Pennsylvania menilai Sukanto Tanoto layak mendapatkan Wharton Dean’s Medal. Pertama tentu saja kiprahnya di dunia bisnis.

Sebagai pendiri grup Royal Golden Eagle, Sukanto Tanoto dinilai berhasil melakkan inovasi bisnis di Indonesia dengan brilian. Selain itu, kepemimpinannya dalam dunia usaha di skala global juga terlihat nyata. Itu terbukti dari jangkauan bisnis Royal Golden Eagle yang tidak hanya ada di Indonesia. Perusahaan Sukanto Tanoto juga beroperasi di Malaysia, Singapura, Filipina, Brasil, Kanada, Tiongkok, serta Finlandia.

Namun, bukan hanya kiprah brilian di dunia usaha saja yang menjadi alasan Sukanto Tanoto layak dianugerahi Wharton Dean’s Medal. Ia dinilai aktif memberantas kemiskinan dengan mengedepankan berbagai kemudahan akses pendidikan ke khalayak. Selain itu, aktivitas filantropi sangat banyak dilakukan oleh suami Tinah Bingei Tanoto tersebut.

The Wharton Dean’s Medal mengidentifikasi kiprah luar biasa pebisnis global yang secara aktif mengusung tiga pilar sekolah, yakni dampak sosial, inovasi, dan keberadaan di percaturan global,” ujar Thomas S. Robertson dari Wharton Dean. Sukanto Tanoto memang merupakan alumnus The Wharton School. Ia belajar di sana ketika mampu membiayai pendidikan untuk dirinya sendiri. Patut diketahui, sebelumnya, sosok yang besar di Medan itu pernah putus sekolah untuk mengelola usaha keluarga demi menyambung hidup.

Dengan meraih Wharton Dean’s Medal, berarti Sukanto Tanoto sejajar dengan sejumlah nama besar di dunia. Mulai dihadirkan oleh The Wharton School of the University of Pennsylvania pada 1983, penghargaan ini pernah diberikan kepada mantan Presiden Filipina, Fidel Ramos, Chairman US Federal Reserve, Alan Greenspan, eks-Chairman and CEO Hewlett-Packard, Lewis Platt, serta Chairman Emeritus General Electric Company, Reginald H. Joes.

Sukanto Tanoto hadir menerima Wharton Dean’s Medal secara langsung di The Wharton School of the University of Pennsylvania. Penghargaan ini merupakan bukti bahwa pebisnis seharusnya tak selalu hanya mengedepankan profit. Kepedulian terhadap berbagai pihak lain seperti upaya memberantas kemiskinan wajib dilakukan.

 

MENDIRIKAN TANOTO FOUNDATION

Sukanto Tanoto sukses mengembangkan Royal Golden Eagle sebagai perusahaan dengan aset senilai 15 miliar dollar Amerika Serikat lebih. Ia juga membuka kesempatan kerja terhadap 50 ribu orang karyawan. Sepintas, dengan bidang industri beragam yang mesti dikelolanya mulai dari kayu lapis, pulp and paper, energi, kelapa sawit, hingga serat viscose, Sukanto Tanoto akan sibuk bekerja saja. Namun, kalau hanya seperti itu, ia pasti tak akan mendapat Wharton Dean’s Medal.

Di tengah kesibukannya dan aktivitas padat, Sukanto Tanoto ternyata tak hanya memikirkan diri sendiri. Ia menunjukkannya dengan mendirikan Tanoto Foundation bersama sang istri pada 1981. Diawali dengan mendirikan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar di Besitang, Sumatera Utara, Tanoto Foundation berkembang pesat.

Sukanto ternyata menjadikannya sebagai sarana untuk merealisasikan salah satu mimpinya, yakni memberantas kemiskinan di Indonesia. Ia tahu betapa pedih hidup kekurangan seperti yang pernah dirasakannya. Maka, Sukanto Tanoto berharap agar orang lain tidak bernasib seperti dirinya pada zaman dulu.

“Sebagai pendiri Tanoto Foundation, kami percaya bahwa setiap orang  harus mendapatkan kesempatan untuk merealisasikan potensi dirinya secara penuh. Kami percaya bahwa upaya penanggulangan kemiskinan yang efektif membutuhkan pendekatan holistik yang meliputi pendidikan, pemberdayaan, dan peningkatan kualitas hidup, “ ucap Sukanto Tanoto. “Oleh karena itu, Tanoto Foundation bekerja sama dengan masyarakat dan mitra-mitra lainnya untuk mengatasi akar penyebab kemiskinan. Kami memfokuskan kegiatan kami di daerah pedesaan, di mana kemiskinan masih banyak ditemui.”

Hingga kini, Tanoto Foundation telah aktif melakukan berbagai kegiatan pemberantasan kemiskinan. Mereka memudahkan akses pendidikan dengan memberi beasiswa. Selain itu, dukungan berupa pelatihan pemberdayaan masyarakat dilakukan dalam berbagai bentuk. Semua masih ditambah dengan kiprah pembenahan infrastruktur dan fasilitas untuk peningkatan kualitas hidup.

 

REAKSI POSITIF DALAM KRISIS

Kepantasan Sukanto Tanoto dalam meraih Wharton Dean’s Medal semakin terlihat ketika krisis menerpa perusahaannya beberapa waktu lalu. Pada 1997, Indonesia dan kawasan Asia secara umum terkena krisis moneter yang parah.Saat itu, nilai tukar rupiah dibanding dollar Amerika Serikat menurun drastis. Akibatnya sangat fatal. Nilai utang melonjak drastis, begitu pula halnya dengan berbagai biaya operasi usaha.

Ketika itu sangat banyak perusahaan di Indonesia yang bangkrut. Mereka terpaksa gulung tikar dan memberhentikan karyawannya dari hubungan kerja. Perusahaan Sukanto Tanoto bukannya kebal krisis. Ia juga mengalami problem yang sama. Bahkan, nilai utangnya mendadak membengkak sekitar 50 persen. Dalam kondisi seperti itu, ancaman kebangkrutan sangat nyata. Namun, Sukanto Tanoto tak mau menyerah. Ia sadar dirinya adalah pemimpin usaha yang menghidupi banyak orang. Maka, ia bertekad mempertahankan eksitensi perusahannya supaya nasib para karyawannya terjaga.

Maka, Sukanto Tanoto memutar otak. Dengan berat hati, ia menjual asetnya yang ada di Tiongkok untuk membayar utang yang jatuh tempo. Bersamaan dengan itu, ia bernegosiasi dengan bank untuk menjadwalkan kreditnya lagi. Selain itu, Sukanto Tanoto bahkan malah menginvestasikan sisa dana yang dimiliki untuk memutar roda perusahaannya. Semua agar ada lapangan kerja baru karena ketika itu pemutusan hubungan kerja ada di mana-mana.

“Saat menjual aset yang di Tiongkok, saya bawa duit itu ke sini pada 1999-2000. Waktu itu siapa mengira Indonesia bisa kembali seperti ini,” kenang Sukanto Tanoto. Krisis hebat itu tidak hanya mengajarinya untuk mengambil keputusan berat. Bersamaan dengan itu, Sukanto Tanoto juga melakukan langkah “aneh” lain. Alih-alih hanya berupaya mempertahankan bisnis, ia justru berusaha keras membantu masyarakat yang juga terpukul akibat krisis moneter.

Kala itu, Sukanto Tanoto menginstruksikan semua unit usahanya untuk memperbanyak kegiatan corporate social responsibility karena masyarakat sedang kesulitan. Salah satu perusahaan Sukanto Tanoto malah mendirikan komite pertumbuhan komunitas dan memulai program Sistem Pertanian Terpadu. Kini, program itu sukses dalam meningkatkan taraf hidup orang banyak.

“Kalian harus terus memerhatikan masyarakat sekitar, tidak hanya para karyawan, tapi juga komunitas,” demikian pesan Sukanto Tanoto terhadap pengelola perusahaannya. “Hal ini tidak terbatas pada mendidik masyarakat dengan membangun sekolah. Masyarakat harus makan, mereka harus bertahan hidup. Jadi ketika pemerintah tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, para pengusaha harus masuk untuk segera memenuhi kebutuhan tersebut.”

Sukses dalam bisnis yang dibarengi dengan kepedulian terhadap pihak lain ini yang membuat Sukanto Tanoto berbeda dibanding yang lain. Maka, tak aneh Wharton Dean’s Medal yang bergengsi diraihnya.

 

Be Sociable, Share!

3 Replies to “Wharton Dean’s Medal Untuk Sukanto Tanoto yang Peduli Masyarakat”

  1. Keren ya tak hanya memajukan perusahaan, beliau juga peduli pada karyawan dan masyarakat sekelilingnya

  2. Salute buat orang yg perduli dengan org disekelilingny . .

  3. Suka banget baca-baca kisah inspirasi begini, jadi semakin semangat membenahi diri.

Leave a Reply