Assalamualaikum Sahabats 🙂
Salah banget kalau ada yang menduga Momtraveler cuma hobby wisata alam. Yes … nature always fascinates me, but history tracking is also one of my favorite thing. 😉 So .. di kota Banda Aceh yang sangat kental dengan peninggalan sejarah dan cerita perjuangan kemerdekaan Indonesia, sayang banget kalau nggak mengadendakan history tracking. 🙂
Sudah menjadi rahasia umum bahwa keindahan Indonesia Timur memang tak terbantahkan. Bentang alamnya yang eksotis dan masih sangat alami membuat kawasan Indonesia Timur menjadi primadona pariwsata Indonesia saat ini. Dari sekian banyak keindahan yang tersebar di kawasan Indonesia Timur, ada sebuah tempat yang namanya kian mendunia. Sebuah surga yang menjadi Mekah bagi para diver kelas dunia. Tempat ini bahkan telah dinobatkan menjadi “ibu kota” segitiga terumbu karang dunia. Sebuah tempat yang terletak nun jauh di tanah Papua yang telah menjelma menjadi destinasi kelas dunia incaran dan impian banyak traveler termasuk aku. Raja Ampat.
Apa sih yang membuat Raja Ampat begitu seksi dan mempesona? Well … meskipun aku belum pernah melihatnya secara langsung namun dari berbagai artikel dan buku yang sudah pernah kubaca, Raja Ampat memang tidak ada bandingannya. Raja Ampat adalah destinasi wisata kelas dunia yang masih sangat kental akan cita rasa lokal di setiap sudutnya. Tidak ada satu lokasi pun di dunia ini yang dapat disejajarkan dengan keindahan dan kekayaan alam yang dimiliki Raja Ampat, lokasi penyelaman terbaik dunia yang menawarkan 1.320 spesies ikan karang, lebih dari setengah soft coral, dan tiga perempat hard coral dunia. Dunia lho ya, bukan ASEAN atau Asia. 🙂
Pemandangan bawah laut yang spektakuler ini terbentang mulai dari Selat Dampier (antara Pulau Batanta dan pula-pulau kecil Kri dan Mansuar), sedikit ke Utara hingga teluk Kabui (antara Pulau Gam dan Waigeo), terus berlanjut hingga ke Barat, tepatnya di Pulau Fam, Fainemo, dan Pulau Gag. Lanjut kearah Utara ada Pulau Kawe, dan nyaris di ujung Utara yakni Pulau Wayag yang cantik baik diatas maupun bawah lautnya. Ke Selatan ada Pulau Kofiau dan Pulau Misool. Entah berapa banyak lagi jumlah pulau kecil yang tersebar di kawasan Raja Ampat, yang jelas kemanapun mata memandang hanya keindahan yang akan kita saksikan.
A Heaven Discovered
Adalah Max Ammer seorang penyelam asal Belanda yang pada tahun 1990 sedang melakukan pencarian terhadap rongsokan pesawat terbang milik Belanda yang jatuh di perairan Papua. Saat pencarian itulah, Ia menemukan surga bawah laut di Raja Ampat, Papua. Sejak itulah cintanya pada Raja Ampat tumbuh sehingga Ia memutuskan untuk menetap dan mendirikan beberapa resort dan menjadi dive operator disana. Sejak saat itulah resort dan homestay mulai menjamur di kawasan raja Ampat. Sebagai bentuk penghargaan dan kecintaannya pada tanah Papua, Max Ammer mempekerjakan penduduk lokal di resortnya, beberapa diantaranya bahkan menjadi dive guide andalan resortnya.
Begitu indahnya Raja Ampat hingga lokasi ini didaulat menjadi tuan rumah Sail Raja Ampat pada bulan Agustus 2014 lalu. Acara ini diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Pantai Wasai Torang Cinta dan dipadati oleh wisatawan dari dalam dan luar negeri. Berbagai acara seru diadakan seperti Pagelaran tari kolosal ‘Harmoni Raja Ampat’ dan aksi terjun payung. Ini adalah salah satu upaya pemerintah memperkenalkan kearifan lokal setempat sekaligus meningkatkan kunjungan wisata ke Raja Ampat. Pasti meriah sekali ya acaranya dan pastinya membuatku semakin ingin mengunjungi Raja Ampat.
(sumber foto: www.indonesia.travel)
Sebagian besar orang merasa bahwa Raja Ampat hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki keahlian menyelam mengingat keindahan bawah lautnya. Ternyata dugaan itu salah lho. Tak melulu hanya diving, bagi kita-kita yang belum memiliki sertifikat menyelam, masih banyak kok aktivitas yang bisa dilakukan di Raja Ampat. Rupanya keindahan Raja Ampat masih bisa dinikmati hanya dengan snorkeling. Jernihnya air laut disini membuat aktivitas snorkeling menjadi sangat menyenangkan. Ada banyak gugusan terumbu karang dan ikan dengan berbagai macam warna yang siap menyapa kita. Hanya dengan mengapung dipermukaan, kita suda bisa menari-nari bersama ikan pari, wobbegong (hiu karpet), walking shark (epaullete shark), nudibranch yang berwarna oranye, giant clam, bargibanti pygmy seahorse, dan masih banyak lagi. Seruuuu!!! 🙂
(sumber: www.diverajaampat.com)
(sumber: www.epariwisata.com)
Puas menjelajahi bawah laut Raja Ampat jangan sampai lupa menikmati keindahan alamnya ya. Menurutku salah satu cara yang paling asyik untuk menikmati Pulau-pulau yang tersebar di Raja Ampat adalah dengan island hopping. Island hopping secara harafiah berarti singgah dari satu pulau ke pulau lainnya. Sembari meyambangi Pulau-pulau kecil tersebut, kita bisa duduk santai menikmati hembusan angin dan lembutnya pasir putih yang siap memanjakan siapapun. Aku sudah bisa membayangkan duduk di pinggir pantai sembari menikmati moment sunset dan sunrise. Ahh .. rasanya pasti seperti berada di surga ya. 😉 Memang tidak ada atraksi khusus yang bisa kita saksikan saat island hopping selain menikmati keindahan dalam dan tentunya berinteraksi dengan penduduk setempat, tapi bukan berarti island hopping jadi membosankan.Bayangkan puluhan pulau-pulau kecil yang memiliki keindahannya masing-masing. Dari mulai pasir putih yang tersebar di sekeliling pantai, hijaunya pepohonan, hingga gua-gua kecil menunggu untuk kita eksplorasi. Kerennn!! 😉
Penduduk setempat akan menyambut semua pengunjung dengan keramahan khas Papua yang menyenangkan. Kalau beruntung kita bahkan bisa bermain dan berenang bersama anak-anak kampung yang polos dan lucu. Bukankah traveling itu tak sekedar bersenang-senang tetapi juga mengenal budaya setempat dan keraifan lokal? Melalui masyarakat setempat kita bisa memahami bagaimana selama ini mereka berjuang melestraikan ekosistem yang ada di Raja Ampat. Nelayan setempat biasa menangkap ikan dengan cara tradisional, seperti memancing tanpa menggunakan umpan atau dikenal dengan istilah Bacigi. Mereka juga menerapkan sasi, yaitu larangan menangkap jenis ikan tertentu pada waktu tertentu sehingga keseimbangan ekosistem laut terjaga. Bagi penduduk setempat laut laksana ibu yang senantiasa memberikan kehidupan dari hulu hingga hilir sehingga kelestariannya adalah tanggung jawab bersama.
(sumber: www.travel.detik.com)
Masih ada satu aktivitas seru yang wajib dicoba di Raja Ampat, bird watching. Salah satu kekayaan alam papua yang sudah tersohor hingga manca negara adalah Bird of Paradise. Ya .. surga Papua memang dipenuhi mahluk cantik seperti Burung Cendrawasih. Kegiatan ini bisa dilakukan dengan mengunjungi Desa Sawinggrai, di Selatan Pulau Gam. Namanya juga burung surga, tentunya tak mudah untuk bisa menikmatinya. Kita dianjurkan untuk sampai dilokasi pada pukul 06.00. Burung Cendrawasih biasanya hinggap di pepohonan yang tinggi, jadi kita harus menengadah untuk menikmati si cantik berbulu merah menyala ini.
(sumber foto: www.tabloidjubi.com)
Sempurna Bukan Berarti tak Terjangkau
Sempurna. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan Raja Ampat dengan sejuta pesonanya dan alangkah sempurnanya hidup ini bila suatu hari nanti impian traveling ke Raja Ampat terwujud. Bukan hal yang tidak mungkin karena ada banyak cara untuk menuju Raja Ampat. Raja Ampat tak hanya bisa dinikmati wisatawan asing berkantong tebal, kita orang Indonesia lah yang harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan mengabarkan keindahan Raja Ampat pada dunia luar.
Backpacking ke Raja Ampat bukanlah hal yang mustahil. Ternyata cukup dengan Rp. 10.000.000 dan kita sudah bisa mencapai surga dunia ini. Sudah termasuk ongkos tiket pulaung pergi lho. Dimulai dari Sorong sebagai pintu gerbang menuju Raja Ampat, kemudian naik kapal sewaan menuju Wayag atau Misool. Biaya transportasi dan biaya hidup yang cukup tinggi dapat disiasati dengan traveling berjamaah alias beramai-ramai. Biaya sewa kapal yang mencapai 7-10 jutaan bisa ditanggung bersama 10 sampai 15 orang travelmates, jadi terasa lebih ringan kan? Yuk ah siapa yang mau daftar jadi travelmatesku ke Raja Ampat?? Tahun depan insyaallah kita berangkat ya. 🙂
(sumber: www.indonesia.travel)
Sumber referensi:
Jangan Mati Dulu Sebelum ke Raja Ampat (Mayawati Nur Halim, 2014)
www.m.okezone.com/…/2014…/sby-hadiri-puncak-Sail-Raja-Ampat-2014/
www.gorajaampat.com/road-to-sail-raja-ampat
www.indonesia.travel/en/raja-ampat
www.tabloidjubi.wordpress.com/menjaga-potensi-laut-di-Raja-Ampat-dengan-kearifan-lokal
Assalamualaikum Sahabats 🙂

Gunung Geurutee biasa dijadikan sebagai rest area bagi orang-orang yang melakukan perjalanan ke Pantai Barat Aceh, tapi nggak jarang juga sih warga yang memang sengaja mampir kesini untuk menikmati pemandangan yang keren bingiittss. Seperti aku yang sore itu merengek (tepatnya sih memaksa) kakak iparku untuk membawa kami ke Gunung Geureutee hehehe. 😛
Sepanjang jalan menuju Geurutee banyak banget yang jualan durian. Kakak ipar dan abang sih girang banget, sedangkan aku bersembunyi di dalam mobil. Menolak keras untuk keluar saking nggak tahan dengan buah yang satu ini. Untunglah sebelum berangkat kakakku yang baik hati udah membekali aku dengan sekantung besar rambutan. Jadi tenanglah aku di dalam mobil sendirian. 😉
Kami sengaja datang sore hari ke Geurutee karena memang saat senja adalah saat terbaik untuk menikmati Geureutee. Waktu senja di Aceh berbeda lho dengan waktu senja di Jawa. Aceh yang berada di ujung Barat Indonesia waktunya sedikit lebih panjang dari Pulau jawa dan sebagian Sumatra meskipun masih termasuk dalam kawasan WIB (Waktu Indonesia Barat). Disini matahari kembali ke peraduan sekitar pukul 18.30, dan magrib sekitar pukul 19.00. jadi sebaiknya berangkatlah dari Banda Aceh selepas ashar, kira-kira pukul 16.30.
Di Puncak Gunung Geureutee banyak pondokan yang bisa kita pilih untuk duduk sejenak menikmati lukisan Allah yang Maha sempurna ini sambil nyeruput kopi Sanger (kopi Aceh). Badan jadi hangat, mata pun termanjakan oleh pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Dari Puncak Geureutee kita bisa melihat pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitar Banda Aceh. Birunya lautan berpadu dengan hijaunya pulau-pulau kecil dan bonusnya adalah langit senja yang jingga merona. Subhanallah, speechless kami dibuatnya. Sungguh sebuah mahakarya Sang Maestro. 😉
Pulaunya kecil dan hijau itu sepertinya sih tak berpenghuni. Pastinya bakalan lebih seru kalau bisa sekalian island hopping yah. Semoga Pemerintah daerah Aceh bisa segera melengkapi fasilitas wisata di Gunung Geurutee. Sayang rasanya keindahan yang luar biasa ini hanya bisa dinikmati dari jauh dan belum terlalu bisa dituai hasilnya oleh penduduk sekitar. Yakin banget kalau sudah ada paket wisata island hopping, area ini bakalan makin meriah deh. 😉
Nah sambil menunggu impian itu terealisasi kita nikmati aja dulu keindahan Puncak Geurutee yuk. Bersyukur dan bahagia banget terlahir di negeri surga seperti Indonesia ini. Thank you Allah. 🙂
Happy traveling guys 🙂
Tergila-gila akan keindahan pantai Indonesia. Yup .. that’s me. Entah karena aku ini titisan putri duyung nan cantik jelita #dilarangemosi atau karena kemilau birunya air laut yang diterpa sinar matahari memang selalu berhasil membuatku terpesona, yang jelas aku selalu rindu untuk kembali ke pantai. Beruntung aku tinggal di Indonesia, negara terbaik untuk menikmati eksotisme pantai tropis. 😉
Aku memulai jalan-jalan kali ini di sebuah kota yang terletak di ujung Pulau Jawa. Kota yang biasanya hanya dijadikan tempat persinggahan orang-orang yang hendak menyebrang ke Pulau Bali. Kota yang sering kali terlupakan, padahal memiliki keindahan alam yang luar biasa. Aku menemukan surga disini, di kota Banyuwangi.
Banyuwangi memiliki 3 Taman Nasional yang masih sangat alami dan luar biasa indahnya, Taman Nasioanl Alas Purwo, Taman Nasional Baluran, dan Taman Nasional Meru Betiri. Kali ini kami memutuskan untuk singgah di sebuah pantai yang masuk dalam area Taman Nasional Meru Betiri karena aku penasaran sekali ingin melihat sendiri keindahan Teluk Hijau. Sebuah Pantai berpasir putih dengan air yang hijau. Yup .. hijau bukan biru seperti umumnya pantai. 🙂
Keindahan Teluk Hijau bahkan sudah jadi bahan pembicaraan para traveler manca negara yang biasa menyebut lokasi ini dengan Green Bay. Saking terpesonanya mereka dengan Teluk Hijau, mereka mensejajarkan keindahannya dengan Phuket dan Phi Phi island di Thailand. Kalau buatku sih, Teluk Hijau masih jauh lebih cantik dan alami.
Setelah 8 jam perjalanan dari Sidoarjo kami langsung mengarahkan mobil pada tujuan utama hari itu. Teluk Hijau terletak di Kabupaten Banyuwangi, tepatnya di Desa Sarongan, kecamatan Pesanggrahan, Banyuwangi, Jawa Timur. Untuk menuju ke Teluk Hijau kami terpaksa menitipkan mobil pada seorang kawan untuk kemudian meneruskan perjalanan dengan motor. Jalanan yang sempit dan berbatu tak memungkinkan untuk dilewati mobil, sehingga satu-satunya alat transportasi yang memungkinkan hanyalah motor.
Perjuangan belum berhenti disitu saudara-saudara. Untuk mencapai Teluk Hijau, kami masih harus berjalan sekitar 1km melewati bukit dan hutan karena Teluk Hijau terletak di balik tebing. Jangan membayangkan jalan yang mulus beraspal. Sepanjang kaki melangkah kita akan melewati jalan setapak yang curam dan berbatu. Pemandangan yang akan kita nikmati adalah hutan dengan pepohonan besar dan rindang. Aku harus berkali-kali menyemangati Nadia yang mulai kelihatan lelah. Jangankan Nadia, kami yang dewasa aja ngos-ngosan menembus medan yang berat ini. Fyuuuhh…. #lapkeringet
Memang butuh perjuangan yang tak sedikit untuk mencapai Teluk Hijau, tapi bukankah untuk meraih sesuatu itu butuh perjuangan? Apalagi untuk menikmati sebuah lukisan Allah yang tanpa cela ini. It really worth fighting for. 🙂
Alhamdhulilah medan sulit pun terlewati setelah menemukan sebuah pantai yang penuh dengan batu. Penduduk setempat menyebutnya Pantai Batu. Di bibir pantai tidak nampak ada pasir hanya ada bebatuan. Aneh ya. 🙂 Katanya si pasir pantai ini tertutup bebatuan yang datang bersama gulungan Tsunami yang sempat mampir di lokasi ini tahun 1994. Nggak perlu berlama-lama disini, karena tujuan utama sudah menanti di balik bukit. Yuk.. mariiii…. 😉
“Subhanallah!” kata itu terucap berkali-kali dari mulutku sesaat setelah kami tiba di bibir Teluk Hijau. Rasanya aku tak bisa menemukan kata lain untuk mengungkapkan keindahan Teluk Hijau. Ini sih beneran surga! Lokasi pantai yang tersembunyi, membuatnya jarang terjamah manusia. Butiran pasir putih yang lembut berpadu air yang jernih kehijauan jika dilihat dari jauh. Hijaunya air di Teluk Hijau ini karena perairannya yang dangkal dan di dasarnya banyak terdapat ganggang (algae) yang memantulkan warna hijau. Sinar matahari di sore hari membuat hijaunya air makin berkilauan, persis seperti batu zamrud. Subhanallah … keren bangeett. 🙂
Lelah yang sejak tadi sudah menumpuk hilang seketika saat melihat lukisan alam yang sempurna ini. Pasir putih yang lembut, desiran angin pantai yang lembut membuat hati jadi adem dan ayem hehehe. Bukan cuma mata yang dimanjakan pemandangan luar biasa, telinga pun ikut menikmati musik dari laut. Aku selalu suka suara ombak yang pecah diantara karang-karang besar, rasanya alam sedang bernyanyi menyambut kedatangan kami. Lebay?? Biarlah… Siapa juga yang nggak terpesona melihat Pantai yang seindah ini? Suasana hati seketika berubah melankolis hehehe. 🙂
Gulungan ombak sudah melambai-lambai menyambut kedatangan kami dengan mesra. Segera setelah meletakkan barang bawaan kami, Aku dan Nadia segera berlarian menuju bibir Teluk Hijau untuk menyapa si cantik nan hijau berkilau diterpa sinar mentari sore. Waktunya main air… yaaayyy… 🙂
Hanya ada beberapa orang di Teluk Hijau sore itu, rasanya seperti bermain di Pantai pribadi. Mau jejingkrakan, teriak-teriak, main air, suka-suka hati lah pokoknya. Eh tapi ini pantai perawan jadi nggak ada yang menyewakan alat diving atau snorkeling, penjual makanan pun nggak ada. Cara terbaik untuk menikmati teluk Hijau ya dengan cara alami yang sederhana.
Duduk di bawah pohon sambil menikmati bekal yang sudah kita siapkan dari rumah sambil memandang ombak yang silih berganti menyapa bibir Teluk Hijau. Melepas lelah sembari menikmati bekal yang sudah aku siapkan dari rumah, snack ringan, mi instant dan beberapa kaleng Liang Teh Cap Panda untuk mengembalikan energy yang sudah terkuras seharian. Jangan sampai setelah liburan selesai kita jadi sakit cuma karena panas dalam, kan ada Liang Teh Cap Panda yang selalu berhasil mengusir panas dalam dan bikin badan kembali bugar. Cara yang sederhana tapi sempurna. 😉
Eits … setelah liburan dan jalan-jalannya usai, sampah-sampahnya jangan dibuang sembarangan. Jangan sampai keindahan Teluk Hijau memudar karena tangan-tangan manusia yang nggak bertanggung jawab. Kalau bukan kita sendiri yang menjaga keindahan alam Indonesia, siapa lagi? 😉
Tak perlu jauh-jauh pergi ke negeri orang untuk mencari surga, karena tanah tumpah darah kita adalah surga. Gunung dan Pantainya adalah lukisan kesempurnaan dan kebesaran Sang Maha Kuasa. 🙂
Happy traveling. 🙂
JANGAN MENINGGALKAN APAPUN KECUALI JEJAK
JANGAN MENGAMBIL APAPUN KECUALI FOTO
JANGAN MEMBUNUH APAPUN KECUALI WAKTU
Masjid Cheng Ho, Pandaan, didirikan oleh persatuan Muallaf Tionghoa Jawa Timur. Bangunannya merupakan perpaduan dari tiga kebudayaan, Arab, Jawa, dan China. Bagiku masjid ini adalah simbol dari bagaimana Islam menghargai dan memuliakan perbedaan. Islam tidak pernah memaksakan ajarannya. Ia melebur dalam kebudayaan manusia dan menyempurnakan kehidupan penganutnya.
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al Hujurat: 13)
“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer”
Salah satu kota tujuan wisata di Provinsi Jawa tengah yang saat ini sedang naik daun adalah kota Wonosobo. Kota kecil nan sejuk dan asri ini memang punya keindahan alam luar biasa. Wonosobo adalah tempat yang pas banget bagi kita yang sedang jenuh dan sumpek dengan hiruk pikuk kehidupan kota besar. Selain udaranya yang fresh dan adem, suasana kota yang tenang pasti bikin kita betah banget berlama-lama disini. 😉
Ngomongin soal tempat wisata andalan Wonosobo pasti semua udah pada ngerti dong. Selain Dieng Plateu yang terkenal itu, ada juga Candi Arjuna, Kawah Sikidang, dan Gunung Sindoro yang dari dulu pengen banget aku daki *eiitss malah curcol heheh. 😛 Yakin banget kalau keindahan Dieng pasti bikin banyak orang mupeng berat (*termasuk akuh) untuk selalu kembali dan kembali lagi ke Wonosobo.
Tapi udah pada tahu belum si kalau ternyata kuliner khas Wonosobo itu nggak kalah endess dengan pemandangannya? Beberapa makanan enak yang harus banget dicoba saat mampir ke Wonosobo adalah manisan buah Carica, kacang dieng, kripik jamur, dan jamu purwoceng yang cucok buat para lelaki. Dari semua daftar menu diatas, menurutku juaranya adalah … *drum roolll…… Mi Ongklok. 🙂
Waduh makanan apa pula itu? Nih ya aku kasih tahu buat yang belum kenal Mi Ongklok *kudet banget sih. 😛 Mi Ongklok adalah kuliner khas dan andalan Wonosobo. Mi Ongklok punya rasa dan penampakan yang beda dari mi lainnya. Selain rasa mi yang enak, kuahnya itu…nendaaang bangettt. Perpaduan gurih dan manis dari bumbu kacangnya itu nggak nemu deh dimana-mana. Nyeruput kuah mi ongklok panas yang gurih, dijamin bakalan bikin badan jadi hangat dan rasa dingin akibat suhu udara kota Wonosobo yang adem bakalan menyingkir seketika. 😉
Pertama kali denger judul makanan ini, yang kebayang adalah sajian mi yang biasa kita temukan di resto bertema Chinese food. Ternyata oh ternyata berbeda sekali saudara-saudara. Setelah mengadakan penyelidikan secara intensif dan mendalam #halaahh, nama Mi Ongklok diambil dari sebuah alat yang digunakan untuk merebus mi yang jadi bahan utama Mi Ongklok ini. Ongklok adalah sebuah keranjang kecil yang terbuat dari bamboo yang akan mempertemukan mi dan kuah untuk pertama kalinya hehehe.
Cara penyajiannya ini nih yang unik banget. Jadi pertama, Mi diletakkan di Ongklok dicampur dengan kol (kubis) dan rajangan daun kucai. Kedua jenis sayuran ini memang jadi komoditas andalan kota Wonosobo yang terletak di dataran tinggi. Setelah itu Mi dicelupkan kedalam kuah yang mendidih berulang-ulang. Nah proses mencelup inilah yang dalam bahasa Wonosobo disebut, di onglok-ongklok. 😉
Setelah prosesi pencelupan beres, mi bertekstur kenyal dan lumayan tebal ini diletakkan di mangkuk saji kemudian di guyur kuah panas. Nah kuahnya ini nih yang juara. Kuah Mi Ongklok punya rasa yang khas banget karena merupakan campuran dari kanji, gula merah, dan ebi. Kebayang kan rasanya gurih dan manisnya…. Hmm…. Slruuuupp. Terakhir taburan bawang goreng melengkapi kesempurnaan Mi Ongklok ini. And voila… jadilah Mi Ongklok. 🙂 Setelah semangkuk Mi Ongklok panas tersedia dengan cantiknya dihadapan kita, jangan langsung nyamber ya karena ada kejutan menanti. Eiits… kasih tahu nggak ya? hehehe….
Mi Ongklok ternyata punya pendamping setia yang nggak kalah endess nya, sate sapi. Yup.. semangkuk Mi Ongklok panas dengan lauk sate sapi yang legit, beeeuuuhhh… siapa yang sanggup nolak kalau udah begini?? 😉 Buat yang nggak doyan daging, jangan sedih. Masih ada pendamping lain yang nggak kalah serunya. Apalagi kalau bukan tempe kemul, atau tempe Mendoan bahasa kerennya. 😛 Oya..buat para penggila pedas, boleh juga Mi Ongkloknya dicemplungi cabe rawit biar makin nyooss hahahah. 😉
Sempuran banget deh rasanya, menikmati udara sejuk dan segar kota Wonosobo ditemanni semangkuk Mi Ongklok dan teman-teman. Saking enyaakknya nih, satu mangkok kok rasanya kurang gitu… (*doyan apa rakus sih??) Eh.. tapi ini dialami hampir semua penikmat Mi Ongklok lho. Saking nikmatnya, satu porsi Mi Ongklok rasanya nggak cukup. Belum lagi tempe kemulnya yang endang markondang, nyam…nyaamm…. Untuk sementara mari kita lupakan diet dan nikmati kuliner khas Wonosobo yang satu ini. 😉
Menu Mi Ongklok memang tersebar di seantero Wonosobo, tapi hanya dua Warung yang recommended banget, menurut penduduk setempat ya. Salah satunya tempat aku makan ini yang ternyata juga jadi Mi Ongklok favoritnya pak SBY lho. 😉 Silakan merapat ke Mie Ongklok Pak Muhadi yang terletak di jalan A. Yani atau Mie Ongklok Longkrang di jalan Pasukan Ronggolawe.
Kalau soal harga gimana? Macem-macem gitu pasti mahal deh. Nope… salah besar kalau berfikiran Mi Ongklok bakal bikin kantong kita bolong. Seporsi Mi Ongklok nggak nyampe Rp.10.000 lho, murah meriah tapi dijamin puas banget deh. 😉 Mau makan bermangkok-mangkok juga nggak bakalan tekor, paling ukuran celana aja yang rada melar. 😛
Pastinya sekarang udah nggak ragu lagi ya liburan ke Wonosobo. Udara yang fresh, kota yang tenang, tempat wisata indah dan makanan enak bertebaran. Ahhh indahnya dunia. 😉
Selamat ulang tahun untuk Kabupaten Wonosobo yang ke 189. Semoga dengan bertambahnya usia kearifan lokal akan selalu lestari dan terjaga. Satu harapanku bagi pemerintah daerah, penduduk setempat, dan semua pengunjung kota Wonosobo tercinta adalah selalu agar menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Happy birthday Wonosobo. 🙂
Postingan artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway #HariJadiWonosobo189
Punya waktu luang yang terbatas tapi tetep pengen punya quality time sama anak-anak? Pasti bosen dong ke mall lagi mall lagi. Bukannya quality time sama keluarga yang ada malah abis duit di dompet gegara tergoda diskon disana dan disini…. Ups … itu sih aku bangeeettt 🙁 Daripada bergalau-galau ria gimana kalo kita ke Perpustakaan? 😉
Whaatt?? Apa serunya perpustakaan? Cuma tumpukan buku usang yang bikin ngantuk! Eits.. jangan salah dan jangan sediihh ya… Perpustakaan ternyata bisa jadi tempat yang asyik lho untuk berkumpul bersama keluarga. Nggak percaya? Coba deh mampir ke Perpustakaan Wilayah kota Semarang (Perwil), ada pemandangan yang pasti bikin anak-anak kita betah dimari. 😉
Dari dulu aku selalu berharap ada di Indonesia ada perpustakaan yang friendly pada pengunjung anak-anak. Perpustakaan yang bisa jadi tempat mengasyikkan untuk anak-anak dan bikin betah, bukannya gedung tua yang horror seperti kebanyakan Perpustakaan di Indonesia. Dan ternyata di Semarang ada lho. Yaaayyy… 😉
Pagi itu selain dalam rangka mengenalkan perpustakaan pada Nadia, aku juga udah janjian dengan salah seorang emak blogger dari Semarang yang juga kakak kelas jaman kuliah di Undip dulu. Yup .. siapa lagi kalau bukan Mak Sari Kusumaningrum. 🙂 Dengan membawa buntutnya masing-masing, kami ketemuan di Perwil sambil bernostalgia ngalor ngidul. Maklum udah luaaammaaa banget nggak ketemu. 😉
Sebelum masuk ke area perpustakaan yang sesungguhnya, ada baiknya kita pemanasan dengan mengajak si kecil memasuki area Playground dari Perwil ini. Meskipun Playground ini terbuka untuk umum dan grateess, ternyata ruangannya nyaman dan bersih. Koleksi mainannya juga lengkap banget, mulai dari games di computer, perosotan, kolam bola,trampoline, lego, … you name it, you got it. 😉
Begitu masuk ke area Playground mata Nadia udah ijo aja heheheh. 😛 Nggak lama setelah kenalan, Nadia dan Hafidz udah langsung klik. 😉 Sementara si bocah sibuk menjajal beberapa games yang ada para emak udah langsung asyik merumpi. Capek ngegame, kami melipir ke area bermainnya. Selain permainan yang lengkap, pastinya ada koleksi buku anak dengan gambar dan warna yang menarik. Sambil main sesekali baca-baca majalah dan buku anak dong. 😉
Semakin anak-anak heboh dengan permainannya, si emaks pun ikutan heboh ngobrolnya. Sayangnya hari udah makin siang, Mak Sari yang belum sempet ngajakin Hafidz ke area perpustakaan udah harus pergi karena ada janji lainnya. But no worries .. rencana awal untuk membawa Nadia ke perpustakaan tetap terlaksa kok. Setelah Mak Sari pulang, kami langsung keatas.
Wah ternyata koleksi buku anak-anaknya lengkap juga lho. Rasanya pengen minjem banyak buku, sayangnya dalam sekali kunjungan hanya boleh meminjam dua buku. Oya buat yang domisili Semarang dan sekitarnya bisa bikin kartu anggota di Perwil. Tinggal bawa fotokopi KTP, mengisi formulir, foto di tempat yang sudah disediakan, dan voillaa…. Kartunya sudah siap dipakai. And the best part is, it’s free. 🙂 Untuk anak-anak dibolehkan membuat kartu anggota juga asalkan sudah berumur 6 tahun keatas.
Bikin kartu udah, pinjam buku udah, mainan juga udaahh, waktunya pulang. Ternyata liburan nggak harus selalu dihabiskan di mall, mengunjungi Perpustakaan pun juga nggak kalah asyik lho. Fun nya dapet dan pastinya ada ilmu yang bisa kita ajarkan pada anak. Mengenalkan buku dan perpustakaan pada anak sejak dini insyaallah akan membuat minat baca anak kita tinggi. Let’s go to the library. 🙂
Sewaktu kecil, aku punya kebisaaan unik. Aku suka sekali mengamati peta sambil membaca nama-nama negara yang tersebar di seantero dunia. Melihat kebiasaan unik itu, orangtua membelikan aku buku Altas dan ensiklopedi dunia. Menyusuri ribuan kota dan Pulau yang tersebar di Indonesia serta menjelajahi kota-kota dunia dengan jari-jemariku menjadi aktivitas favoritku. Kebiasaan itupun akhirnya memunculkan sebuah impian yang hingga saat ini masih tertancap kuat dalam hatiku. Mimpi mengelilingi negeri tercinta Indonesia dan dunia. 🙂
Aku terlahir dengan kaki gatal yang selalu merindu alam bebas. Sayang sekali rasanya hanya berdiam diri di rumah sedangkan alam yang penuh keindahan menanti kita diluar sana. Beruntung sekali aku terlahir di bumi Indonesia yang memiliki keindahan tiada bandingnya. Beberapa kota bahkan salah satu Pulau terluar Indonesia yaitu, Pulau Datuk yang terletak di Kalimantan Barat sudah pernah kusinggahi. Semakin jauh kaki ini melangkah, semakin besar pula kerinduan untuk menjelajahinya.
Impian menjelajahi nusantara dan dunia sempat terhenti karena kesibukanku mengejar karier. Tak lama setelah menyelesaikan pendidikan S2 aku mengajar di sebuah Universitas swasta di kota Semarang. Kesibukan mengajar dan tergopoh-gopoh menjalani Long Distance Marriage selama lebih dari 6 tahun sempat menyurutkan langkahku hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan dan menyusul suami ke kota Surabaya.
Terbiasa bekerja dan sibuk setiap harinya membuatku stress saat menghadapi kenyataan tentang statusku sebagai ibu rumah tangga. Dunia menjadi begitu sempit dan aku terkurung dalam rumah tanpa tahu harus melakukan apa. 🙁 Kekosongan jiwa yang sempat kualami itu kuisi dengan menulis dan traveling bersama keluarga ke beberapa kota di Jawa Timur. Perlahan semangatku kembali muncul. Sehabis traveling bersama keluarga aku menulis semua pengalaman yang kami lalui di blog pribadi, beberapa diantaranya bahkan sempat terbit di situs Wego Indonesia dan salah satu inflight magazine di Singapore.
Saat traveling bersama keluarga aku menemukan sensasi rasa yang berbeda. Solo traveling memang terasa lebih asyik dan seksi. Kita bisa menghabiskan waktu sebanyak mungkin untuk menjelajah sebanyak mungkin tempat, tapi berbeda halnya saat traveling bersama keluarga. Mengajak anak traveling memang membutuhkan persiapan lebih dan itulah yang membuatku merasa lebih tertantang. Bagaimana menyusun itinerary yang tidak memberatkan si anak namun tetap dapat memuaskan keinginanku untuk dapat berpetualang. Dari kebiasaan traveling bersama anak itulah, lahir ide untuk memberi nama blog pribadiku, Momtraveler. 🙂
Suatu hari saat sedang asyik browsing di dunia maya, aku berhasil mendapatkan tiket promo AirAsia ke Bali padahal saat itu sedang peak season karena libur lebaran. Rasanya seperti mendapat guyuran air es di siang hari yang terik. Satu minggu yang penuh kebahagiaan kami lalui di Bali berkat AirAsia. Sejak hari itu aku kian bersemangat berburu tiket promo AirAsia. Aku mengikuti semua social media AirAsia dan mendaftar sebagai member via email agar memudahkanku mendapatkan informasi mengenai tiket promo AirAsia.
Keberuntungan ini yang aku dapatkan ini menyadarkanku bahwa impianku masih sangat mungkin tercapai. Status sebagai ibu rumah tangga bukan menjadi halangan untukku menjelajah dunia. Aku memang tak punya uang berlebih apalagi kesempatan bepergian lewat biaya dinas, tapi bukan berarti impian traveling keliling dunia harus kandas kan? Dan disinilah AirAsia hadir menjembatani mimpiku yang hampir saja patah. 🙂
Meskipun harus begadang hingga tengah malam bahkan libur masak saking semangatnya, berburu tiket promo AirAsia menjadi hobi baruku. 😉 Jerih payah terbayar saat tiket promo ke Medan berhasil kami dapat tahun 2013 lalu. Siapa sangka kami akhirnya bisa menjejak ke Danau Toba, bahkan berlanjut hingga Banda Aceh dan Pulau Weh. Bangga sekali rasanya berdiri di titik km.0 Indonesia.
Di tahun yang sama kami kembali berhasil menggondol tiket promo menuju Belitung. Keindahan Pulang Sang Laskar Pelangi ini membuatku kian jatuh cinta pada Indonesia dan percya bahwa akan selalu ada jalan untuk mimpi-mimpiku. AirAsia berhasil mewujudkan mimpiku, bahkan dengan bonus kesempatan menjadi seorang travel blogger. 😉
Apa mungkin ibu rumah tangga biasa menjadi seorang travel blogger? Hey … bukankah tidak ada kata mustahil selama kita mau berusaha? Aku adalah bukti nyata siapapun berhak memilikin dan mewujudkan impiannya. Siapa yang menyangka aku yang beberapa tahun lalu tenggelam dalam rutinitas pekerjaan kantor dan rumah tangga kini telah berhasil menelurkan beberapa buku antologi dan sebuah buku perjalanan solo? Justru dengan menyandang gelar ibu rumah tangga aku tak perlu bersusah payah mengatur jatah cuti tahunan yang hanya secuil itu. Aku punya banyak waktu luang dan siap traveling kapan saja hehehe. 😉
Aku sadar betul kalau langkahku masih jauh dari para traveler lain yang sudah melanglang buana kesana kemari, tapi seperti kata Jason Mrazz; I won’t give up. 😛 Akan selalu ada seribu satu cara untukku meraih impianku. Aku masih bisa mengejar ketertinggalanku dari Teguh Sudarisman, bahkan Trinity *eeaaaa 😛 dan AirAsia ada disana untuk membantuku. 😉
Aku percaya betul dengan slogan AirAsia yang berbunyi, “Now Everyone Can Fly,” karena aku sudah membuktikannya. Bersama AirAsia aku dan keluarga berhasil mengunjungi tempat-tempat indah di Indonesia yang tadinya terasa sulit terjangkau.
Cita-citaku saat ini adalah mengajak anakku backpacking keluar negeri. Selain mengoleksi kenangan indah, aku ingin mengajarkan banyak hal pada anakku melalui kegiatan traveling. Aku ingin membuktikan bahwa traveling bukan hanya kegiatan yang menghamburkan uang, tapi banyak manfaat dan hikmah yang dapat diambil darinya.
Dari traveling kami belajar menjadi orangtua yang lebih baik, kami belajar mencintai alam dan Penciptanya, menghargai waktu, disiplin, dan menghormati perbedaan yang ada. Dari sebuah kegiatan yang menyenangkan banyak sekali pelajaran hidup yang bisa kita ajarkan pada anak-anak kita. Parenting by traveling, ternyata adalah cara efektif dan menyenangkan untuk mengajarkan banyak hal pada anak sekaligus mengeratkan kebersamaan kami sebagai keluarga.
Keindahan Indonesia memang serupa surga, namun banyak hal yang bisa kita pelajari dari negara lain. Semoga AirAsia dapat membantuku mewujudkan impian ini suatu hari nanti. Lebih baik lagi kalo bisa keluar negeri gratis karena kompetisi blog ini *eeehhh. 😛
Last but not least, aku ingin berterima kasih pada AirAsia yang sudah membantuku mewujudkan impian terbesarku. Selangkah demi selangkah kami pasti bisa mengelilingi dunia dan aku bisa menunjukkan kota-kota indah dunia pada anakku secara langsung. Pengalaman adalah guru terbaik dan pengalamanku bersama AirAsia mengajarkan bahwa semua orang berkesempatan untuk melihat keajaiban dunia. You better believe it. Now everyone can fly. 🙂
Ngomongin soal hobi pastilah semua pembaca postingan ini akan bersuara lantang dengan gegap gempita: TRAVELING!!! 🙂 Yup … traveling dan Momtraveler itu bagaikan bantal dan guling, minyak dan penggorengan, perangko dan amplop, apa lagi ya? Pokoknya tidak terpisahkan aka inseparable. 😉
Beruntungnya diriku yang berkaki gatal dan punya jiwa yang selalu merindu petualangan ditakdirkan lahir di bumi Indonesia yang luar biasa indah. Rasanya nggak betah berlama-lama di rumah, sementara ada pantai, gunung, sungai, danau, air terjun dan masih banyak lagi keajaiban alam yang menunggu untuk dijelajahi.
Hobi ini bukan mengikuti trend traveling yang memang lagi heboh beberapa tahun terakhir. Sejak kecil aku memang doyan jalan, mencari pengalaman dan petualangan baru di alam terbuka. Kecintaan pada dunia traveling semakin menjadi setelah aku bertemu dengan suami. Kata orang Jawa ibaratnya kami ini, tumbu ketemu tutup alias klop dan seiya sekata *eeaaa. 😛 Kebayang dong sepasang suami istri yang hobi jalan bakalan punya anak yang kaya gimana? Yup .. bener banget! Hobi traveling sukses menurun pada anak semata wayang kami. So here we are .. the three musketeers … seeking for an adventure in every corner of the world. 😉
Sebagai orangtua, kami menyadari betul nggak ada lagi kenyamanan solo traveling sejak lahirnya si kecil, syukurlah itu tidak menyurutkan semangat ngebolang kami. Pernah nyobain pergi sendiri or bareng suami dan ternyata something’s missing. Ngebolang tanpa Nadia rasanya nggak asyik. 🙁 Akhirnya kami sepakat untuk menjadi traveler family. Membawa serta Nadia dalam setiap petualangan dan berharap ada pelajaran berharga dan kenangan tak terlupakan yang akan selalu diingat Nadia hingga besar nanti. 🙂
Repotkah membawa anak kecil traveling? Pasti repotlah! Tapi keribetan itu nggak sebanding dengan kebahagiaan yang kami rasakan. Dalam setiap perjalanan kami belajar untuk saling menghargai, saling mencintai, saling membantu, dan pada akhirnya traveling berhasil mengokohkan kebersamaan kami sebagai keluarga. 🙂
“Besok kita kemana ma?” pertanyaan itu selalu terlontar dari Nadia setiap mendekati weekend.
Hampir setiap weekend kami memang merencanakan petualangan. Nggak perlu harus keluar Pulau atau bahkan keluar Negeri, banyak kok tempat asyik di sekitar kita yang seru untuk dijelajahi. Bagiku traveling itu nggak melulu membutuhkan budget yang besar. Cara ini juga terbukti sangat membantu kami yang punya kaki gatal tapi nggak punya budget besar untuk traveling terus-terusan hehehe. 😛
Kami membawa Nadia bertualang menyusuri birunya pantai, menapaki hijaunya perbukitan, mendaki gunung tertinggi, bahkan berkemah di alam terbuka. Semua itu demi menanamkan rasa cinta pada lingkungan dan mengenalkan kebesaran Allah dalam setiap mahluk ciptaan Nya pada Nadia.
Sebagai pelengkap kebahagiaan, setiap kisah yang terukir dalam petualangan kami, kuabadikan dalam blog ini. Harapannya tentu saja dapat memberikan informasi mengenai tempat-tempat indah yang telah kami singgahi pada pembaca dan menularkan semangat #travelingwithchildren pada orangtua lainnya. Blog ini pun telah sukses membantuku melahirkan sebuah buku yang mengabadikan perjalananku bersama kedua partner travelingku yang paling setia. Semoga buku-buku yang lainpun segera menyusul, amiinn. 😉
Satu hobi rupanya berhasil mengeratkan kebersamaan kami. Semoga kedepannya kian banyak tempat yang bisa kami jelajahi bersama. Hidup traveling. 😉
“3rd Giveaway : Tanakita – Hobi dan Keluarga”
Ketika bukti keagungan-Nya terpampang di ruang pandangku
Aku terpana,
Lidahku kelu!
Sedangkan beribu rasa ingin kuungkapkan,
Bahkan beragam asa telah kususun tuk kupintakan,
Dan tentu saja ingin kutumpahkan tak terkira rasa syukurku
Atas nikmat yang dilimpahkan-Nya padaku …
Namun … lidahku kelu …
Lalu akhirnya
Hanya aliran airmata bahagia yang mewakili semuanya
Tapi aku yakin,
Sang Maha Tahu pastilah memahami semua rasaku …
(Mechta Deera, 2014: 41)
Penggalan puisi di atas langsung mengena dihatiku. Terbayang sejuta kerinduan terhadap Baitullah tumpah ruah saat seluruh indera berhadapan langsung dengan kemegahannya. Betapa beruntungnya mereka yang mendapatkan undangan menjadi tamu agung di rumah Allah, dan betapa beruntungnya aku dapat membaca catatan perjalanan yang penuh dengan kenangan indah dan sarat makna yang dirangkai dengan indah oleh Mectha Deera sang penulis Notes from Mecca..
Butuh waktu cukup lama untukku menyelesaikan buku Notes from Mecca. Sebenernya bukunya nggak tebal tapi butuh perjuangan menyelesaikannya. Bukan karena isinya mboseni atau jelek tapi karena setiap membaca lembar demi lembar buku ini, airmata tak berhenti mengalir. Mewek.com 🙁
Buku perjalanan yang isinya nggak melulu tentang tempat-tempat indah di Arab Saudi tapi juga penuh dengan pengalaman pribadi sang penulis. Sejak memulai persiapan haji hingga menjalani ibadah itu sendiri, dituturkan dengan bahasa yang sederhana tapi indah. Rinci tapi sama sekali tak ada kesan menggurui. 🙂
Dilihat dari judulnya, buku pertama karya Mechta Deera ini pastilah berisi kenangan akan cerita perjalanannya menuju Baitullah. Tak seperti layaknya buku panduan haji pada umumnya yang hanya sekedar menuturkan rangkaian ibadah serta doa-doa yang lazim digunakan saat berhaji, penulis juga menuturkan pengalaman pribadinya saat menjadi tamu Allah. Berbagai catatan dan tips dituturkan dengan sangat manis. Dimulai dari persiapan sebelum keberangkatan haji, menjalani rangkaian ibadah haji dengan segala suka dukanya, dan beberapa cerita setelah mimpi usai dijalani. Pembaca, terutama yang belum pernah berhaji atau umrah seperti aku, dapat mengambil banyak hikmah dan ilmu yang akan sangat membantu untuk terus menyuburkan dan mewujudkan mimpi bertamu ke Baitullah.
Semua Muslim pasti ingin berhaji, tapi tak semuanya mempersiapkan perjalanan penting ini sejak dini. Beberapa orang hanya menggantung mimpi ke Baitullah tanpa pernah berusaha mewujudkannya. Penulis memulai langkahnya dengan niat yang kuat dan membuka tabungan haji. Bila niat sudah terucap maka insyaallah Allah yang akan mencukupinya. Tentu saja sabar tetap menjadi bekal terpenting dalam menjalani proses ini setahap demi setahap.
Tak hanya persiapan biaya, berhaji juga butuh persiapan hati dan komunikasi yang baik antar sesama keluarga. Penulis pun menuturkan pengalamannya agar mengkomunikasikan niat suci ini pada seluruh keluarga. Selain mengharap restu dan doa dari mereka, komunikasi dan informasi tambahan akan megurangi hal-hal buruk yang tidak kita inginkan.
Selain rangkaian ibadah haji yang dituturkan dengan rinci dalam buku ini, penulis juga tak lupa menceritakan pengalaman jalan-jalannya selama berada di Mekah dan Madinah. Selain mengunjungi beberapa masjid cantik, mbak Mechta juga sempat mencicipi susu unta fresh langsung dari peternakan unta. 😉 cerita perjalanan pastinya nggak seru tanpa foto ya dan buku ini pun dilengkapi dengan foto-foto koleksi pribadi sang penulis, sayangnya fotonya nggak berwarna. Aku cuma bisa membayangkan indahnya langit senja di atas Nabawi dengan bercucuran airmata mbak. 🙁
Awali dengan niat, usahakan yang terbaik, lalu serahkan semuanya pada Allah. Allah yang akan membukakan jalan bagi mimpi kita. Itulah yang hikmah yang kuambil dari buku ungu nan cantik ini. Doakan aku segera menyusulmu mbak. 🙂
Judul buku : Notes from Mecca
Penerbit : Sixmidad
Editor : Rudi G. Aswan
ISBN : 978-602-14595-2-2
Tahun terbit : 2014











































