Tumbu ketemu tutup. Sebuah paribahasa Jawa yang artinya kurang lebih dua orang yang bisa saling melengkapi dalam segala hal. Sebuah ungkapan yang rasanya pas banget bila disematkan pada kami berdua, pasangan suami istri yang berbagi hobby yang sama. Yes! Kami berdua memang hobby ngebolang alias traveling. Tak harus selalu menjelajahi tempat-tempat jauh nan eksotis, kemana pun tujuan kami, akan selalu ada pengalaman dan petualangan seru yang bisa mendekatkan dan menyatukan kami. Bukan hanya ingin bergegas sampai pada tempat tujuan, tapi kami menikmati setiap jengkal perjalanan yang kami lalui.
Pertama kali berkenalan dengan Garuda Indonesia adalah saat aku masih berumur 4 tahun. Itu adalah kali pertama aku naik pesawat dan salah satu pengalaman yang tidak terlupakan bagiku. Saat itu kami medapat sebuah kabar duka, kakek kami tercinta meninggal dunia di Jakarta dan kami pun harus segera tiba di Jakarta sebelum pemakaman beliau. Aku tak terlalu mengingat detail cerita mengenai pemakaman kakek, mungkin karena aku masih kecil dan belum terlalu memahami apa yang sedang terjadi. Satu hal yang kuingat selain wajah sedih kedua orangtuaku adalah pesawat terbang.
Sepertinya nggak perlu menjelaskan panjang lebar lagi mengenai hal yang satu ini. Momtraveler dan traveling adalah dua hal yang memang nggak terpisahkan. Seperti tanaman yang selalu membutuhkan sinar matahari dan air untuk bertumbuh, begitu pun aku dan hobI ku yang satu ini. Traveling adalah udara dan sinar mentari pagi yang selalu bisa membuatku tersenyum bahagia dan merasa bersemangat menjalani hari-hari. #uhuukk… 😛
Di sela kesibukanku sebagai seorang ibu dan dosen, traveling adalah sesuatu yang sangat aku tunggu-tunggu. Traveling bukan lagi sebuah kegiatan yang hanya kulakukan sesekali saat liburan tiba, sekarang traveling sudah menjadi kebutuhan tersendiri. Dengan segala keterbatasan, baik dari segi waktu maupun doku 😛 aku selalu punya cara agar selalu bisa traveling. Dan betapa beruntungnya aku karena terlahir di Indonesia dengan alam nggak ketulungan indahnya. 🙂
Ketika banyak dari kita merasa bangga berfoto dengan latar belakang Petronas, Tokyo Tower, atau Menara Eifel, aku merasakan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri saat berfoto dengan latar belakang alam Indonesia. Bukannya nggak pengen traveling keluar negeri, sebagai penggila traveling aku pun punya keinginan menjelajahi dunia, tapi sebagai warga negara yang baik aku merasa bertanggung jawab memperkenalkan kecantikan Indonesia pada mata dunia.
“Aaahh … so Indonesia is a city in Bali?” tanya seorang Canadian yang sempat kuajak ngobrol ketika aku berkesempatan traveling ke Vancouover.
Entah karena si bule ini yang kurang gaul atau memang Indonesia yang kalah pamor sama Bali, kalimat itu membuatku sedih. Sakitnya tuh disini #tepokjidat. Sejak itu aku bertekad bulat untuk bisa keliling Indonesia. Aku ingin jadi salah satu travel blogger yang nggak cuma nampang cantik di luar negeri, tapi bisa mengharumkan nama Indonesia. Amiiiinn….. 🙂
Bukan perkara mudah meraih cita-cita itu. Indonesia yang luar biasa luasnya harus dihadapkan dengan sempitnya kondisi dompetku. But giving up is not an option at all. Untunglah sekarang banyak promo tiket murah yang terbukti sangat membantu para traveler pas-pasan dengan impian besar sepertiku. Alhamdhulilah sudah beberapa kali berhasil menggondol tiket murah berkat Traveloka. Dengan banyaknya tawaran promo, seperti Happy Friday dan kemudahan bertransaksi, Traveloka selalu jadi andalankku setiap kali merencanakan traveling. Traveloka is indeed the best companion a traveler could ever wish for. 🙂
Banyak sekali destinasi impian di Indonesia yang belum aku kunjungi. Perjalananku di mulai dari ujung Barat Indonesia yang juga menjadi kampung halaman tercinta, Aceh, dan insyaallah akan berakhir di Ujung Timur suatu hari nanti. Beberapa tempat di Pulau Sumatra, Jawa, dan Kalimantan sudah aku datangi, dan masih ada satu bagian Indonesia yang belum terjelajahi olehku.
Mutiara yang terlupakan. Begitulah aku biasa menyebut Indonesia Timur. Keindahannya tak terbantahkan, namun masih sangat minim sentuhan. 🙁 Andaikan kaki ini bisa menjejak di wilayah Indonesia Timur aku akan merasa sangat bangga dan bahagia. Bangga karena bagi orang Aceh yang notabene berada di ujung Barat, bisa melangkah hingga Timur adalah sebuah pencapaian besar. Bisa nyampe Bali aja keren apalagi sampai ke Indonesia Timur?? 😛 Bahagia karena aku bisa menyaksikan lukisan alam yang milik Sang Maha Sempurna yang akan kubagi dengan semua pembaca setia blogku. #tsaaaahhh…..
Dari sekian banyak sempalan surga di Indonesia Timur aku ingin mengunjungi Manado. Aneh? Nggak juga ah, secara kita semua tahu keindahan kota ini dan pastinya aku punya alasan tersendiri mengapa Manado menjadi destinasi incaranku. 😉
Manado punya Taman Laut Bunaken, dan beberapa gugusan pulau kecil yang indah seperti Pulau Manado Tua dan Pulau Siladen. Ada pula Pantai Malalayang yang asyik dikunjungi saat senja, cocok banget untukku yang memang pengagum berat pantai. Aku juga ingin merasakan sejuknya Air Terjun Kima Atas dan segarnya air di Danau Tondano. Danau Tondano ini mirip seperti Danau Toba karena memang terjadi akibat letusan vulkanik. Kecantikannya? Pastilah nggak kalah dengan Danau Toba, meskipun namanya belum setenar Danau Toba. 🙁
photo by: gonjangganjing.com
Berhubung aku adalah traveler yang memang suka mengajak anak dalam setiap perjalananku, aku selalu punya misi yang ingin kusampaikan pada si kecil. Traveling itu nggak melulu bersenang-senang tapi selalu ada makna di balik perjalanan itu sendiri. Selain memperlihatkan keindahan alam aku ingin anakku memahami semboyan Indonesia. Bhineka Tunggal Ika. Kita hidup dalam negara yang penuh dengan keanekaragaman dan perbedaan, dan itulah yang membedakan kita dengan negara lainnya. Berbeda tetapi satu.
Manado adalah contoh yang cocok untuk mengajarkan kebersamaan dan kerukunan beragama pada anakku. Umat dari berbagai agama hidup berdampingan di Manado. Sesuai dengan semboyan kota ini, Torang Semua Basudara, yang memang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Keyakinan inilah yang menjadikan pemerintah mendirikan Bukit Kasih yang menjadi simbol kerukunan antar seluruh umat beragama. Berbeda itu indah, dan alangkah lebih indahnya bila kita saling menghargai perbedaan yang ada .
Traveling nggak lengkap rasanya tanpa belanja oleh-oleh ya. Sebenernya kalau boleh si ada satu yang ingin kubawa dari Manado; Tarsius. Yes!! Si imut dengan mata bulat menggemaskan ini adalah satwa khas Sulawesi Utara. Berhubung satwa ini dilindungi dan aku nggak mau kena masalah di Bandara, cukup puas lah kalau aku bisa memeluk si mungil dan berfoto dengannya. 😉
Pernah dengar kain Bantenan? Kain songket ini bukan berasal dari Banten, tapi dari Desa Bantenan di Sulawesi Utara dan menjadi souvenir khas yang sangat ingin kubawa pulang kalau aku ke Manado nanti. Indonesia itu nggak hanya kaya akan keindahan alam, tapi juga budaya. Jadi sebagai seorang travel blogger, aku pun ingin memperkenalkan cantiknya songket Bantenan ini ke seluruh dunia dong. 😉
Tempat seindah Manado tentulah akan makin sempurna dikunjungi bersama sang terkasih. Yup … dua partner ngebolangku yang paling setia, kalian lah yang akan menemaniku menyusuri keindahan Manado. Siapa bilang traveling itu cuma kegiatan para jombloers, ABG, atau orang kantoran??? Nope!! Even a mother and her baby can be a traveler. 🙂 Dan itulah yang membedakanku dengan para traveler lainnya. And I am really proud of it. 🙂
Assalamualaikum sahabats ….
Sudah lama bangeet ingin mengunjungi Museum Kereta Api Ambarawa dan selalu aja tertunda karena berbagai hal. Kebetulan Museum ini juga sedang dalam proses renovasinya yang cukup lama. Suatu hari pas balik dari kampus aku baca sebuah spanduk yang bertuliskan “Museum Kereta Api Ambarawa di buka untuk umum per 1 Oktober 2014” dan langsung deh menjadwalkan tepatnya sedikit memaksa abang untuk segera capcuss kesana. 😛
Kami memutuskan berangkat pagi-pagi untuk menghindari macet dan supaya bisa menikmati pemandangan di Jalan Tol Semarang – Ungaran yang ijo royo-royo. Buat yang belum pernah melewati jalan tol ini harus banget deh nyobain. Sementara ini satu-satunya jalan tol di Indonesia yang penuh kelokan, tanjakan, dan pemandangan yang hijau dan menyejukkan ya ada disini. 😉 Jalan tol ini juga membantu banget bagi kita yang ingin bepergian ke Solo dan Jogja dari Semarang yang selama bertahun-tahun terjebak kemacetan parah di daerah Ungaran.
Back to the topic, Museum Kereta Api berada di pusat kota Ambarawa jadi nggak sulit menemukannya. Tepatnya setelah Monumen Palagan Ambarawa, belok ke kiri. Ikuti jalan itu aja dan kita akan sampai. Kalau bingung, pasang aja GPS kalian, insyaallah nyampe juga. 🙂 Sekitar jam 9.00 kami sudah sampai di TKP dan ternyata sudah lumayan banyak pengunjung yang datang. Setelah membayar tiket masuknya, langsung deh kami masuk. 🙂
Aku sudah membayangkan akan ada kejutan spesial untuk Nadia, naik kereta api kuno sambil menikmati pemandangan hijaunya persawahan yang dibingkai oleh gagahnya gunung Telomoyo. Sejak aku kecil kereta api kuno ini memang melayani penumpang meskipun dengan jarak yang dekat tapi memang sensasi naik kereta api kuno beda banget dengan kereta api masa kini. Aku yakin pasti Nadia suka banget. Ternyata …..
“Keretanya sudah nggak beroperasi lagi mbak,” kata salah seorang petugas Museum.
Whaaattttt????? Dan penontonpun kuciwa beraattt!!! 🙁
Ternyata kebijakan terbaru dari Museum Kereta Api ini tidak lagi melayani penumpang seperti biasa. Kereta api ini hanya melayani sewa untuk rombongan, yang mana biayanya mencapai Rp. 5.000.000, an. Weleeehhh …… mihiil bingiitss ya. Untung aku belum bilang Nadia kalau kami akan naik kereta, jadi dia nggak merasa kecewa seperti aku. 🙁
Ya sudahlah, kalau memang nggak bisa naik kereta toh kita masih bisa menikmati Museum Kereta Api kan. Museum Kereta Api Ambarawa ini ternyata satu-satunya Museum Kereta Api di dunia yang punya koleksi kereta api cukup lengkap. Bayangkan … kereta api dari tahun 1600an masih tersimpan dan terawat baik di Museum ini.
Memasuki gedung Museum ini kita akan langsung merasakan nuansa jadulnya. Ya iyalah … secara bangunan ini di bangun pada tanggal 21 Mei 1873. Saat itu Raja Willem I memutuskan untuk membangun jalur kereta api di kawasan Ambarawa untuk mempermudah pengangkutan tentara, pasokan peralatan militer, dan bahan alam dari Semarang menuju ke kota-kota kecil di sekitarnya, termasuk Jogjakarta.
Bangunan stasiun kereta yang asli masiih dipertahankan, bahkan dengan detail. Ada jam dinding yang berumur sama dengan bangunan ini dan masih berfungsi dengan baik. Ada pula ruang tunggu stasiun lengkap dengan furniture kayu yang kuno dan cantik banget. Semua perlengkapan stasiun kereta api masih tersimpan dengan rapi di ruang pamer museum. Dari mulai mesin tik, mesin kasir, mesin pencetak tiket, bahkan topi para masinis dari berbagai era terdokumentasikan dengan baik. Suka deh sama Museum ini. 🙂
Setelah puas menikmati koleksi Museum di ruang pamer, Nadia sudah sibuk ngajakin kami menengok belasan kereta api yang berjajar di luar. Lokomotif pertama yang menarik perhatianku adalah lokomotif dengan nomor seri C 1240 karena bentuknya yang cukup unik dan berbeda dari lokomotof pada umumnya. Apabila bentuk lokomotif biasanya berbentuk kotak, maka lokomotif C 1240 ini berbentuk seperti tabung. Lokomotif ini dahulu berseri SS (Staatsspoorwegen) 400. Di desain oleh Hartmann Chemnits dan mulai beroperasi sejak tahun 1896. Kecepatan maksimal dari lokomotif ini adalah 55 km/jam dengan tenaga pada rel mencapai 350 kecepatan kuda. Panjang lokomotif mencapai 8.578 meter dengan lebar 2.450 meter. Dengan bentuknya yang unik dan kecepatannya yang tinggi, kereta ini mampu mengangkut balok-balok kayu dalam jumlah besar.
Ada pula lokomotif berseri C. 2821 atau SS (Staatsspoorwegen) 1300 yang dahulu berfungsi sebagai transportasi pengangkut bahan mentah dari beberapa perkebunan. Museum Kereta Api juga berhasil mendapatkan beberapa koleksi baru yang didatangkan dari beberapa tempat di Indonesia. Lokomotif diesel hidrolik D 300 23 yang berasal dari Cepu dan dipindahkan pada tahun 2010, ada pula lokomotif uap B 5112 yang merupakan buatan pabrik Hanomag yang berhasil dioperasikan kembali setelah 30 tahun. Selain itu lokomotif B 2502 dan B 2503 yang hingga saat ini masih aktif menjalankan perannya sebagai kereta api wisata, dengan rute Ambarawa – Tuntang.
Jadi semua kereta api kuno yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara memang dibawa ke Museum ini untuk dijadikan sebagai koleksi mereka. Bahkan negara yang pertama kali memproduksi kereta api seperti Belanda dan Swiss sudah tidak lagi memiliki kereta api uap ini lho. Mereka bersedia membayar mahal untuk bisa mengangkut kereta api ini kembali ke negara mereka, dan alhamdhulilah gagal. Salut deh buat pemerintah yang nggak terbuai dengan ratusan ribu Euro. So for those of you who are interested to see those trains … do not hesitate to visit Indonesia. We will welcome you with open arms. 🙂
Aahhh… bahagia deh bisa jalan-jalan ke Museum Kereta Api Ambarawa. Banyak sekali ilmu yang di dapat disini, selain tentunya bahagia karena bisa menghilangkan gatal di kaki karena udah lama nggak jalan hehehe. Semoga kedepannya, makin banyak Museum keren di Indonesia. Jalan-jalan ke Museum itu asyik lho. 🙂
Assalamualaikum sahabats 🙂
HELP!!! Aku sakau traveling!!
Ini bukan norak atau lebay tapi beneran deh aku lagi sakau traveling! 🙁 Secara udah lama bingiiiittsss nggak traveling dan mulai sumpek sama urusan pekerjaan. Kaki ini udah mulai gatel nggak ketulungan. Sebelum gatelnya menimbulkan komplikasi ke bagian tubuh yang lain, harus segera diobatin nih. Dan satu-satunya obat yang bisa membuatku sembuh dengan bahagia adalah traveling. 😉
Dengan waktu yang cuma weekend, akhirnya kami putuskan pergi ke tempat yang nggak terlalu jauh dan kami sepakat ke Jepara. Karimun Jawa???? Huhuhuh….. I wish. 🙁 Lagi-lagi karena terbatasnya waktu kami cuma bisa liburan di seputaran kota Jepara. Dan ternyata nggak mengecewakan lho. 🙂
Sabtu siang kami meluncur dari Semarang. Cita-cita kami mau menyambut senja di pantai Bandengan, Jepara. Sayangnya jalur Demak – Kudus macet luar biasa. Perjalanan yang harusnya cuma 2 jam molor jadi 5 jam, walhasil rencana merekam senja pun bubrah!! Hiks 🙁
Sampai Jepara, hari sudah gelap. Kami udah kelaperan dan abang juga capek banget, jadi kami langsung berburu pindang serani, masakan khas Jepara. Ceritanya tentang kuliner nan endes ini insyaallah akan dibahas dalam postingan berikutnya. 😉 Selesai makan kami muter keliling kota sebentar sambil mencari penginapan. Pilihan jatuh pada hotel Asia yang letaknya di kota Jepara. Tapi ternyata nggak recomended banget. Hotelnya kurang bersih dan nggak nyaman untuk istirahat. Sepertinya tengah malam buta ada balap motor ilegal (trek-trekan) tepat di jalan raya itu. Walhasil suara bising dari motor bikin kami nggak bisa tidur. 🙁
Esoknya paginya jam 06.00 kami langsung check out dari hotel. Tujuan utama adalah pantai Bandengan. Jaraknya dari kota cukup dekat, hanya 7 km. Mungkin karena hari Minggu, pantainya cukup ramai. Pantai Bandengan memang jadi primadona di Jepara dan untuk yang satu ini aku setuju banget. Pantai Bandengan punya fasilitas yang cukup lengkap dan yang paling bikin heppy tuh pantai ini bersih banget. 🙂
Liburan keluarga disini juga seru. Pasir pantainya putih bersih, airnya jernih, dan banyak aktivitas yang bisa kita lakukan disini. Harganya pun terjangkau sangat. Untuk anak-anak ada banyak pilihan aktivitas dan inilah yang bikin emak bahagia. Dari mulai snorkeling, banana boat, sampai floating ring (ban) untuk balita pun ada. Keinginan emak untuk traveling tersalurkan dan Nadia pun puas karena bisa main di pantai. 😉
Nah sebelum nyemplung di pantai Bandengan kami putuskan untuk island hopping sejenak. Mumpung masih pagi, pantai belum terlalu ramai, dan udara pun masih sejuk. Eh siapa bilang island hopping cuma bisa di Pulau-pulau yang jauh. Nih buktinya di Jepara juga bisa lho. Dari Pantai Bandengan kita bisa naik kapal dengan tujuan pulau Panjang. Per orangnya ditarik Rp. 15.000 aja. Perjalanannya juga nggak terlalu jauh, ya sekitar 30 menitan lah. Kapalnya tersedia dalam jumlah banyak, jadi kalaupun mau berlama-lama di Pulau Panjang kita selalu bisa naik kapal yang berikutnya. Tinggal bilang aja sama nakhodanya kalau kita akan bayar sejalan saja. Kalau tetepa mau menggunakan kapal yang sama bapak nakhoda dan para kru akan nungguin kita selama di Pulau. 😉
Pulau Panjang ini biasa dijadikan tujuan berkemah anak-anak pecinta alam atau para backpacker. Meskipun pulaunya tak berpenghuni tapi fasilitasnya cukup lengkap. Ada mushala, kamar mandi, dan kalau pagi ada pedangan yang menjual berbagai makanan. Jadi nggak perlu khawatir kelaperan kalau mau camping disini.
Musim kemarau panjang tahun ini membuat pepohonan yang ada di Pulau Panjang meranggas. Sepanjang mengelilingi pulau Panjang, hampir semua pohonnya kering. Di Pulau Panjang juga ada lokasi transplantasi karang lho. Menurut cerita salah seorang pedagang disini, transplantasi karang ini menjadi salah satu project dari mahasiswa kelautan Undip. Sip lah. Semoga proyeknya lancar, pantai pun terjaga kelestariannya.
Ombak hari itu cukup tinggi jadi kami cuma main di pinggiran aja, toh masih ada pantai Bandengan menanti di seberang sana. 😉 Setelah 1 jam an menjelajah Pulau Panjang, kami kembali ke Pantai Bandengan dengan kapal yang sama. Nadia langsung nodong mau menyewa kano kecil sambil main air di Pantai Bandengan. Oke deh whatever you want honey. 🙂
Hhhmmm…. memang asyik sih kalau traveling itu ke tempat yang jauh. Sejenak kita melupakan hiruk pikik dan kesibukan sehari-hari, menikmati waktu dan keindahan alam sepuasnya. Tapi kalau memang hanya ada waktu dan dana yang terbatas, bukan berarti nggak bisa traveling juga. Tinggal browsing aja lokasi terdekat yang asyik untuk dikunjungi. Jadi juga kok liburan yang seru. 🙂
Sebagian orang memilih traveling solo, ada pula yang suka traveling rame-rame bareng sahabat atau sama keluarga. Semuanya seru dengan caranya masing-masing. Tapi buatku liburan bareng kedua travelmates sejatiku ini nggak pernah membosankan. Sesederhana apapun liburan kami, sedekat apapun tujuan kami, selama bisa melihat dua travelmatesku tersenyum bahagia, aku pun bahagia. 🙂
One step at a time guys …. one step at a time. 🙂
Assalamualaikum sahabats 🙂
Festival Tentoonstelling atau dalam bahasa penduduk setempatnya, Festival Pasar Sentiling, akhir bulan lalu diadakan di kota Semarang. Festival yang bertempat di kota lama Semarang ini ternyata pernah diadakan seratus tahun yang lalu oleh pemerintah kolonial Belanda tepatnya pada tahun 1914. Dahulu Pameran ini diadakan dari dareah perbukitan kota semarang hingga kota Pelabuhan atau sekarang lebih dikenal dengan Kota Lama. Pemerintah belanda mengundang negara seperti China, Jepang, India, Perancis, Inggris, dan beberapa negara Eropa lainnya untuk menghadiri perhelatan ini. Festival ini diadakan untuk merayakan 100 tahun merdekanya Belanda dari penjajahan Perancis. Belanda ingin menunjuukan pencapaian dan keberhasilannya dalam mengelola daerah koloninya pada dunia.
Pengunjungnya juga lumayan banyak. Dari mulai bule sampai komunitas pecinta barang antik. Seru juga melihat barang-barang yang hampir terlupakan seperti mesin tik kuno, kamera, dan keramik khas Belanda juga China. Ada juga majalah edisi tahun 1970an, modelnya sekarang udah pada sepuh kali ya.
Selain itu, kami mampir ke paviliun De Vrouw yang berlokasi di Galeri Semarang. Sumpah deh bertahun-tahun tinggal di Semarang baru tahu ada museum di Kota Lama hehehe.
Museum ini mengambil tempat di sebuah gedung tua yang di renovasi menjadi sebuah galeri dengan berbagai koleksi. De Vrouw menampilkan sejarah Koloniale Tentoonstelling serta memaknai peran dan aktivitas para perempuan dalam konteks budaya pada masa kuno, kini dan nanti. Disini ditampilkan juga beberapa perempuan asal Semarang yang banyak berkontribusi bagi perkembangan Indoensia seeperti Nyonya Meneer, NH Dhini, Anne Avantie, Sri Mulyani, hingga Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, yang ibunya berasal dari Kota Semarang.
Ternyata Semarang pernah mengalami masa keemasan dan menjadi salah satu kota pelabuhan terpenting di dunia. Semoga Semarang bisa segera bangkit dan disejajarkan dengan ibukota lainnya. Hidup Semarang. 🙂
Assalamualaikum Sahabats 🙂
Sebagai kota yang menjadi pertemuan tiga etnis (Arab, Jawa, dan China), kota Semarang sarat akan bangunan bersejarah nan cantik jelita dan asyik banget untuk dijelajahi. Semarang memang belum seramai Bandung dan Surabaya tapi cocok juga lho dijadikan pelarian bersama keluarga saat weekend. 😉
Bagi kalian yang hobby kuliner dan pecinta wisata sejarah, Semarang is the perfect destination. Soal kuliner Semarang yang endess sudah pernah aku ulas disini ya. Boleh banget dijadiin referensi saat berburu kuliner khas Semarang.
Terus bangunan bersejarah apa aja yang bisa kita nikmati di Semarang? Gereja Blenduk? Lawang Sewu? Klenteng Sam Po Kong? Biasa banget nggak sih?! Gimana kalau sedikit melipir ke daerah atas Semarang dan sejenak singgah di Vihara Budhagaya. Vihara ini umurnya memang nggak setua Klenteng Sam Po Kong, lokasinya pun nggak terlalu luas, tapi asyik juga lho dikunjungi. Nggak percaya? Yuk sini aku kasih liat seperti apa merah meronanya Vihara Budhagaya ini.
Terletak di kawasan Watugong, tepatnya di jalan utama Semarang menuju kota Solo dan Jogja. Dari kejauhan kita sudah bisa melihat bangunannya yang berwarna merah dan memang cukup tinggi. Sengaja dibangun di tempat yang tinggi dengan Patung Dewi Kwan Im mengelilingi seluruh penjuru bangunan karena menurut kepercayaan penganut agama Budha, keberadaan Dewi Kwan Im ini akan menjaga kota Semarang dari berbagai arah mata angin.
Meskipun bangunan Vihara Budhagaya ini termasuk baru tapi ada pohon Bodhi yang sudah ditanam disini sejak tahun 1955. Pohon Bodhi memang erat dengan agama Budha karena di bawah pohon inilah sang Budha dahulu dilahirkan. Pohon Bodhi yang ada di Vihara ini sudah sangat besar dan rindang. Membuat suasana Vihara jadi sejuk dan asri. Ada banyak pita merah yang terikat di dahan pohonnya. Sepertinya pita ini berisi semacam jimat atau doa karena aku lihat ada nama-nama tertulis disitu. Mungkin semacam doa dan harapan yang digantungkan di pohon agar segera tercapai ya. 🙂
Masuk ke dalam Vihara ini free of charge lho alias gratis tis tis. 😉 Lokasinya juga relative sepi dibandingkan dengan Klenteng Sam Po Kong, jadi puas deh kalo mau selfie disini. 😛 bentuk bangunan viharanya juga cantik dan menjulang ke atas. Menikmatinya cukup dari luarnya aja yah, karena di area sembayangnya, tentu saja penganut agama lain nggak boleh masuk. Tapi masih bisa di foto kok dari luar. 🙂
Satu hal yang penting diingat saat mengunjungi vihara (dan semua tempat ibadah lainnya), pakailah baju yang pantas dan sopan. Perilaku juga dijaga ya, jangan teriak-teriak atau berkelakuan yang norak-norak bergembira ya. Ini semua tujuannya untuk menghormati ajaran agama dan penganutnya. Behave yourself and other people will respect you more.
Happy traveling guys.
“Macau? Mau ngapain ke Macau? Judi? Macau isinya paling cuma Casino, nggak banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Belum lagi cari makanan halal disana, pasti susah banget. Mendingan keliling China atau Eropa sekalian deh.”
Begitulah komentar salah seorang teman saat mendengar keinginanku traveling ke Macau. Sebagian orang memang masih beranggapan bahwa Macau itu tak lebih dari kota dengan casino betebaran dimana-mana. Kalau bukan pejudi mau ngapain di Macau? Pertanyaan semacam ini pasti muncul di kepala kita yang memang masih awam mengenai Macau. Untuk menjawab pertanyaan itu aku melakukan research kecil-kecilan melalui internet, dan terkuaklah sebuah fakta mencengangkan. #halaahh.. 😛
Why Macau??
Siapa sangka di sebuah kota administratif mungil yang berbatasan langsung dengan Hong Kong ini punya segudang tempat seru yang bisa dijelajahi dengan biaya miring? Bahkan traveler berbudget mepet seperti kita (eh aku ding) bisa banget menjelajahi Macau dalam waktu singkat dan modal yang super duper mepet. Nggak percaya? Yuk mareee sini merapat, I have a big secret to share. 😉
First of all, yang membuat Macau sangat menarik di mataku adalah bebas visa. Yup … nggak perlu keluar uang dan waktu untuk mengurus visa ke Macau. Cukup dengan visa Hongkong, kita sudah bisa melipir cantik ke kota yang mempesona ini. Second of all, banyak alat transportasi gratis yang amat sangat membantu perjalanan kita selama di Macau. Yup … gratis ..tis…tis…
Menjamurnya casino di Macau ternyata membawa keuntungan buat para traveler, pun yang tidak tertarik menghabiskan uang di meja casino. Mereka berlomba-lomba menawarkan shuttle bus gratis yang siap membawa traveler langsung ke casino dan hotel mereka yang ternyata bisa juga dimanfaatkan untuk mengunjungi tempat wisata favorit di Macau. Kuncinya cuma satu, cari tahu rute shuttle bus tersebut, jangan sampai salah naik ya hehehe. Nggak hanya transportasinya yang gratis, beberapa tempat wisata pun nggak mematok tarif masuk. Beberapa diantaranya akan dibahas lebih lanjut nanti. Traveling seru tapi irits? Gue bangeettss. 😛
Cari makanan halal susah di Macau? Meskipun belum banyak restoran berlabel halal bukan berarti nggak ada. The Venetian yang merupakan casino terbesar di dunia pun dilengkapi dengan beberapa cafetaria yang halal. Di Senado Square ada lho yang jualan Turkish ice cream, kebab juga ada. Nggak usah khawatir bakal kelaparan deh. 😛
And last but not least, mengunjungi Macau itu serasa separuh Benua Eropa terjelajahi tanpa harus meninggalkan Benua Asia, dan kearifan budaya Timur tetap akan kita temukan disana. Jadi ibarat kata sekali traveling dua benua (seakan) terlampaui. Gedung-gedung tua peninggalan Portugis bersanding mesra dengan kuil dan bangunan khas Cina. Proses akulturasi yang sempurna antara Timur dan Barat ini digambarkan dengan indah dalam situs lonelyplanet.com:
Lying 65km to the west of Hong Kong, Macau is a city of duality. Its fortresses, churches and the food of its former Portuguese colonial masters speak to a uniquely Mediterranean style on the China coast, intermixed with alleys, temples and shrines. On the other hand, it’s also the ‘Vegas of the East’ – the Special Administrative Region of Macau is the only place in China where gambling is legal.
What Can We Do in Macau?
Jadi apa sih tepatnya yang bisa kita lakukan di Macau selain berjudi? Banyaaak bangeeeett, tapi salah satu aktivitas yang aku idam-idamkan kalau sampai suatu hari nanti kesampean traveling ke Macau adalah heritage tracking. Yup …. Macau punya banyak banget gedung-gedung dengan arsitektur yang menawan. Perpaduan antara budaya Cina dan Portugis seolah ada dimanapun kita menginjakkan kaki di Macau ini. 🙂
Sebagai seorang pecinta gedung-gedung berarsitektur cantik, banyak banget tempat yang ingin aku datangi di Macau. Beberapa diantaranya adalah top destination di Macau lho, jadi boleh juga dijadikan referensi kalau kalian memang berencana traveling ke Macau. 😉
1. The Venetian Macau
First stop adalah The Venetian, sebuah kompleks resort dan casino terbesar di dunia. Bangunan ini terdiri dari 39 lantai dengan berbagai jenis permainan judi, persis seperti yang sering kita lihat film-film gitu deh. Eits .. jangan salah sangka dulu. Nggak semua pengunjung The Venetian Macau itu cuma mau berjudi. Banyak hal yang bisa kita lakukan, salah satunya bergondola ria di San Luca Canal. Yes … nggak perlu jauh-jauh ke Italy untuk naik Gondola, di Macau juga bisa. 😉
Mau ke Venetian Macau dengan gratis? Bisa banget dengan naik shuttle bus khusus yang memang disediakan pihak pengelola. Mau shopping di The Venetian juga bisa banget, karena tempat ini juga punya mall yang besar. Acara belanja pun bisa dengan HKD (Hong Kong Dollar) atau USD karena hampir semua toko menerima mata uang tersebut. Nggak perlu repot ke money changer kan. Praktis. 😉
Foto by: hotelclub.com
2. Senado Square
Satu lagi tujuan wisata wajib di Macau dan gratis; Senado Square. Senado Square adalah area terbuka, semacam alun-alun kota, dimana kita dapat menemukan bangunan-bangunan kuno cantik yang merupakan produk pertukaran budaya antara Timur dan Barat. Bangunan ini masih berdiri dengan kokoh dan cantik, bahkan menjadi salah satu tempat dimana warisan arsitektur Eropa terlengkap dan tertua yang masih terpelihara dengan baik di China.
Mengunjungi Senado Square rasanya seperti terlempar ke masa Renaisance dimana bangunan-bangunan cantik berjejer di sepanjang jalan. Seperti sedang menikmati kota-kota di benua Eropa namun masih berada di kawasan Asia. Traveler bisa lho sekalian mampir dan menikmati keindahan bangunan kuno tersebut lebih dekat. Menurut beberapa blog yang saya baca, Gereja St. Dominic, gereja Cathedral, GedungSanta Casa Da Misericordia, dan House of Mercy harus banget dikunjungi.
Shopping udah, sighseeing juga udah, waktunya makan. 😉 masih di seputaran Senado Square, ada sebuah bakery yang katanya kondang banget dengan egg tart nya. Pastelaria Koi Kei, sebuah bakery yang selalu penuh sesak dengan pengunjung yang berbagi incaran yang sama. Si egg tart yang lembut dan endang bambang itu. Duuhh.. liat fotonya aja udah bikin ngiler. Semoga aku bisa mencicipi egg tart ini segera. 😉
3. Ruin’s of Saint Paul
Mari kita lanjutkan perjalanan. Cukup dengan 15 menit berjalan kaki, sampailah kita di sebuah tempat yang menjadi icon Macau. Yup … Ruin’s of Saint Paul. Gereja yang di bangun tahun 1602 ini pernah terbakar hebat pada tahun 1835 sehingga hanya meninggalkan bagian depannya saja. Nah reruntuhan inilah yang kini justru menjelma menjadi pusat wisata Macau. Ruin’s of Saint Paul ini menjadi tempat wajib berselfie di Macau. Belum sah ke Macau kalau belum nampang cantik disini. Katanya sih waktu kunjung terbaik adalah saat senja atau malam hari. Saint Paul terlihat makin anggun dengan background langit senja. Beda lagi pemandangan Saint Paul di malam hari. Puluhan lampu di seputar Saint Paul yang mulai menyala di malam hari membuat pemandangan kian cantik. Di malam hari pengunjung juga sudah tidak seramai saat siang hari, jadi bisa lebih puas menikmati Saint Paul. 😉
The façade of the Ruins of St. Paul’s measures 23 metres across and 25.5 metres high and is divided into five levels. Following the classical concept of divine ascension, the orders on the façade on each horizontal level evolve from Ionic, Corinthian and Composite, from the base upward. The upper levels gradually narrow into a triangular pediment at the top, which symbolizes the ultimate state of divine ascension – the Holy Spirit. The façade is mannerist in style carrying some distinctively oriental decorative motifs. The sculptured motifs of the façade include biblical images, mythological representations, Chinese characters, Japanese chrysanthemums, a Portuguese ship, several nautical motifs, Chinese lions, bronze statues with images of the founding Jesuit saints of the Company of Jesus and other elements that integrate influences from Europe, China and other parts of Asia, in an overall composition that reflects a fusion of world, regional and local influences. Nowadays, the façade of the Ruins of St. Paul’s functions symbolically as an altar to the city. The baroque/mannerist design of this granite façade is unique in China (as noted in UNESCO’s Atlas mundial de la arquitectura barroca). The Ruins of St. Paul’s are one of the finest examples of Macao’s outstanding universal value.
http://www.macauheritage.net/en/HeritageInfo/HeritageContent.aspx?t=M&hid=43
4. Mount Fortress
Sebuah benteng yang berada di atas bukit. Dari satu kalimat itu saja aku sudah langsung bisa membayangkan sebuah gedung tua dengan beberapa meriam tua terpasang di setiap sudutnya. Benteng yang kini sudah dialihfungsikan menjadi tempat wisata ini sangat spesial. Dari gedung tua ini kita bisa menikmati Macau dari atas bukit, tanpa terhalang apapun. Semua sudut Makau terlihat dalam jangkauan bird eyes view. Mantab kan. 🙂
5. A Ma Temple dan Mandarin House
Merupakan kuil tertua di Macau yang di bangun untuk menghormati Dewi Matsu atau dewinya para pelaut. Ada banyak patung sang dewi Matsu, beberapa model kapal, meriam, dan pelataran doa untuk dewa-dewa lain menurut ajaran Budha.
Masih belum puas menikmati bangunan khas China, tinggal bergeser sedikit ke sebuah pemukiman kuno seluas 4.000 meter. Kompleks ini penuh dengan rumah-rumah China yang kuno dan cantik. Dan semuanya bisa dinikmati dengan gratis. Yaaayyy… Viva Macau. 🙂
6. Macau Tower
Salah satu dari sekian banyak tower keren yang ingin sekali aku kunjungi. Katanya disini bisa bungee jumping atau skywalking yang pastinya ngeri-ngeri sedap mengingat disinilah tempat bungee jumping tertinggi di dunia. Weeeewww…
Eh tapi kalau ternyata sampai Macau Tower dan nyali menciut cukup lah menikmati Macau dari observation deck. Untuk naik ke Macau Tower sayangnya nggak gratis, kita harus bayar 120 MOP tapi sepertinya worth it lah dengan pemandangan dan keseruan yang kita dapatkan. 😉
Macau is Waiting for Us!!!
Tuh kan bener?? Ke Macau itu bisa dan mungkin banget dilakukan dengan budget yang super duper irit dan tetep bisa menikmati banyak tempat wisata keren. Hanya dengan mengunjungi Macau kita sudah bisa merasakan atmosfer dan keindahan beberapa kota besar dunia. Ibarat kata nih, sekali traveling, dua tiga benua terlampaui. 😉
Takut nyasar karena nggak bisa bahasa China? No way!! Kunjungi saja tourism center yang terletak di pusat wisata Macau, semua informasi bahkan peta bisa di dapatkan dengan gratis. Macau pun dilengkapi dengan peta dan petunjuk jalan dalam dua bahasa, insyaallah nggak akan kesasar lah. 🙂 Masih mau cari informasi lebih detail tentang Macau? Langsung aja buka www.macautourism.gov.mo Semua info mengenai Macau ada disitu. Udah nggak ragu lagi kan liburan ke Macau? Yuk…… cuuuuuzzz… kita berangkat!!!!! 🙂










































