Teluk Hijau, Sepetak Surga di Kawasan Taman Nasional Merubetiri

Assalamualaikum Sahabats …

Masih melanjutkan oleh –oleh cerita dari Banyuwangi ya Sahabats. Setelah puas main di hutan De Djawatan, perjalanan kami berlanjut ke salah satu Taman Nasional yang ada di Banyuwangi; Taman Nasional Merubetiri (TNMB) yang secara defacto dimiliki Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Jember. Di dalam TNMB ini cukup banyak tempat wisatanya, salah satu yang paling ngehits adalah Teluk Hijau.

Mobil kami bergerak semakin menjauh dari pusat kota Banyuwangi. Semakin menjauh dari kota jalanan makin sepi dan jalanan aspal pun mulai menghilang berganti dengan jalanan tanah berbatu yang mengecil. Kali ini kami mengarah ke Taman Nasional Merubetiri. Medannya lumayan berat Sahabats, untungnya saat kami ke sana hujan belum turun jadi jalanan relatif bersahabat lah meskipun berasa juga gesekan antara ban mobil dan bebatuan.

pic from banyuwangibagus.com

Setelah perjalanan 1 jam lebih akhirnya kami ketemu juga sama gerbang Taman Nasioanl Merubetiri. Setiap tamu yang datang harus lapor karena memang TNMB ini luaas banget jangan sampe ada yang nggak bisa balik setelah jalan-jalan dari sini. FYI Sahabats, namanya juga Taman Nasional pastinya ada flora dan fauna yang dilindungi di sini, so jangan sembarangan petik bunga apalagi buang sampah ya.

Oya di TNMB ini juga ada penangkaran penyu, tepatnya di daerah Sukamade. Di Sukamade kita bisa langsung melepas para tukik untuk mengarungi samudera kehidupan eh samudera luas, tapi sayangnya kami belum sempat main ke sana. Satu alasan untuk bisa balik ke Banyuwangi. 🙂

All About Teluk Hijau

Dari pintu gerbang TNMB, perjalanan masih lanjut sekitar 30 menitan hingga akhirnya mobil kami menepi di Pantai Rajegwesi. Sekilas pandang beberapa mobil diparkir di pinggiran pantai, tempat yang sama juga berdiri beberapa warung dan toilet yang dikelola warga setempat. Di kawasan TNMB ini juga ada beberapa guest house dan homestay milik penduduk local yang mungkin bisa jadi jujukan Sahabats kalau kemari kelak.

perahu yang kai gunakan untuk menuju Teluk Hijau

Teman yang mengantarkan kami ke Teluk Hijau bercerita kita nggak akan menemukan hotel besar di kawasan wisata yang jauh dari kota Banyuwangi. Ini karena aturan pemerintah setempat yang mewajibkan hotel berbintang berdiri di pusat kota Banyuwangi, sedangkan homestay dan guest house bebas berdiri di seputaran tempat wisata. Tujuannya untuk pemerataan ekonomi. Keren banget nggak sih peraturannya pak Azwar Annas. Pantes aja ya sejak beliau jadi Bupati, Banyuwangi maju pesat.

Balik lagi yuk ke perjalanan menuju Green Bay alias Teluk Hijau. Pantai Rajegwesi adalah pintu terakhir menuju Teluk Hijau. Di pos Rajegwesi kita harus bayar HTM sebesar Rp. 7.500 dan biaya parkir mobil atau motor ya. Kita akan melanjutkan perjalanan dengan jalur air, tepatnya naik perahu, biayanya Rp. 35.000 PP. Sebenernya sih bisa juga tracking jalur kaki dengan jalan darat, tapi supaya lebih cepet kita naik perahu aja ya. Perjalanannya nggak terlalu jauh kok sekitar 45 menitan deh, tapi ombaknya cukup aduhai juga sih. Ngeri – ngeri gimana gitu rasanya.

Deg -degan juga bawa Keumala naik perahu untuk pertama kalinya, mana ombaknya lumayan gede pulak. Sedihnya lagi nggak tersedia pelampung untuk anak-anak. Mungkin bisa jadi masukan juga nih buat pelaku wisata. Mbok ya selain pelampung ukuran dewasa, disediakan pelampung untuk anak supaya para ortu nggak kuatir selama perjalanan.

Teluk Hijau ini berada di Desa Sarongan, Banyuwangi dan memang hanya ada dua cara untuk bisa menuju ke Teluk HIjau. Udah aku sebutkan tadi di atas ya Sahabats. Setelah berbasah – basah ria menembus ombak akhirnya kami mendarat juga di Teluk Hijau.

Seperti namanya, teluk hijau punya warna air yang kehijauan. Warna hijaunya makin berkilauan diterpa cahaya matahari, subhanallah cantiknya. Makin menjauh dari daratan airnya pun berubah jadi kebiruan. Kalau Sahabats bisa kebayang, di perairan Teluk Hijau kita akan menikmati 3 warna sekaligus, dari daratannya ada hamparan pasir putih yang lembut menyatu dengan air yang kehijauan dan makin menjauh dari daratan airnya berubah kebiruan. Entahlah bisa menemukan keindahan seperti ini dimana lagi. Masyaallah Tabarakallah.

Teluk Hijau nggak berpenghuni Sahabats, jadi kecantikannya masih terjaga banget. Pas kami datang hanya 2 orang di Teluk Hijau, jadi berasa pantai milik pribadi deh. Apalagi kami mendarat sekitar jam 2an, cahaya matahari mulai meredup, angin sepoi-sepoi membelai pipi, jadi langsung mapan deh guling – guling di atas pasirnya. Baby K sibuk ngubek –ubek pasir, kakak main air, emak menikmati pemandangan sambil main sama baby K, abang udah entah kemana cari spot foto. Semua orang punya kesibukan masing –masing.

asyiknya main pasir

Jalan sedikit menjauh dari Teluk Hijau, ada pantai Teluk Damai yang pemandangannya jauh beda sama Teluk Hijau, padahal kalau dipikir masih satu garis pantai. Jadi menurut cerita, tahun 1990an dulu pernah ada tsunami di daerah sini dan efeknya bebatuan dari dasar laut naik semua kepermukaan. Jadi di sini kita nggak akan menemukan pasir putih di bibir pantai kaya Teluk Hijau dan pantai pada umumnya. Uniknya bebatuan hitam dengan berbagai ukuran ini kayanya diatur dan ditata seseorang padahal enggak lho. So dua pemandangan luar biasa tersaji dihadapan dan semuanya luar biasa cantik.

No wonder ya Teluk Hijau ini jadi idolanya para turis bule. Mereka bisa berjemur berjam-jam di sini tanpa ada gangguan, mo renang pun bebas. Alhamdhulilah kami pun puas menikmati pemandangan Teluk Hijau yang cantik. Anak- anak baru kali ini bebas menikmati pantai bak pantai pribadi. Love banget deh sama Teluk Hijau. Makasih ya Allah. 🙂

payung bukan buat gegayaan tapi emang hujan 🙂

Pantai Pulau Merah

Perahu yang kami tumpangi mulai bergerak kembali ke arah Pantai Rajegwesi. Hari sudah mulai sore dan kami mau mengejar sunset di Pantai Pulau Merah. Sayangnya awan mendung mulai menggelayut manja. Sementara perahu berjuang melawan arus ombak yang kian tinggi dan ganas, gerimis mulai membasahi pipi. “Banyuwangi belum turun hujan sama sekali lho. Kalian datang kok langsung disambut hujan,” gurau mbak Elok teman yang mengantarkan kami plesiran di Banyuwangi.

Awan makin gelap dan bener aja, pas perahu kami mendarat di Pantai Rajegwesi hujan pertama di Banyuwangi akhirnya turun bersamaan dengan kandasnya cita cita kami menikmati sunset di Pantai Pulau Merah.

Untuk mengobati hati yang luka, kami tetap dibawa menuju Pantai Pulau Merah. Nggak terlalu jauh dari TNMB ternyata lokasinya, so deras hujannya pun sama. 30 an menit kami cuma bisa menatap nanar Pantai Pulau Merah yang sudah ada di hadapan mata tapi nggak bisa dinikmati sampai akhirnya hujan mulai reda dan menyisakan gerimis. Daripada menyesal kami nekad turun meskipun harus payungan.

senja yang tersisa

Pasir putih masih basah, awan masih gelap, tanpa adanya tanda-tanda pemandangan sunset yang kami harapkan. Akhirnya kami cuma bisa menikmati Pantai Pulau Merah sekilas dan ambil foto seadanya. 🙁

Dinamai Pantai Pulau Merah karena memiliki tanah berwarna merah dan akan makin bertambah merah ketika matahari mulai kembali keperaduan. Pantai Pulau Merah memang terkenal akan pemandangan sunsetnya yang juara dan kami harus kehilangan moment itu. Sediiihh bangeettsss….

FYI Sahabats, nggak jauh dari bibir pantai ada bukit kecil yang jadi landmark Pulau Merah ini. Katanya sih bisa didaki juga. Tapi memang daya tarik kedua setelah sunset adalah ombaknya yang juara bahkan bikin para surfer dunia cinta mati. Pantas saja pemerintah setempat mengadakan event surfing tahunan.

Perjalanan hari pertama di Banyuwangi berakhir dengan kurang menyenangkan karena hujan yang datang di saat kurang pas. Tapi aku nggak mau menyalahkan hujan, toh hujan pula yang ditunggu-tunggu setelah kemarau panjang tahun ini kan? Semoga hujan pertama di Banyuwangi membawa berkah untuk penduduknya dan kami juga. Lanjut postingan berikutnya ya. 🙂

10 Replies to “Teluk Hijau, Sepetak Surga di Kawasan Taman Nasional Merubetiri”

  1. banyuwangi makin kece abiz, ya, dulu hanya lewat pas mau ke bali, sekarang makin banyak tempat wisatanya, makin kece, jadi pengen ke sana ah pas liburan nanti

  2. Bagus banget ternyata ya Banyuwangi. Aku ke Banyuwangi numpang lewat doang. Kapan2 kudu mampir nih jelajah Banyuwangi.

  3. Ya Allah Pnatainya cakep banget sih itu..nggak tahan penegn ikutan lari-lari dna main air disitu..Bnayuwangi sekarang makin hits ya pasti…keren-keren…bikin kaki gatel mau jaln-jalan…

  4. Aduduuu..makin pengen ke Banyuwangi deh.. Ini kemarin Muna trip pribadi atau ikut tour travel? Asli kepengen deh ..

  5. Andai nggak hujan, asik juga ya main air. Keumala seneng banget ya ekspresinya kelihatan tuh kalo dia senang bisa main pasir sepuasnya

  6. MasyaAllah Banyuwangi cantik2 ya destinasi wisatanya, gimana kesan2 bawa anak2 selama roadtrip ditulis juga dong Mbaa… Ingin tahu kyk apa persiapannya

  7. Lama banget nggak mantai, lihat postingan ini jadi rindu pantai deh. Kayaknya perlu melipir dari keriuhan kerjaan nih

  8. Waaah baguuus bangeet pemandangannya. Pasirnya bersih.. seneng banget Keumala. Terus Aku galfok sama mbak Nadia.. udah remaja Aja. Tambah cantik semuanya. Secantik pantai yang dikunjungi.

  9. Jadi itu perahunya memang disewa secara private gitu ya Mun? Kirain harus rombongan banyak orang gitu.
    Senang sekali nih anak wedok diajak piknik keliling Banyuwangi yaa.. alamnya indah sekali.

  10. Asyik view-viewnya ni.
    Bakalan puas banget, hang out di sini, seseruan bareng keluarga.
    Anak-anak bakal susah diajak mentas main airnya.

Leave a Reply to Dani Ristyawati Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.