Masjid Raya Medan, Ketika Arsitektur Barat dan Timur Menyatu

Masjid Raya Medan, Ketika Arsitektur Barat dan Timur Menyatu

Salah satu tempat favoritku setiap kali mampir ke Medan adalah Masjid Agung Medan atau dikenal juga dengan Masjid Al Mashun. Selain lokasinya yang berada di pusat kota Medan, Masjid ini punya bentuk yang sangat unik dan cantik. Dan yang paling bikin jatuh hati adalah corak dan warna masjidnya yang biru lembut. Cantiik banget … kaya akyuhh. #dilemparbakiak πŸ˜›

20140806_165439
sebelum shalat kita foto dulu ah πŸ˜‰

Masjid kebanggaan orang Medan ini juga merupakan salah satu peninggalan Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam – penguasa ke 9 Kerajaan Melayu Deli yang berkuasa 1873 – 1924 . Masjid Raya Medan (Al- Mashun) sendiri didirikan pada 1906 pada tanah seluas 18.000m2, dengan kapasitas jamaah mencapai 1.500. Pertama kali dipakai pada Jum’at 25 Sya’ban 1329 H ( 10 September 1909). Sudah tua juga ya ternyata. πŸ˜‰

Masjid ini bertetangga dengan Istana Maimoon yang juga merupakan peninggalan Kesultanan Deli. Jaraknya kira-kira hanya 200an meter aja, jadi boleh juga sekalian mengunjungi Istana Maimoon selepas shalat di Masjid ini. Sultan Deli sengaja membangun masijdnya ini dengan megah dan mewah karena menurutnya lebih penting membangun rumah Allah yang megah ketimbang membesarkan istananya sendiri. Kapan ya kita punya pemimpin yang keren begini??

Masjid Raya Al Mashun ini di rancang oleh seorang arsitek yang berasal dari Belanda yang bernama Van Erp, tapi proses pengerjaannya diteruskan oleh JA Tingdeman. Jadi jangan heran kalau masjid ini kental sekali dengan gaya arsitektur Eropa, tentunya tanpa meninggalkan sentuhan Melayu. Masjid ini adalah perpaduan sempurna arsitektur Eropa, Timur Tengah, dan Melayu. πŸ™‚

aceh-2014-228

lampu hias di dalam masjid
lampu hias di dalam masjid

Banyak sekali bahan bangunan masjid ini yang memang didatangkan langsung dari luar negeri. Salah satunya adalah lampu gantung yang bikin aku keppincut sejak pertama kali mengunjungi masjid ini. Lampu gantung ini ternyata didatangkan langsung dari Perancis. πŸ™‚ Jendela yang mengelilingi pintu berandanya terbuat dari kayu dengan kaca peninggalan art nouveau yang dipadukan arsitektur khas Islam. Sedangkan kubah masjidnyamengikuti model kubah Masjid Turki. Setuju banget kalau arsitektur Masjid Al Mashun ini memang sangat unik dan cantik. πŸ™‚

Β Bangunan Masjid Al Mashun ini menurutku cukup unik karena bentuknya bukanlah segi empat seperti bangunan pada umumnya.Masjid ini berbentuk segi delapan dengan bentuk interior yang berbeda dengan masjid lainnya. Di Masjid ini juga tidak terdapat banyak ukiran kalilgrafi, sebagai penggantinya terdapat banyak ukiran bunga dan tanaman di beberapa bagian temboknya.

masjidnya memang nggak terlalu besar tapi nyaman dan cantik :)
masjidnya memang nggak terlalu besar tapi nyaman dan cantik πŸ™‚

 

DSC_0336-e1410844003444
tampak samping

 

20140806_164430-e1434848293356
tempat wudhu perempuan

 

Saat terbaik mengunjungi masjid ini adalah saat bulan Ramadhan. Masjid ini sangat hidup dan penuh dengan kegiatan setiap harinya. Kalau nggak sempat berkunjung di bulan Ramadhan, boleh juga datang di hari Jumat, sekalian shalat Jumat di masjid ini. Selain menikmati keindahan arsitektur masjid ini, kita juga bisa mengamati kesibukan warga Medan selepas shalat Jumat.

Indonesia memang sempurna ya. Nggak cuma keindahan alamnya aja yang luar biasa, Indonesia ternyata juga kaya akan bangunan bersejarah dengan aristektur yang memukau. Jadi makin semangat mewujudkan mimpi keliling Indonesia. Semoga tersampaikan. Amiin.
Happy traveling. πŸ™‚

al-mashun

Be Sociable, Share!

33 thoughts on “Masjid Raya Medan, Ketika Arsitektur Barat dan Timur Menyatu

  1. Beda sama Masjid Baiturrahman Aceh, di masjid ini peminta-mintanya cuma dikit. Mungkin karena ada Bapak-Bapak petugas “galak” di pintu masuk, hehehe.

    Saya pernah ngobrol sama pengurusnya, katanya dana pemeliharannya minim. Jadi ada beberapa kaca patri yang pecah belum diganti. πŸ™

  2. Cantik, Mun. Aku pernah shalat Ied di sini. Pegawai masjidnya pakai baju Melayu Deli semua hihi. Terus, aku ketemu juga sama Datuk, karib Sultan. Senang dan terharu. Ada aku tulis di blog ceritanya. Mudah-mudahan kita bisa ketemu shalat di sini bareng ya, Mun. πŸ™‚

  3. Bentuk bangunannya antara gaya arab berpadu dengan desain castle di Eropa ya Mbak Muna. Sungguh cantik. Ah semoga saya kapan2 pengen ke sini juga πŸ™‚

  4. Aku pernah ke masjid ini dan juga istananya. Tapi ngenes krn kurang dana utk pemeliharaannya jadi banyak yg rusak dan belum diganti. Dan gak bisa terlalu kinclong barangnya krn kurang perawatan.

  5. aih..,kangennya dengan mesjid ini. sempat bingung juga waktu Mbak Muna bilang Mesjid agung, karena kami bilangnya ini mesjid raya. Rumahku dulu dekat dengan meesjid ini loh. cuma sekitar 5 enit naik kendaraan πŸ™‚

  6. Masya Allah kaaaak, foto-fotonya cakep beneeeer.
    Aku belum pernah ke mesjid ini kak, walaupun udah pernah ke Medan beberapa kali πŸ˜€ Semogalah suatu saat nanti bisa ke sini

  7. Suka deh liat postingan yang ada foto2 masjid cantik2nya … terutama yang ada bloggernya juga di dalam foto, jadi tambah cantik fotonya πŸ˜‰

    1. wah sama kita mas, aku juga paling suka mampir ke masjid raya kalau pas traveling, biasanya didepan masjid ada alun2 dan di alun2 banyak makanan enak yg murmer. dapet semuanya πŸ˜‰

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *