Tradisi Lebaran di Aceh

Assalamualaikum Sahabats ….

Nggak berasa ya Sahabats kita sudah hampir memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Biasanya di masa-masa ini selain sibuk meningkatkan ibadah, kita juga mulai belanja baju baru buat lebaran, bebikinan kue untuk menyambut tamu yang datang silaturahmi, bahkan mulai bersiap pulang kampung. Memang nggak ada yang bisa mengalahkan suasana lebaran di kampung halaman. Syahdu, begitulah rasanya berlebaran di kampung halaman tercinta, bumi serambi Mekkah, Nanggroe Aceh Darussalam.

Suasana Ramadan tahun ini semuanya berubah ya Sahabats. Ramadhan di tengah pandemi covid 19 membuat kita kehilangan beberapa momen sakral seperti shalat tarawih berjamaah di masjid, tadarus bareng, bahkan mungkin nggak bisa lagi i’tikaf di malam -malam terakhir Ramadhan nanti. Tapi jangan sampai suasana yang haru biru ini bikin kita kehilangan inti dari bulan Ramadhan. Pintu masjid boleh saja ditutup tapi pintu maaf Allah selalu terbuka untuk kita. Semangat. 🙂

Anyway menjelang Idul Fitri apa saja yang sudah Sahabats siapkan? Kalau kami sih sudah mengikhlaskan rencana mudik ke Aceh. Berarti tahun ini masuk tahun ketiga kami nggak bisa pulang mudik. Sedih? banget. Bayangkan memendam rindu sama keluarga selama 3 tahun, tapi apa mau dikata hanya bisa berharap Covid 19 segera usai.

Sebagai pengobat rindu pada bumi serambi Mekkah di-postingan kali ini aku mau berbagi cerita tentang keseruan lebaran di Aceh. Sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh perayaan hari besar Islam amat sangat terasa di sana. Dimulai dari penyambutan akan datangnya bulan Ramadhan hingga persiapan lebaran semuanya dilandaskan oleh ajaran Islam. Aku share ya beberapa tradisi lebaran yang unik di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan tradisi lebaran di keluarga kami juga. 🙂

Meugang

Meugang (dibaca megang) adalah tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga, kerabat dan yatim piatu oleh masyarakat Aceh. Meugang atau Makmeugang adalah tradisi menyembelih kurban berupa kambing atau sapi yang dilaksanakan setahun tiga kali, yakni sehari sebelum Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Biasanya akan memasak daging di rumah, setelah itu dibawa ke masjid untuk makan bersama tetangga dan warga yang lain.

FYI ya Sahabats tradisi Meugang sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun yang lalu di Aceh. Meugang dimulai sejak masa Kerajaan Aceh di tahun 1607 – 1636. Kala itu Sultan Iskandar Muda  memotong hewan dalam jumlah banyak dan dagingnya dibagikan secara gratis kepada seluruh rakyatnya sebagai rasa syukur atas kemakmuran rakyatnya dan rasa terima kasih kepada rakyatnya. Hingga kini tradisi Meugang masih mengakar dalam kehidupan masyarakat Aceh, maka Meugang tetap dilaksanakan hingga saat ini dalam kondisi apapun, termasuk saat Covid 19 tentunya dengan protokol kesehatan yang sudah disiapkan pemerintah setempat.

Semua kalangan melakukan tradisi meugang ini sebagai ungkapan syukur pada Allah atas rejeki yang sudah didapatkan selama ini. Selain itu tradisi meugang juga menjadi simbol tanggung jawab seorang laki-laki sebagai pemimpin keluarga dan pencari nafkah utama. Membeli daging adalah perlambang seorang ayah mampu menafkahi keluarganya dengan baik.

Kami biasanya sampai di Aceh H-2 supaya bisa ikut tradisi Meugang di rumah. Biasanya kami akan kumpul di rumah mamak mertua dan masak di bagian belakang rumah. Ada semacam bale-bale tempat kami biasa kumpul sambil ngobrol dan kangen-kangenan sama kakak-kakak. Abang adalah anak ke 10 dari 10 bersaudara, dan biasanya kami yang rantau di Jawa atau kota lain di Aceh janjian untuk pulang bareng. Sahabats kebayang kan gimana ramenya rumah mamak saat lebaran tiba? 🙂

Membuat Kue Timphan Bersama Keluarga

Timphan adalah kue khas Aceh yang wajib ada saat perayaan Idul Fitri dan Idul Adha untuk disajikan pada tamu yang datang berkunjung. Saking spesialnya kue timphan ini, ada pepatah khas Aceh yang bisa menggambarkannya. “ìUroe goet buluen goet Timphan ma peugoet beumeuteme rasaî,” yang artinya, hari baik, bulan baik, Timphan buatan ibu harus dapat kurasakan.

photo from: national.tempo.co

Jadi selain masak-masak menu daging untuk tradisi meugang, dapur juga akan sibuk bebikinan Timphan. Timphan adalah makanan lembek berbalut daun pisang muda dengan berbagai isian. Salah satu yang paling terkenal adalah Timphan rasa srikaya. Pos aku dibagian mengisi timphan dan membungkusnya dengan daun pisang muda,0 tentunya sambil meng-update cerita dan gosip sama kakak dan ponakan tercinta.

Jak Bak Guree

Bagi orang Aceh, guru mengaji adalah salah satu orang yang paling dihormati dan akan selalu dikunjungi saat hari lebaran. Jak Bak Guree adalah tradisi berkunjung ke rumah guru mengaji dan sungkem pada beliau sembari tentunya berterima kasih atas ilmu yang telah diberikan. Dari mulai anak kecil hingga orangtua biasanya akan mengunjungi rumah sang guru segera setelah selesai shalat Ied.

Kebetulan guru mengaji abang ya ayahnya sendiri jadi kami nggak melakukan tradisi tersebut tapi banyak menerima tamu bahkan setelah ayah mertua nggak ada. Semasa hidup ayah mertua adalah Imam masjid di kampung dan sesuai adat setempat Imam Masjid adalah salah satu orang yang cukup dihormtai di desa. Alhamdhulilah bahkan setelah 12 tahun ayah meninggal masih banyak yang berkunjung dan silaturahmi ke rumah beliau. Allohummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu.

Takbiran di Meunasah

Tradisi ini hanya untuk para lelaki Sahabats. Pada malam lebaran mereka semua akan kumpul di meunasah (mushala) atau masjid untuk bertakbir. Sekarang ini pasca perjanjian damai di Aceh masyarakat mulai mengenal takbir keliling. Acara ini biasanya berakhir di warung kopi, tau kan kalau orang Aceh paling hobi ngopi-ngopi? 🙂

Piknik Keluarga

Nah kalau yang satu ini adalah kebiasaan keluarga kami sih. Setelah acara silaturahmi keluarga usai, biasanya hari lebaran ketiga kami akan piknik bareng. Dari kota Langsa (rumah mamak mertua) kami akan pergi ke Banda Aceh (12 jam peejalanan darat) sambil tentunya mampir ke beberapa kota yang kami lewati untuk wisata kuliner. Mobil kami udah kaya konvoi aja Sahabats, berjajar mungkin ada 10 mobil karena masing-masing keluarga bawa 1 mobil. Alhamdhulilah hampir semua keluarga di Aceh hobi jalan jadi selalu bahagia bisa jalan sama mereka. Kami yang dari jauh ini akan dibawa tur ke tempat-tempat wisata andalan Aceh.

foto sunset saat masih hamil baby K di pantai Lhok Nga

Sebagai menantu terakhir dan yang paling jauh aku merasa dimanjakan banget. Selalu aja apa yang aku request akan dipenuhi oleh kakak-kakak. Sejauh apapun mereka akan dengan senang hati mengantarkan kami jalan. Kalau aku sih selalu request yang nggak pernah jauh dari pantai karena pantai di Aceh cantik luar biasa.

Rencananya tahun ini kami semua mau menjelajah pulau Banyak di Aceh Selatan yang gosipnya nggak kalah cantik sama Belitung. We’ll see semoga Allah segera wujudkan rencana kami liburan ke sana.

Banyak cara dan tradisi unik di setiap kota untuk merayakan Idul Fitri dan itulah beberapa tradisi lebaran di Aceh yang sampai saat ini masih selalu dilaksanakan oleh masyarakatnya. Postingan ini asli bikin aku nostalgia dan jadi pengobat rindu kakak dan abang nun jauh di sana. Semoga Allah selalu menjaga kalian semuanya ya. Miss you all so much.

Sebelum aku berakhir mewek, boleh dong aku di share keseruan tradisi lebaran di kampung halaman Sahabats? Share di kolom komentar ya. 🙂

16 Replies to “Tradisi Lebaran di Aceh”

  1. Lulu Khodijah says: Reply

    Tiap daerah ada makanan khas sendiri ya. Baru tau akutuu yang dari Aceh. Kebanyakan keluargaku asli Jawa sih jadi kurang eksplore yg tempat lain. Yg sabar ya mbak semoga setelah pandemi ini ada kesempatan mudik dan jalan2 lagi dongg ke Aceh 🙂

  2. Kayaknya makanan khas lebaran di tempat suami kerupuk pasir 😐 tahun lalu ibu mertua malah cuek aja gak masak-masak. Yang masak-masak akhirnya saya. Tahun ini sudah rumah sendiri, dan tetap masak-masak. Gulai, opor, ketupat kayak sudah tradisi sejak kecil

  3. Tradisi di rumah sih hampir sama, kumpul, maaf-maafan, tapi sedih nggak bisa mudik ya, gpp deh diganti video call sementara dulu

  4. Aku selalu seneng baca2 tradisi lebaran di daerah lain, apalagi cerita soal makanannya…pingin deh suatu saat bisa ke sana pas lebaran

  5. Aku pernah dibawain Timphan pas temen kantor ada yang habis ke Aceh pulang kampung karena sepupunya nikah..enak banget…

    1. Serunya yang Punya kampung halaman.. aku kalau lebaran gini seringnya jaga Perumahan karena yang lain mudik.. aku Dan keluarga nggak mudik sendirian.. wkwk. Btw, eyang putriku dari bapak asli Aceh. Beberapa waktu lalu waktu ketemu saudara dari makassar, barulah aku ngeh kalau masih Punya saudara yang tinggal di Aceh. Semoga one day bisa berkunjung ke Serambi Mekah juga aaah. Aamiin.

  6. Sabar ya Mbak Muna, semoga sebentar lagi bisa pulkam melepas rindu pada orang-orang tersayang.

    Senang sekali masih ada tradisi yang menghormati Guru Ngaji/Imam Masjid dengan cara bersilaturahmi. Itu harus terus diturunkan pada generasi muda ya mbak.

    Penasaran sama rasanya kue Timphan nih, sepertinya enak dan legit 😊

  7. Timphan itu sejenis kyk lepet gitu bukan mb?pasti enak ya ada srikaya nya..scr srikaya di tempatku udh jarang. Unik ya tradisi Ramadan di Aceh

  8. Aah..makin ingin bisa ke Aceh dan melihat keindahannya dg mata kepalaku sendiri nih. Semoga ya..
    Kenangan Ramadan dan puasa di masa kecilku? Sdh kutuliskan di Lalang Ungu..hehe..

  9. saya termasuk orang yang suka msakan yang menggunakan rempah yg banyak kyk masakan Aceh, amboii,, lihatnya jd rindu masakan Lombok yang berempah juga. smoga pandemi ini segera berakhir biar kita bs mudik ktmu orangtua dn keluarga ya mba muna

  10. Biasanya sih mudik ke Solo . Yang paling dikangenin itu tape ketan dimakan sama emping hehe.. Enak banget apalagi memang ketannya bikin sendiri.

  11. Semangat ya Muna, semoga bisa segera mudik dan berkunjung ke kampung halaman..kangen tak terkira yaa..baca ini ikut pengen nangiiis..huhu..

  12. Masya Allah jadi ikutan mewek, teringat dengan kebiasaan keluarga suami kalo ngumpul di Semarang pasti bakal konvoi juga ke tempat wisata.

    Kalo lebaran hari pertama aku selalu ikut suami dan ibu mertua ke Boyolali. Rutinitas setiap hari pertama lebaran yang selalu aku nantikan. Speechless mengingat besok gak bakal bisa bertemu karena kondisinya berbeda. Semoga doa dan harapan baik yang selalu kita untai tiap abis shalat bisa terwujud

  13. Sejak kecil sampai sekarang ya aku tinggal di rumah orangtuaku nih. Di sini ya tradisi lebarannya kurang lebih sama lah ya. Ada sungkeman, silaturahmi, tapi kalau kayak meugangan gitu ga ada. Yang ada ya saling berkirim rantang gitu, nyicipin masakan antar tetangga. Tapi ga semua sih ngirim rantang gitu. Di RTku kayaknya ya cuma ibuku yang masih melakukan hal ini. 🙂

  14. Fitra Juwita says: Reply

    jadi tau istilah baru “mauegang” . sungguh bangga jadi rakyat indonesia sekaligus bersyukur tergabung dalam komunitas gandjelrel . ternyata kita adalah keluarga yang berasal dari berbagai suku , pelan pelan jadi banyak belajar dari istilah yang sering ditulis temen kita.. bener kan mbak?

  15. Aceh..tauku cuman mie aceh doang. Btw,di semarang ada ga sih restorab khusus masakan Aceh,mbak?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.